Veteran Tak Berdaya karena Stroke, Istri juga Gangguan Jiwa

BANGLI, POS BALI ONLINE – Siapa yang menyangka pejuang kemerdekaan seperti I Nengah Dendes (86), seorang veteran di Dusun Belong Dauhan, Desa Abang Batudinding, Kintamani, Bangli kini kondisinya memprihatinkan.

Kini dia hanya bisa terbaring, tak mampu melawan stroke yang menyerangnya. Bukan hanya itu, Dendes punya istri dan menantu gangguan jiwa. Anaknya, I Nengah Santi Adnyana yang harus menjadi gantungan hidup keluarga ini dalam berbagai urusan. Padahal Adnyana hanya berpenghasilan sekitar Rp100 ribu per hari sebagai buruh bangunan, itupun tidak tetap.

I Nengah Santi Adnyana menuturkan, pada era penjajahan mendapat tugas sebagai tukang bagi logistik. Ayahnya itu tidak mampu berjalan karena kakinya lumpuh. Dendes terserang stroke sejak lama, dan kini hanya bisa berbaring di kamar. Sedangkan istri Adnyana, yakni Ni Ketut Padmi (34) terus komat-kamit di atas tempat tidur mengalami gila atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (SDGJ). Demikian juga ibunya Ni Wayan Karlin (80).

Saat POS BALI bertandang ke rumahnya, Senin (14/8), Karlin terus komat- kamit dan terus melantunkan tembang Bali di halaman rumah. Sesekali menyebut nama-nama pejabat dan menunjukkan kartu-kartu nama politisi dan pejabat, bahkan mengucapkan pekik merdeka. Begitulah namanya kena gangguan jiwa, suasana rumah jadi bising dari celotehan kedua perempuan itu seperti bersahut-sahutan.

Adnyana mengatakan, istrinya mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2015. Sempat dirawat di RSJP Bali di Bangli hanya dua bulanan dengan tanggungan JKBM. Setelah dirawat, dilanjutkan dengan berobat jalan. Akan tetapi, sejak JKBM berubah jadi JKN, pengobatan itu ia hentikan karena tidak mampu membeli obat. “Ibu tiang seperti kedewan-dewan, sedangkan istri tiang sudah usahakan untuk berobat ke mana-mana sampai ke dukun tapi tak sembuh juga,” ujarnya.

Adnyana mengaku hanya sendiri menanggung segalanya. Ia mempunyai tiga orang anak. Ketiganya adalah I Wayan Gunung (17) kelas III SMA, Ni Nengah Tekek (14) kelas III SMP, dan Sika (5). Menurutnya, anaknya yang bungsu bakal tidak disekolahkan sementara karena beban ekonominya yang berat. Nanti setelah anak pertamanya lulus SMA baru si bungsu disekolahkan. “Setelah kakaknya tamat baru anak ketiga tiang sekolahkan, tiang tak mampu menanggung,” ucapnya.

Di tengah banyaknya beban yang harus ia pikul, Adnyana masih bersyukur keuangan dibantu dengan gaji veteran ayahnya sebesar Rp2 juta per bulan. Kalau tidak, maka dirinya bakal tidak berdaya. Sebagai buruh bangunan, ia kadang dapat kerja, kadang tidak. Dia juga tak punya lahan selain belakang rumahnya. Dia juga mengaku tidak lagi mendapatkan beras miskin (raskin). “Sudah lama tak dapat raskin, sudah lama diputus,” ujarnya. 028

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *