Waspadai, Jebakan Politik “Kuda Troya” di Pilgub 2018

posbali.id

MATARAM, POS BALI ONLINE – Kontestasi Pilkada tidak lepas dari adanya permainan sejumlah oknum dan kelompok masyarakat yang menjanjikan para pasangan calon (paslon) akan memperoleh dukungan massa yang kuat. Padahal, faktanya hal tersebut hanya sebatas janji semu.

Kelompok Kajian Sosial Politik M-16 perlu mengingatkan para paslon dalam Pilkada NTB 2018 agar tidak mudah percaya dan terjebak akan politik kuda troya itu. “Kami pantau sudah banyak beberapa paslon yang terjebak permainan itu, setelah dicek justru dukungan itu hanya sebatas massa mengambang dan bukan riil,” ujar Dirut M-16, Bambang Mei Firnawanto dalam siaran tertulis yang diterima POS BALI, Minggu (5/11/2017).

Meski enggan menyebutkan siapa paslon yang kejebak dalam permainan itu. Namun Bambang mencontohkan, jenis permainanya politik ‘Kuda Troya’. Diantaranya, para paslon diterlenakan lewat pencitraan yg dikemas sedemikian rupa agar nampak kredibel dan terpercaya, meskipun tanpa parameter yang jelas.

Selanjutnya, taktik melepas ‘Kuda Troya’ ini dimaksudkan agar paslon yang bertarung dala Pilkada di NTB tidak fokus melakukan penetrasi di basis pemenangannya. Lantaran, sudah ada garansi secara sepihak dari tim sukses ataupun afiliasi politiknya.

“Ini jebakan yang secara sistematis menguntungkan paslon lain untuk makin intensif menguasai kantong kantong pemilih yg potensial,” kata Bambang.

Menurutnya, secara psikologis paslon akan mudah terlena dan menyakini hal tersebut , apalagi yang menyampaikan hal tersebut adalah orang kepercayaannya. Padahal, lingkaran terdekatnya itulah yang kerap menjadikan blunder pada paslon itu.
Apalagi, kata Bambang, jika proses rekruitmen tim inti tidak didasari oleh rekam jejak yang detail menyangkut kondite dan background politiknya.

“Rata-rata chemistri tim sukses dan paslon terjalin saat kepentingan momentum pilkada,” ungkapnya.
Politik Kuda Troya, lanjut dia, harus dimaknai sebagai kreasi politik yang memerlukan kerjasama dengan banyak pihak terkait yang tujuan akhirnya melemahkan kekuatan paslon tersebut dari dalam tim itu sendiri. “Ciri-ciri yang paling nampak adalah senantiasa memberikan pujian dan garansi dukungan di banyak kantong suara yg seolah olah sdh di penetrasi. Padahal, itu hanya klaim sepihak,” jalas Didu.

Ia mengingatkan, sejumlah paslon yang dianggap kuat dukungannya oleh publik. Diantaranya, Sukiman-Rumaksi (Sukma), Ahyar-Mori dan Suhaili-Amin sangat rentan di infiltrasi oleh pemain politik yang sebenarnya membawa misi dan kepentingan politik calon lain.”Tapi juga tidak boleh phobia terhadap para pendukung yang berperilaku aneh, cukup dikanalkan dan dimengerti maksudnya,” tandas Bambang Mei.

Sementara itu, Sekretaris M-16, Lalu Athari Fadlulah meminta para calon gubernur (Cagub) maupun calon bupati (Cabup) yang akan bertarung 2018 mendatang, harus mulai menyaring informasi maupun strategi untuk tidak di konsumsi secara publik dan hanya utuk internal tim intinya saja.
Untuk itu, ada baiknya para cagub dan cabup menjaring timses yang segaris dengab visi – misi bakal calon dan mengevaluasi sistim kerja timsesnya. “Ini penting agar tidak mudah terdeteksi oleh calon-calon lain, atau adanya kemungkinan penyusup yang sengaja di pasang oleh pesangan calon lain,” ujar Athar. 031

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!