Trauma Gempa, Umat Islam di Lombok Terpaksa Sholat Jumat di Lapangan

posbali.id

LOBAR, POSBALI.ID – Trauma panjang nampaknya dialami masyarakat di Pulau Lombok. Pada Jumat (10/8), Umat Islam yang melaksanakan sholat Jumat terpaksa beribadah di lapangan seperti yang dilakukan warga Desa Lingsar karena khawatir terjadinya gempa susulan.

 

Seperti diketahui, gempa susulan pasca gempa utama 7,0 Skala Richter (SR) dengan magnitudo sebesar 6,2 SR Kamis, (9/8) kemarin sangat membekas di raut muka para jama’ah. Getarannya telah membuat retak menara Masjid Qamarul Huda yang hari ini, Jum’at (10/08) mestinya menjadi tempat khidmat buat mereka beribadah.

 

Mereka trauma dan ketakutan untuk berlama-lama di dalam ruangan. Akhirnya warga laki-laki di Dusun Lingsar Barat, Lingsar Tengah, Lingsar Timur, dan Lingsar Keling memilih berpanas-panasan di bawah terik matahari saat mendengar khutbah.

 

Seorang muda sempat dengan senyum membisiki kawannya, “Hitung-hitung latihan di Padang Mahsyar,” katanya.

 

Perumpamaan itu karena terik matahari yang sangat panas sesekali membuat mereka memicingkan mata. Semula mereka biasa beribadah di dua masjid besar, yaitu Masjid Qamarul Huda dan Masjid Syamsul Huda. “Warga masih trauma. Apalagi menara masjid mengalami retak,” tutur Adit, salah seorang jama’ah.

 

Siang itu, Adit beserta ratusan jama’ah mendengarkan khutbah yang disampaikan tetua desa, H. Moh. Adnan. Dalam khutbahnya, H. Adnan menyampaikan sisi lain dan hikmah dari kejadian bencana agar seluruh manusia bisa kembali kepada kesadaran ilahi. “Membuat hati kita menjadi lembut. Salah satu nilainya adalah kesabaran dan keikhlasan itu,” paparnya.

 

Kondisi yang sama dirasakan warga Dusun Teloke Desa Senteluk Kecamatan Batulayar. Mereka memilih membangun tenda darurat sebagai tempat solat Jum’at berjam’ah. Dihantui trauma dan kepanikan warga sepakat untuk tetap mendidirikan tempat ibadah yang tidak jauh dari pengungsian. Padahal kondisi masjid di desa mereka hanya rusak ringan. “Kami buat tenda untuk solat jum’at karena warga masih trauma. Jumlah warga yang mengungsi di sini hampir ratusan kepala keluarga,” sebut Zulkifli, salah satu warga.

 

Di tempat terpisah, Bupati Lobar H. Fauzan Khalid didaulat menjadi khatib sekaligus imam oleh pengungsi korban gempa di Desa Selat Narmada. Bertempat di Masjid Al-Munawwarah, masjid satu-satunya yang masih tegak berdiri karena belum 100% jadi, Fauzan menghibur para pengungsi. “Saat-saat ini, kita sedang berduka. Kita harus sabar menghadapinya,” ujar Fauzan.

 

Dalam kesempatan usai Shalat, Fauzan meminta para Jama’ah untuk memaparkam kebutuhan mereka di pengungsian. Ada jama’ah yang menyuarakan kebutuhan air bersih dan masalah keamanan. Untuk itu Fauzan berjanji memprioritaskan permasalahan air bersih, sanitasi, perumahan, dan keamanan. “Masalah keamanan, supaya kita hidupkan kembali siskamling,” pungkasnya. 033

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!