Upaya Rekonstruksi Karya Maestro Tabuh dan Tari

posbali.id

DENPASAR, POS BALI ONLINE – Kamis (23/6) kemarin, arena Pesta Kesenian Bali (PKB) di Taman Budaya Denpasar dimeriahkan pergelaran kesenian hasil rekonstruksi. Seni yang direkonstruksi tersebut di antaranya tabuh-tabuh tradisional yang diciptakan oleh para maestro tabuh di Bali pada zaman dulu.

Karya-karya tabuh ini kemudian mendapat sentuhan-sentuhan kreatif atau pepayasan dari para seniman muda dengan tidak menghilangkan originalitasnya. Sehingga, karya-karya tabuh tersebut menjadi terdengar lebih dinamis.

Adalah Sanggar Ling Kawi Desa Patemon, Kecamatan Seririt, yang memiliki kesempatan  menampilkan beberapa tabuh, yang didukung oleh Sanggar Seni Shanti dengan tarian yang memukau penonton di Kalangan Angsoka Taman Budaya Denpasar kemarin.

Tabuh dan tarian yang direkonstruksi sekalgus ditampilkan di antaranya Tabuh Lalonggoran. Karya tabuh yang biasa dipakai dalam sebuah upacara yadnya oleh masyarakat Buleleng. Tabuh ini pun ada hampir di setiap desa di Buleleng, namun memiliki ciri khas yang sedikit berbeda dari desa satu dengan yang lainnya.  Tabuh ini terekontruksi  di Desa Banyuning dari seorang seniman karawitan bernama Guru Suara Pik (almarhum).

Kemudian ada Tari Truna Jaya, sebuah karya tari legendaris dari Buleleng yang pertama kali diperkenalkan lewat Tari Kebyar Legong yang diciptakan oleh I Wayan Peraupan. Tari Truna Jaya yang ditampilkan kali ini adalah hasil rekontruksi dari seniman besar Buleleng, Luh Menek dari Tejakula, dengan iringan karawiran dari Made Kencana asal Jagaraga.

Tari Legong Pangeleb, karya berikutnya, adalah tarian yang menggambarkan suasana kaum perempuan yang penuh kegembiraan yang diluapkan dengan ekspresi bahagia, sukacita dan keagresifan karena terlepas dari belenggu oleh aturan tradisi. Tari ini diciptakan oleh Cening Winten dari Desa Menyali, Sawan, Buleleng pada 1950-an. 4

Terakhir adalah Tari Legong Tombol, sebuah tari Legong kakebyaran yang tumbuh di Desa Banyuatis pada 1959. Sebelumnya, karya ini begitu terkenal di lingkungan Kerajaan Karangasem pada 1950-an.  Tari ini direkontruksi pada 2015 oleh Ida Ayu Wimba Ruspawati dalam kajian desertasinya. Tari ini terkesan unik karena merupakan akulturasi dan kolaborasi antara nafas Bali selatan dan Bali utara. */012

 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *