Wisatawan Diusir di Pantai Depan Hotel Grand Hyatt

posbali.id

NUSA DUA, POS BALI ONLINE – Wisatawan yang hendak bersantai di depan kawasan Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, dikabarkan diusir oleh oknum Scurity Hotel, Markus Wela. Hal tersebut heboh diperbincangkan di dunia maya, setelah pemilik akun bernama Anna Annabelle menerangkan kejadian yang dialaminya tersebut di jejaring sosial Face Book (FB).

Alhasil postingan pemilik akun tertanggal 20 Agustus lalu ini, mendapat reaksi keras dari masyarakat dan mereka menyayangkan hal tersebut. Ada sekitar 603 lebih komentar dengan 3.176 ribu lebih yang me-like kiriman tersebut. Bahkan, postingan dimaksud sudah disunting 3.176 lebih akun pribadi dan organisasi.

Dari penuturan yang diceritakan Anna di FB pada tanggal 16 Agustus 2016 pukul 13 30.Wita, ia bersama temannya dari Jakarta dan Lampung berjumlah empat orang berkunjung ke Nusa Dua. Semula ia berkunjung ke water blow dan dilanjutkan dengan menyisir pantai di depan Grand Hyatt. Namun yang bersangkutan beserta temannya malah diusir security hotel, karena temannya jongkok di kawasan pantai depan hotel. Temannya pada saat waktu itu sedang sakit perut karena nyeri menstruasi. “Dengan secepat kilat security Markus Wela yang bertugas di depan pantai mengusir teman saya agar pergi dari pantai, dengan alasan kawasan itu adalah milik hotel,”ujarnya dalam komentarnya.

Atas hal tersebut, dia juga menceritakan sempat bertanya apakah pantai ini milik Grand Hyatt? Dan, menjelaskan bahwa mereka tidak duduk, apalagi menyentuh properti yang disiapkan hotel untuk wisatawan bersantai. Namun security tersebut dengan lantang berbicara bahwa ia banyak bicara dan mengaku akan mengggampar mulutnya. Pihaknya mengaku tidak takut dengan ancaman tersebut, namun temannya mengajaknya untuk pergi dan agar tidak melanjutkan adu argumen yang percuma tersebut. “Saya tidak habis pikir, sejak kapan pantai di Bali dikuasai pihak hotel hanya karena membeli tanah di dekat pantai,” sebutnya.

Menariknya diceritakannya, ketika ia kembali lagi melewati kawasan pantai tersebut 30 menit berselang. Ternyata tak hanya orang lokal saja yang diusir, namun tamu luar juga diusir dari wilayah tersebut. Atas kejadian itu, ia berharap tidak ada lagi orang Bali, luar Bali atau luar negeri yang dilarang untuk menikmati keindahan alam. Ia merasa sungguh tidak adil jika untuk menikmati semua keindahan pantai harus didahului harus menjadi tamu hotel di wilayah tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Operasional ITDC, AA. Ngurah Wirawan tidak menampik hal itu. Namun ia mengaku belum bisa berkomentar banyak, lantaran masih menunggu penjelasan secara rinci dari pihak Grand Hyatt Hotel atas hal itu untuk mengetahui secara jelas duduk permasalahannya. “Mungkin saja itu akibat dari cara komunikasi pihak security yang salah menegur dan tidak diterima oleh wisatawan. Tapi itu perlu kita buktikan, lokasi mana dan seperti apa yang bersangkutan ditegur. Sebab memang ada beberapa lokasi pemesanan komersial yang kita kerjasamakan. Tapi pada intinya masyarakat tidak dilarang untuk memasuki pantai dan duduk, namun diatur lokasinya,”papar Wirawan dihubungi, Minggu (21/8) kemarin.

Nantinya klarifi kasi dari pihak Grand Hyatt akan menjadi bahan evaluasi ke depan bagi pihaknya dan hotel-hotel, terutama terkait evaluasi cara berkomunikasi security dengan wisatawan. Jangan sampai maksud yang disampaikan seolah tidak sesuai dengan yang dimengerti, hanya karena kesalahan berkomunikasi.

Sementara Public Relations Manager Grand Hyatt Bali, Bulan Bharata ketika dikonfi rmasi mengaku belum bisa mengabarkan apakah kejadian tersebut benar terjadi atau tidak. Sebab dia baru pulang usai liburan. “Besok akan saya cek dulu, kebetulan saya belum sempat tanya ke pihak security atau yang lain mengenai kejadian sebenarnya seperti apa,”ucap Bulan. 023

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *