Tower ATCS Air Nav Denpasar kini lebih komplit

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Setelah berdiri sejak tahun 1991 di kawasan terminal bandara Ngurah Rai, kini menara ATCS (Air Control Traffic Sistem) Bandara Ngurah Rai resmi berpindah ke sisi selatan runway. Kendati operasional menara ATCS tersebut telah dioperasionalkan secara penuh sejak tanggal 1 September, dalam rangka mendukung perhelatan IMF di Nusa Dua. Namun Kamis (22/11) perpindahan tersebut secara resmi dipublikasi oleh pihak Air Nav Denpasar. Menara ATCS Airnav Denpasar yang memiliki ketinggian 39 meter tersebut, terdiri dari 6 lantai dan diakui memiliki panorama yang paling indah diantara tower ATCS yang lainnya di Indonesia. Dimana tower dikelilingi pemandangan pantai dan sunset yang indah dan posisinya sangat strategis dalam upaya peningkatan keselamatan penerbangan.

 

Manager Perencanan dan Evaluasi Operasi Air Nav Denpasar, Gede Cakra Warsita usai melaksanakan peninjauan menerangkan, secara umum konsep pelayanan pada menara ATCS baru dengan yang lama relatif sama. Namun jarak pandang (visibility) menara ATCS yang baru diakuinya sudah menjangkau 360 derajat, sesuai dengan syarat ideal dari sebuah menara ATCS. Sementara pada tower yang lama, jarak pandang petugas Airnav memang relatif terbatas karena tidak semua pandangan bisa menangkap runway. “Kalau dulu kita terhalang bangunan terminal, sehingga tidak terlalu kelihatan. Karena itulah kita pakai alat bantu CCTV, agar bisa menjangkau apron utara dan ujung runway 27. Sekarang kita bisa melihat langsung dan ini tentu sangat bagus,”terang Cakra.

 

Keberadaan tower ATCS yang baru dinilainya juga dilengkapi dengan berbagai pemutahiran peralatan, dimana pemutahiran itu kebanyakan merupakan investasi dari BMKG. Seperti Automated Weather Observing System (Awos) yaotu alat sistem pengamatan cuaca otomatis yang digunakan secara real time, Radar Wind Profiler yaitu peralatan yang mendeteksi kondisi arah dan kecepatan angin, suhu dan kelembaban dari ketinggian permukaan hingga 3000 meter di sekitar Bandara. Alat tersebut dapat mendeteksi beberapa fenomena cuaca yang mengganggu penerbangan, salah satunya adalah fenomena Wind Shear. Serta sistem Light Detection and Ranging (Lidar) yang merupakan alat untuk mendeteksi udara kering seperti abu vulkanik di wilayah Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, sehingga apabila terjadi erupsi Gunung Agung yang mengakibatkan abu vulkanik tersebar di daerah bandara.

 

Dengan alat tersebut, maka akurasi dari prediksi perkembangan terkini menyangkut penerbangan akan semakin cepat dan akurat, untuk disampaikan kepada pilot. Dengan alat ini maka faktor keselamatan menjadi lebih meningkat. “Kalau dulu untuk mendeteksi sebaran abu vulkanik kita memakai paper test, yaitu memasang kertas didarat untuk mendeteksi sebaran abu vulkanik. Tapi dengan adanya lidar maka kita bisa mendeteksi langsung abu vulkanik di udara. Sehingga kapan bandara akan tutup bisa ketahuan lebih cepat informasinya,”paparnya sembari menerangkan alat menyalakan lampu pada runway kini sudah touch screen.

 

Selain meningkatkan fasilitas fisik, pohak Air Nav Denpasar juga berupaya meningkatkan sektor SDM yang ada dan prosedur yang ada. Baik dengan melakukan uji kompetensi tenaga Air nav dan diklat lainnya dari pihak air nav sendiri dan kementerian perhubungan. Tahun ini pihaknya mengaku mendapatkan 6 orang tambahan tenaga ATC dan 5 orang tenaga teknis. “Sejauh ini kondisi petugas masih ideal, itu sejak dari awal ada ATC. Tapi dengan penambahan ini, tentu akan lebih bagus lagi. Saat ini total ada 186 orang tenaga Airnav Denpasar, termasuk tembahan yang sekarang ini,”imbuhnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!