Wisatawawan Tiongkok sempat lengang di Kuta

posbali.id
Schoolies mulai memadati Kuta

MANGUPURA, POS BALI – Penurunan kunjungan wisatawan Cina Tiongkok ke Badung pada bulan Nopember 2018, ternyata dirasakan sangat drastis oleh ikon pariwisata Badung, yaitu Kuta. Dimana suasana Kuta yang biasanya dipadati wisatawan negeri Tiongkok tersebut, belakangan ini didakui sangat lengang dan bahkan jarang terlihat berkerumun seperti biasanya. “Mungkin itu terkait pengaruh sikap tegas masalah ‘jual murah pariwisata. Kondisi wisatawan Tiongkok sangat lengang dan itu tidak seperti biasanya. Kondisi lengang ini mungkin ada sejak sebulan lalu, memang agak lesu untuk Tiongkok,”ungkap Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista, Senin (3/12).

 

Sikap tegas pemerintah propinsi Bali, terhadap citra negatif pariwisata Bali kepada wisatawan. Yang disinyalir akibat paket ‘jual murah pariwisata Bali’, dinilainya ibarat 2 sisi mata pisau yang tajam. Di satu sisi sikap tersebut diyakininya akan membawa dampak kepada Bali menuju destinsi wisata yang lebih baik. Namun disisi lain, hal itu tidak dipunggkirinya membawa dampak yang signifikan bagi kunjungan wisatawan Tiongkok. Setiap pelanggaran dinilainya memang harus disikapi dengan penegakkan aturan, sehingga hal itu bisa menjadi efek jera demi perbaikan kedepan. Tapi kalau ditertibkan terlalu ekstrim, hal itu juga diyakininya tentu akan berdampak sangat drastis bagi obyek wisata. “Mungkin bisa ditertibkan secara bertahap dulu. Tapi diperlukan kembali pendekatan intensif agar tamu Tiongkok kembali booming datang ke Bali. Tentu pemerintah bisa membuat gebrakan-gebrakan itu. Misalnya, dengan adanya peluncuran kembang Api ditengah laut oleh Bupati Giri Prasta, tentu ini akan mengundang wisatawan. Ide inovatif ini sangat diperlukan, sehingga Bali kembali menarik,”jelasnya.

 

Kendati sempat lengang, namun kondisi tersebut berbalik berubah drastis sejak seminggu ini. Hal tersebut lantaran wisatawan Australia sekarang ini ramai yang datang, terkait hari Shoolies week. Yaitu liburan saat tradisi lulusan SMA di Australia yang memiliki liburan selama seminggu, setelah berakhirnya ujian akhir pada akhir November dan awal Desember. Hal tersebut membuat hunian hotel dan restoran, rata-rata kondisinya selalu ramai. “Kondisi ini sudah sejak 10 hari yang lalu mulai ramai, efektifnya terlihat sejak seminggu ini. Saat malam hari utamanya, Kuta¬† selalu penuh. Baru didepan rumah saja sudah sangat ramai dan padat,”beber pria yang memiliki rumah di jalan Raya Legian ini.

 

Jumlah wisatawan pemuda saat schoolies tahun ini diakuinya jumlahnya ribuan. Mereka datang secara bertahap, sesuai dengan agenda liburan sekolah mereka. Saat schoolies seperti saat ini diakuinya ini memang menjadi atensi pihaknya. Sebab biasanya saat ini remaja yang dulunya tidak tahu hiburan malam dan alkohol, mulai mengenal apa itu alkohol di Kuta. Karena saking bebasnya, hal itu bisa membuat mereka mabuk dan berpotensi menimbulkan gesekan perkelahian. Biasanyaa mereka berlibur paling tidak sampai tanggal 20, sebelum pulang ke negaranya merayakan natal. “Jadi kami sangat mengatensi masalah ini, sebab inienyangkut citea Bali. Kalau mereka merasa aman dan nyaman datang ke Bali, ini kan sama saja promosi gratis, apalagi Bali adalah rumah kedua bagi mereka. Kita senantiasa awasi pergerakan mereka bersama pihak kepolisian, memang sempat ada tiga kali gesekan. Itu kejadiannya akibat mabuk dan itupun dengan temannya sendiri dan bisa dijaga kondisinya,”jelasnya.

 

Selain pengamanan eksternal, diakuinya pihak konsulat Australia juga menempatkan semacam pengamanan internal. Dimana Konjen telah menitipkan lembaga Red frog untuk bisa mendirikan pos di ground zero. Tugas mereka adalah untuk mengawasi wisatawannya, bertindak sebagai mata dan telinga di tempat-tempat penginapan dan di jalanan, memberikan kehadiran rekan yang positif kepada para lulusan sekolah.

 

Sementara Ketua PHRI Badung yang sekaligus ketua BPPD Badung, IGN Surya Wijaya tidak memungkiri memang kondisi wisatawan Tiongkok relatif menurun di Bali, pada bulan Nopember dan Desember. Hal tersebut seiring dengan ketegasan sikap Gubernur Bali, untuk menertibkan beberapa usaha yang disinyalir bermain ‘nakal’, dalam menjual murah pariwisata Bali. Kendati demikian pihaknya meyakini tahun 2019 nanti wisatawan Cina dan Tiongkok akan booming berkunjung ke Bali, tentunya ia berharap yang berkualitas yang datang. “Kita sudah rapat dengan Konjen Tiongkok bahwa pada bulan Januari tahun 2019 akan mulai booming turis Tiongkok datang ke Bali, tapi yang berkualitas diharapkan. Sales mission yang diadakan pada bulan Desember ke negara Asia juga menegaskan, bahwa pemerintah Bali bersama-sama menjadikan destinasi Bali itj berkualitas. Kita ketahui memang potensi turis Tiongkok sangat luar biasa dan banyak middle up yang akan kita raih nantinya,”terang Surya Wijaya.

 

Hal senada juga diungkapkan oleh Kadisparda Badung, Made Badra yang menilai turunnya kunjungan wisatawan Cina Tiongkok ke Bali, merupakan imbas dari masalah yang terjadi belakangan ini. Namun diyakininya upaya pendekatan yang dilakukan Pemprop Bali bersama kedutaan Cina, akan membuat situasi tersebut semakin membaik. Dimana untuk negara Cina pendekatannya memang menggunakan pola G to G (goverment to goverment), karena negara tersebut merupakan negara sosialis komunis. “Jadi kalau pemerintah sudah melakukan pendekatan, tinggal industri dna stake holder nanti sifatnya mengikuti,”ujar Badra. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!