Trans Sarbagita Terus Merugi, TMS: Alihkan Anggaran, Bentuk Konsorsium Berdayakan Petani

posbali.id

DENPASAR, POS BALI.ID- Gelontoran anggaran Rp13 Miliar untuk biaya operasional bus Trans Sarbagita pada tahun 2018, dinilai mubazir. Bahkan tahun-tahun sebelumnya mencapai Rp17 Miliar. Sebab, kendati terus mendapat sorotan, pelayanan bus Trans Sarbagita tidak sesuai yang diharapkan. Layanan Trans Sarbagita hingga kini tetap sepi peminatnya.

Karena itu, Ketua Komisi III DPRD Bali I Nengah Tamba mendorong agar ke depannya anggaran untuk Bus Trans Sarbagita dialihkan untuk pemberdayaan petani buah-buahan di Bali.

Caranya, Pemprov Bali membentuk Konsorsium untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi buah-buahan, dan pada saat yang bersamaan bisa meningkatkan kesejahteraan para petani. Konsorsium yang dibentuk tersebut melibatkan dinas terkait dan perusahaan daerah milik Pemprov Bali. Dana yang dimiliki Konsorsium itu untuk membeli hasil panen petani, termasuk menyediaka infrastruktur seperti pengadaan cold storage untuk menampung buah-buahan yang sudah dibeli tersebut.

Bakal calon anggota DPR RI dengan tagline TMS (Tamba Menuju Senayan) ini mengatakan, yang terjadi selama ini harga buah sangat murah saat panen tiba, sehingga pendapatan petani buah sangat kecil. Hal ini yang menyebabkan minimnya minat masyarakat Bali untuk menjadi petani buah.

Menurut Tamba, masalah ini bisa diatasi dengan keberadaan Konsorsium tersebut. Konsorsium tersebut yang membeli buah-buah tersebut dengan harga yang wajar, dan selanjutnya menjualnya ke hotel-hotel yang ada di Bali.

“Konsorsium itu yang membeli buah-buahan langsung dari petani, sehingga tidak ada lagi hasil panen dijual dengan harga murah seperti yang dikeluhkan petani selama ini. Dengan pola ini ada jaminan pendapatan petani meningkat saat panen,” kata Tamba di Denpasar, Rabu (18/4/2018).

Politikus Demokrat asal Jembrana ini mengatakan, pola ini akan memberi banyak manfaat. Selain petani memperolah pendapatan yang tinggi saat panen, kesejateraan terjamin, juga memastikan pasokan buah lokal tetap tersedia di Bali, sehingga tidak lagi memasok buah-buahan dari luar daerah atau buah impor.

Selain itu, dengan tingginya minat masyarakat menjadi petani maka bisa mengurangi alih fungsi lahan yang marak terjadi di Bali. “Kalau kondisi petani ini dibiarkan terus seperti sekarang maka lama kelamaan bukan saja petani akan berkurang, lahan juga akan beralih fungsi karena sudah tak ekonomis lagi dan tak mampu bayar pajak,” tegas Tamba.

Menurut dia, keberadaan Konsorsium ini bisa efektif untuk memenuhi tujuan yang diharapkan, sebab anggarannya ada dan Perda Perlindungan Buah Lokal juga sudah ada. “Saya yakin ini bisa karena anggarannya ada, tinggal bagaimana good will pemerintah. Lebih baik rugi untuk bantu petani daripada rugi di Sarbagita,” katanya.

Ia melanjutkan, Bali harus memproteksi buah atau produk lokal yang berkualitas. Ini banyak dilakukan di luar Bali. Dengan proteksi maka daya saing atau beli buah lokal akan meningkat. Untuk itu memang perlu dibangun infrastruktur seperti pengadaan cold storage yang bisa menampung hasil panen dalam jumlah besar sekaligus menjaga kualitas dan menjamin ketersediaan buah sepanjang waktu.

Keberadaan konsorsium ini nantinya, selain untuk membeli hasil panen dari petani, juga untuk menampung (menyimpan dalam Cold Storage) sebelum dijual kembali ke hotel dan restoran di seuruh Bali.

“Perlu juga pemetaan masing-masing wilayah untuk mengetahui potensi dan kemampuan produksi buah-buahan. Itu harus didata dengan jelas,” pungkas Tamba.(*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!