Wabup Suiasa paparkan Gerakan Semesta Terpadu dan Terintegrasi, perangi narkoba dan HIV Aids

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Sebagai kawasan pariwisata internasional, Kabupaten Badung tidak dipungkiri sangatlah rawan terimbas dampak negatif perkembangan pariwisata. Dimana Narkoba dan HIV Aids adalah dua ancaman yang sangat serius dan saling terkait, serta ranahnya sudah merasuk ke segala sektor maupun komunitas. Hal tersebut juga dipicu zaman globalisasi, sehingga masyarakat mudah bergaul dengan wisatawan internasional, sehingga heterogenitas yang sangat masif membuat dampak negatif tersebut berkembang sangat pesat. “Ini merupakan tantangan sekaligus ancaman serius yang menjadi penyakit di kabupaten Badung. Dua tahun belakangan ini kita terus atensi ini,”ujar Wakil Bupati Badung, Ketut Suiasa saat menjadi narasumber Rapat Kerja dalam rangka sinergi program Pemberdayaan Alternatif pada kawasan rawan dan Rentan narkoba Provinsi Bali di Hotel Aston Kuta, Kamis (19/04).

 

Pada umumnya kasus tersebut rentan terjadi di kawasan atau sentra pariwisata, yang memiliki dinamika sosial yang kompleks dan heterogen, seperti Kuta. Namun saat ini kondisinya malah jauh berbeda, dimana permasalahan narkoba kini justru relatif banyak ditemukan di kawasan pelosok pedesaan. Dimana peredaran barang terlarang tersebut sulit diketahui dan sulit dideteksi adanya, namun hampir seluruh komunitas masyarakat bisa tersentuh penyakit tersebut. “Masalah ini bisa dicegah, jika terbangun kesadaran kolektif masing-masing. Jika tidak, maka apapun yang kita lakukan akan percuma. Maka dari itu kita di Badung menjalankan Gerakan Semesta Terpadu dan Terintegrasi. Kesemestaan itu menjadi penting sebab gerakan itu tidak bisa dibangun oleh satu pihak semata,”paparnya.

 

Komitmen pemerintah kabupaten Badung diakuinya sangat tegas dan kuat, untuk mengentaskan kedua permasalahan sosial tersebut. Dimana keterintegrasian penanganan tersebut diterapkan, untuk mencegah timbulnya ketimpang tindihan kebijakan, yang bisa menghambat efektifitas dan produktifitas pengentasan masalah tersebut. Yang mana kesemestaan tersebut dilaksanakan dengan melakukan kegiatan antar lintas, antar sektor dan terintegrasi baik secara vertikal maupun horisontal. “Konsepsi gerakan terintergrasi kesemestaan antar lintas dan sektor ini kami mulai dari sektor pendidikan. Kebijakan ini kami masukan ke sekolah-sekolah di Badung, yang dimasukkan ke dalam ekstra kurikuler dan intra kurikuler,”sebutnya.

 

Untuk kegiatan intrakurikuler, pihaknya telah bersurat kepada seluruh sekolah di Kabupaten Badung. Untuk menerapkan kurikulum terintegrasi, dalam hal penanganan dan pencegahan Narkoba dan HIV Aids. Hal tersebut bisa disisipkan ke dalam salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada anak didiknya atau bisa dijadikan sebagai suatu materi dalam muatan lokal yang diajarkan. Sedangkan untuk ekstrakurikuler, pihaknya mendorong terbentuknya Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba (KSPAN). “Di Kabupaten Badung sendiri telah terbentuk sebanyak 20 KSPAN untuk SMP, 17 itu di SMP Negeri dan 3 SMP swasta. Sementara untuk SMA/SMK itu jumlahnya 15 KSPAN, yaitu 10 di SMA/SMK Negeri dan 5 SMA/SMK swasta,”ucapnya.

 

Pembentukan KSPAN tersebut diakuinya sifatnya sangatlah sistematis, masif dan terstsruktur, dalam melakukan kegiatan penanganan pencegahan Narkoba dan Aids. Hal tersebut bukan hanya dilakukan untuk diriya sendiri, namun tiap tahunnya mereka mampu mencetak kader baru, yang nantinya dijadikan Duta Napza (Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya). Dimana pola yang mereka pakai adalah Pola Ketok Tular 1:10, yaitu 1 orang kader yang dicetak, harus bisa berkomunikasi, mempengaruhi mensosialisasikan, memotivasi, minimal 10 orang. “Kalau tiap tahun ini dilakukan, maka ini akan sangat masif sekali gerakannya. Mereka bukan bergerak secara teoritis dan formalistik semata, tapi juga dengan pendekatan rekreasi dan permainan. Sehingga tiap tahunnya ini mereka mengadakan kegiatan outbond, kemah bersama mengundang tokoh masyarakat. Berbagai upaya mereka lakukan, bahkan ini membuat petugas BNK ini mengaku kewalahan melayani sekolah di kabupaten Badung,”bebernya.

 

Untuk diketahui dalam acara tersebut hadir pula Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN Drs. Dunan Ismail Isja, MM, didampingi oleh  Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi BNN Brigjen. Pol. Dr. Juansih,  Kepala BNN Provinsi Bali Brigjen Pol Drs I Putu Gede Suastawa,SH, Kanwil Ditjen bea cukai Bali, NTB dan NTT, Ridwan Arba’in, Sekda provinsi Bali yang di wakili Kepala Bagian Budaya Biro Kesra Setda Provinsi Bali Dewi Handayani. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 50 orang peserta dari beberapa perwakilan lembaga pemerintah dan swasta Provinsi Bali, tokoh-tokoh masyarakat, praktisi akademis dan beberapa perwakilan elemen lainnya dalam kegiatan Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!