Truk Luar Dilarang Masuk Karangasem, Bupati Kumpulkan Pengusaha Galian C

posbali.id

 

 

POS BALI/017
Pertemuan Bupati Mas Sumatri dengan para Pengusaha Galian C di Karangasem

KARANGASEM, POS BALI – Para pengusaha galian C seluruh Karangasem dikumpulkan oleh Bupati Karangasem Gusti Ayu Mas Sumatri di Ruang Rapat Bupati, Kamis (9/11) kemarin. Mereka dikumpulkan dalam rangka menyikapi surat Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana yang meminta agar truk asal Singaraja diijinkan masuk ke lokasi galian C Kubu. Terkait hal itu, Bupati Karangasem, Gusti Ayu Mas Sumatri bersama pengusaha memutuskan tetap tidak mengijinkan truk luar masuk ke Karangasem. Truk luar harus membeli pasir di Depo demi kelancaran arus transportasi mengingat situasi Gunung Agung masih siaga.

Bupati Mas Sumatri menjelaskan bahwa dengan dibatasinya truk masuk ke galian maka akan membuat transprtasi di Karangasem semakin lancar. Selain itu, karena status gunung agung masih siaga maka dikhawatirkan menimbulkan kegaduhan di masyarakat jika truk galian terlalu banyak yang lalulalang di jalan di Karangasem yang merupakan jalur evakuasi. Bupati berharap dengan dibatasi truk yang mauk hanya truk lokal maka kekroditan jalan bisa dihindari. “Ini juga demi kebaikan bersama, saya akan menyampaikan surat pemberitahuan kepada seluruh bupati se-Bali dan Gubernur Bali,” terangnya. Dirinya bahkan berencana membangun 7 Depo pasir di titik-titik perbatasan dengan Kabupaten lain sehingga galaan C yang ada di Selat, Rendang, dan Bebandem juga tidak krodit karena dimasuki truk dari luar. Bahkan berencana membangun depo untuk diangkut melalui jalur laut.

Sementara masalah Harga, Bupati mengaku akan menyiapkan perda sehingga harga bisa lebih ditekan. Kendati demikian, dengan harga pasir yang diangkat oleh pengusaha merupakan hal yang wajar karena perlu ongkos angkut. “Harga naik sedikit wajar karena ada ongkos, yang penting kebutuhan pasir masih bisa terlayani sehingga pembangunan di Bali tetap berjalan,” terangnya.

Pendapat itu diperkuat oleh Ketua Pengusaha Galian C Asosiasi Pertiwi Agung Kubu, Nengah Subrata yang menyampaikan bahwa pihaknya yang berinisiatif membangun Depo di Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Pria berbadan tegap itu menuturkan pembangunan Depo pasir dilakukan lantaran pasca status awas kelangkaan pasir sehingga pembangunan di Bali hampir berhenti total. “Saya bersama teman-teman pengusaha kumpul untuk mencari solusi, maka dibuatlah depo, itu juga sudah ada ijinnya, bahkan para sopir truk singaraja waktu itu setuju beli di Depo dan tandatangan kontrak 3 bulan,” terangnya.

Subrata menerangkan bahwa tidak etis kalau sopir truk singaraja kini justru mesadu kepada Bupati Bulelelng. “Seharusnya kita duduk bareng lagi rembugkan bukan malah mesadu kepada bupati,” sindirnya.

Pengusaha galian asal Desa Sukadana itu mengakui bahwa harga memang naik setelah di Depo. Sebab untuk sampai di depo ada ongkos angkut material dan ongkos sewa tanah dan operasional lainnya yang membuat harga pasir terangkat. Diakui material pasir per truk di Lokasi Rp.600 ribu namun di Depo harganya Rp.1,3 juta. Namun menurutnya harga itu wajar karena mengakomodasi transport dan biaya operasional lainnya ke Depo. “Coba bandingkan kalau ngambil ke luar Bali, jauh lebih murah kok beli di Depo,” terangnya. Pihaknya menyampaikan bahwa harga pasir sudah saatnya naik karena kelangkaan pasir. Toh para supir truk menurutnya tidak rugi karena jelas ngangkat harga mencari keuntungan berlipat-lipat kepada konsumen. “Kami pengusaha membeli alat berhutang miliaran untuk menggali pasir, sopir membelinya dengan harga murah, saatnya kasi kami sedikit menikmati keuntungan, dan berdayakan pemilik truk lokal Karangasem agar bisa juga maju,” pungkasnya. 017

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *