Ubud Food Festival 2018, Penghargaan Bagi Generasi Inovatif dan Kreatif

posbali.id

Ketut Suardana (kiri) dan Kadek Purnama (kanan) dalam sesi konferensi pers UFF di Denpasar, Kamis (5/4).

DENPASAR, POS.BALI.ID – Ubud Food Festival (UFF) kembali digelar untuk keempat kalinya. Festival akan digelar di Ubud, Bali pada Jumat (13/4) hingga Minggu (15/4) dengan mengusung tema “Generasi Inovasi”.

Melalui Tgelaran tahunan itu, pihak penyelenggara akan menyuguhkan sejumlah inovasi dan kreativitas dalam pengembangan dunia kuliner. General Manager UFFdan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Kadek Purnami dalam jumpa pers, Kamis (5/4) di Denpasar mengatakan tema yang menjiwai pelaksanaan UFF tahun ini ditujukan sebagai bentuk pengahargaan kepada anak muda yang memiliki daya kreatif dan inovatif dalam mengembangkan usaha kuliner.

“Berkembangnya media dan teknologi membuat anak muda menciptakan inovasi dalam kuliner, itulah semangat yang mendasari event ini,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaan kegiatan tersebut pihaknya telah mengundang lebih dari 100 koki, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Mereka adalah koki-koki berprestasi di restoran ternama di Indonesia dan dunia dengan perbandingan 60 persen (Indonesia) berbanding 40 persen (dunia). Termasuk di dalamnyaselebrity chef, salah satunya Farah Quinn.

“Tahun  ini kegiatan tidak hanya menampilkan makanan, nanti ada diskusi panel. Mereka akan berbicara soal tren terkini makanan, teknologi start up untuk mendukung usaha, membuat food blogger,” ucapnya.

Selain itu pelaksanaan UFF tahun 2018 ini juga akan dilengkapi dengan hiburan yang akan mengundang musisi lokal dan nasional untuk memeriahkan pentas musik.Pemutaran film terkait perjalanan makanan juga akan memeriahkan festival tersebut. Tidak lupa ada yoga, demo memasak, dan 90-an stand kuliner yang siap memanjakan pengunjung.

“Melalui event ini kita harapkan dapat mengembalikan kedatangan wisatawan ke Bali. Tahun lalu kunjungan festival kita mencapai 9 ribu pengunjung, tahun ini kita target 12 ribu pengunjung,” katanya sembari mengatakan setengah dario kegiatan bersifat gratis..

Purnami mengaku pihaknya lebih menekankan unsur kolaborasi budaya dalam gelarannya. Makanan yang ditampilkan pun akan lebih banyak menampilkan masakan Nusantara, khususnya masakan tradisional Bali. Di samping itu, peserta juga akan diajak ke sentra-sentra kuliner dan memperkenalkan makna atau sejarah dari masing-masing kuliner.

“Kita akan ajak audiens mengunjungi Pasar Senggol di Gianyar, ke pabrik pembuatan tahu tertua di Pejeng. Nanti akan ada demo pembuatan babi guling, lawar, ayam betutu,. Nanti kita ajak audiens mengunjungi pembuatan babi guling betutu. Kita jelaskan kisahnya, sebab setiap makanan punya kisah, termasuk kita akan bahas juga makanan khusus untuk pedanda yang berbeda dari masyarakat biasa,” terangnya.

Sementara itu, pendiri Yayasan Murda Swari Saraswati dan juga penggagas UFF dan UWRF, Ketut Suardana berharap UFF akan mempu menjadi barometer makanan di Bali, seperti halnya pelaksanaan UWRFyang telah menjadi barometer penulis di Indonesua. Ia menambahkan, UFF dan UWRF sejatinya adalah satu kesatuan, dimana jika UFF merupakan festival yang menonjolkan makanan untuk perut, sedangkan UWRF adalah festival makanan untuk pikiran.

“Dua makanan inilah yang dikemas yayasan kami, berharap Ubud bisa jadi barometer penulis dan nanti juga jadi barometer makanan. Makanan Bali itru lebih original dari masakan luar negeri, saya yakin bisa tampil,” katanya sembari menerangkan Yayasan Mudra Swari Saraswati juga terlahir dari peristiwa Bom Bali yang sempat meluluhlantakkan pariwisata Bali di tahun 2002 dan 2004. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *