Wanita Asal Sumba Korban Perdagangan Manusia, Diimingi Gaji Besar Ternyata Dijadikan Pekerja Seks

posbali.id

 

 

Kasus human trafficking kembali menelan korban. Seorang wanita yang menjadi korban perdagangan manusia asal Sumba Barat Daya, NTT berinisial LAK. Korban yang hanya tamat SD ini dimasukan oleh sebuah jaringan perdagangan manusia yang melibatkan beberapa pihak ke sebuah lokalisasi dan kafe di kawasan Lumintang Denpasar. Puluhan Satgas asal Flobamora berhasil mengevakuasi korban  dari perdagangan tersebut pada Senin (13/11) dinihari.

 

Ketua Satgas Flobamora Marthen Umbu menjelaskan, awalnya anggotanya mendapatkan informasi dari keluarga bahwa korban dimasukan ke sebuah kafe dan tempat esek-esek. Informasi tersebut diteruskan ke Sekretariat Flobamora dan akhirnya diputuskan untuk melakukan evakuasi secara baik-baik wanita asal Sumba ini. “Tim Satgas akhirnya mendatangi lokalisasi, menemui korban, menemui pemilik blok bernama Ketut, menemui mami bernama Arini dan seterusnya. Kami sampaikan bahwa kami datang untuk menjemput LAK secara baik-baik. Kami harapkan kerja samanya. Namun kalau tidak mau kooperatif, kami tidak tahu lagi apa yang terjadi,” ujarnya Senin (13/11).

 

Usai dievakuasi, Tim Satgas Flobamora membawa korban LAK ke Sekretariat Flobamora di Jalan Plawa 79 Denpasar. Kepada tim pendampingan, korban menceritakan bahwa awalnya dirinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Monang-Maning Denpasar selama 8 bulan. Dalam rentang waktu itu, korban bertemu dengan seorang pria bernama Nur, saat mengantarkan anak majikannya ke sebuah TK di kawasan Monang-Maning Denpasar. Pertemuan dengan Nur ini terus berlanjut dan komunikasinya keduanya dilakukan saat bertemu mengantarkan anak majikannya. “Dari Nur saya diminta untuk bekerja di sebuah katering dengan gaji yang besar. Karena dibilang gaji besar saya mau. Kemudian Nur menjemput saya lalu diantar ke sebuah katering. Ternyata tiga hari kemudian katering itu ditutup,” ujarnya dengan sedih.

 

Setelah katering ditutup ada seorang bernama Ahmad menawarkan pekerjaan katanya gajinya perhari Rp 70 ribu. “Karena tidak tahu tentang Bali, tidak tahu hubungi keluarga, saya dijemput Ahmad, diantar ke Lumintang, bekerja disini,” ujarnya.

 

Awalnya, korban tidak curiga karena saat diantar ke Lumintang, korban diterima oleh Mami Arini. Saat itu korban melihat sendiri jika Ahmad menerima sejumlah uang dari Arini karena pembayarannya dilakukan di depannya. “Saya lihat sendiri Ahmad terima uang, tetapi saya tidak tahu jumlahnya berapa,” ujarnya.

 

Di bloknya Arini, korban diberi satu kamar tersendiri. Saat dirinya masuk kamar, Arini meminta HP-nya. Ia dilarang keluar dari blok, dilarang berhubungan dengan orang luar. Ia baru sadar saat pertama kali disuruh menemani tamu sampai mabuk, dan dipaksa melayani tamu dalam kamarnya sendiri. “Saya maunya lari, tapi tiap hari dijaga preman dan Mami Arini. Saya tidak hafal Kota Denpasar. HP disita. Uang juga disita. Pertamu hanya dikasi uang Rp 100 ribu lalu dipotong Rp 30 ribu untuk disetor ke Mami Arini,” ujarnya.

 

Ia mengaku, jika masih ada dua orang dari Sumba yang mengalami nasib yang sama tetapi mereka tinggal di blok berbeda. Mereka hanya sekali bertemu sehingga saling kenal karena berasal dari satu daerah. Dirinya baru berada di dunia itu kurang lebih selama satu bulan.

 

Ketua Paguyuban Flobamora Yosep Yulius Diaz menjelaskan, kasus perdagangan manusia terus terjadi di Bali dan yang menjadi korbannya adalah orang NTT yang berpendidikan rendah. “Berkali-kali kami menyelamatkan anak-anak tak berdosa dan lugu. Modusnya sama persis. Dibujuk rayu, diiming-imingi gaji besar, ternyataa dibohongi dan dijadikan pekerja seks. Ini sudah menyangkut harkat dan martabat orang NTT di Bali,” ujarnya.

 

Bersama Badan Hukum dan Ham Flobamora, pihaknya akan melaporkan kasus tersebut ke polisi agar seluruh pihak terkait diproses secara hukum. Selain itu, pihak akan bersurat ke seluruh bupati di NTT, agar menertibkan warganya yang keluar daerah supaya jelas kemana, bekerja apa, alamatnya dimana, direkrut siapa dan seterusnya. Kasus serupa sudah sangat banyak. Jumlahnya ratusan, tetapi tidak terendus media dan penegak hukum. sin

 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!