Uluwatu Art Festival, upaya mempromosikan daya dukung ODTW

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Kendati Uluwatu Art Festival belum menunjukan impact pada peningkatan kunjungan wisatawan, namun kedepan event tersebut diyakimi akan membuat kunjungan ke ODTW Uluwatu dan Pantai Labuan Sait akan semakin menggeliat. Sebab festival yang dulunya bernama Pecatu Art Musik Festival ini bukan hanya berfokus kepada sektor pariwisata yang ada di Uluwatu dan Labuan Sait, melainkan semua potensi yang ada di Desa Pecatu. Termasuk berimplikasi kepada  pelaku pariwisata lain, seperti pedagang, UMKM dan lainnya. “Festival adalah inderct promotion untuk menambah kunjungan wisatawan. Memang saat ini dampak langungnya belum dirasakan, tapi jika festival ini diselenggarakan secara continue tentu ini akan semakin mengenalkan potensi yang ada di Pecatu,”terang Manajer pengelola obyek wisata kawasan luar Pura Uluwatu, Wayan Wijana, Minggu (28/10).

 

Dipaparkannya jumlah kunjungan wisatawan ke Uluwatu di tahun 2017 mencapai 1,7 juta orang. Pada bulan Januari – Juni 2018, kunjungan wisatawan sudah mencapai 1,2 juta orang. Ia mengaku optimis di akhir tahun 2018 ini target kunjungan wisatawan sebanyak 2 juta orang akan bisa dicapai. Sampai akhir Oktober ini sudah kunjungan wisatawan perhari menembus 6000-7000 orang perhari. “Festival ini nantinya bukan hanya berdampak pada kunjungan wisatawan, tapi juga berdampak pada kondisi sosial, budaya, seni dan potensi di Pecatu. Sebab kasanah budaya seni maayarakat kita angkat ke permukaan. Saya yakin dengan event ini akan membuat wisatawan semakin mengenal dan potensi yang ada di Pecatu,”paparnya sembari menerangkan festival tersebut melibatkan inovasi, kreasi, dan hasil karya masyarakat setempat. Dimana yang dilibatkan dalam festival adalah sanggar seni, anak-anak, Ibu PKK, kreatifitas pemuda dan sebagainya.

 

Dicontohkannya seperti tanaman organik. Kendati wilayah Pecatu adalah daerah tandus, namun tanaman organik bisa tumbuh subur. Hal tersebut tentu akan menjadi daya tarik tersendiri, terkait bagaimana cerita perjuangan masyarakat tersebut. Sehingga dengan mengangkat potensi tersebut, maka ada daya dukung atau magnet yang bisa semakin menarik wisatawan berkunjung. “Harapan kami agar festival ini terus berlanjut, kita akam terus berinovasi, mengebangkan dan melestarikan potensi yang ada,”harapnya sembari menerangkan festival tersebut mengikuti jam operasional obyek wisata dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam. Sehingga kesucian dan keamanan, kenyamanan kawasan juga terjaga.

 

Sebelumnya, Wabup Badung Ketut Suiasa menerangkan Uluwatu Art Festival adalah wahana untuk menumbuhkembangkan, menggali potensi dan menjaga aspek budaya dan seni. Melalui festival tersebut ia mengajak masyarakat Pecatu untuk berkomitmen mewujudkan pariwista Bali yang berkualitas. Dimana unsur komponen tersebut adalah pariwisata budaya, pariwisata yang berpihak kepada lingkungan dan pariwistaa berbasis kepada masyarakat. “Dengan mewujudkan ketiga komponen ini, kita bersepakat menjaga kualitas pariwisata kita. Mari kita tingkatkan bersama, membangun pariwisata Bali dengan berlandaskan budaya, kemasyarakatan dan lingkungan. Ini harus dijaga dan tidsk seornag pun menyepelekan dan merendahkan martabat budaya kita,”terang Suiasa.

 

Ia mengaku sengaja menegaskan hal tersebut, dikarenakan berkaca pada kondisi pariwisata Bali belakangan ini. Ia menilai sudah nyata ada upaya untuk melemahkan pariwisata Bali, menyepelekan, merendahkan martabat budaya Bali dan melunturkan nasionalisme budaya bangsa. Adapun hal yang dimaksud adalah adanya oknim yang menjual paket wisata murah perkepala kepada wisatawan Cina, bahkan paketnya diketahui semakin murah ditawarkan dan tidak masuk akal. Dimana Bali ditawarkan dengan keindahan budaya dan sebagainya, tapi sampai di Bali para wisatawan Cina disajikan dengan produk dengan harga mahal, yang memiliki komisi yang cukup besar. Dengan komisi yang diperoleh itulah dipergunakan oleh oknum, untuk tujuan mengcover biaya tiket, kamar dan lain sebagainya. “Mereka diajak membeli barang di toko modern dengan diberikan diskon, inilah yang dipakai membiayai mereka. Ini namanya penjajahan ekonomi bagi masyarakat kita dan negara kita, karena kita tidak mendapatkan apa. Malah orang luar yang mendapatkan hasilnya,”bebernya.

 

Melalui moment tersebut, ia menyerukan hentikanlah kegiatan yang merendahakan martabat, budaya peradaban dan nasionalisme, dengan upaya memperkaya diri sendiri melalui penjualan paket murah. Sebab pariwista tujuannya adalah memperkuat dan mempetebal peradaban, budaya dan mempertinggi nasionalisme bangsa. Jangan sampai melunturkan paradaban bangsa. Untuk menghentikan dan meminimalkan penjualan paket murah tersebut, pihaknya mengaku sudah melakukan pemetaan dan akan melakukan action plan, dengan terkoneksi dan tersinergi dari beberapa aspek, serta melibatkan komponen pariwisata dan imigrasi serta kepolisan. Sebab upaya tersebut disadarinya tidak bisa dilakukan dari satu pihak semata. “Ketika kita temukan upaya ini terbukti di lapangan, kita akan berikan tindakan peringatan. Baik berupa sanksi pengehentian sementara operasional mereka, pencabutan sementara izin usaha, dan jika tidak mengindahkan maka tidak menutup kemungkinan akqn menabut izinnya,”tegasnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!