Terteran, ritual Ngusaba dalem Desa Adat Saren yang diawali Negtegang

posbali.id
AMLAPURA, POS BALI – Krama (masyarakat) Desa Adat Saren, Senin (15/4) kembali melaksanakan  ritual tradisi ‘Terteran’ (perang api). Ritual yang jatuh tiap 2 tahun sekali ini selalu dilaksanakan bertepatan dengan ‘Ngusaba’ Dalem Desa Adat Saren. Dimana melalui tradisi tersebut kaum lelaki masyarakat desa adat saren akan melaksanakan sujud bhaktinya ‘ngayah’ kepada sesuhunan, sekaligus ikut dalam melestarikan tradisi turun-temurun yang merupakan bagian dari ritual Ngusaba Dalem di Desa Adat Saren. “Untuk menyambut piodalan di pura Dalem, memang masyarakat desa adat saren melaksanakan tradisi materteran, yang sebelumnya dimulai dengan negtegang. Negtegang sendiri dimulai dari hari Kajeng Kliwon,”ujar Jro Mangku Desa Adat Saren, Mangku Made Sura Artayana.

 

https://www.posbali.id/ritual-sakral-pengerat-persaudaraan-junjung-tinggi-nilai-sportifitas/

Layaknya ritual, sebelum dilaksanakannya Terteran masyarakat Desa Adat Saren melaksanakan ‘Panegtegan’ pada tanggal 26 Maret. Maksud upacara tersebut adalah negtegang pedagangingan, negtegang pikayun, negtegang anga sarira (upaya menyeimbangkan diri, mengendalikan diri) sebelum dilaksanakan Ngusaba. Selama proses negtegang, masyarakat desa adat Saren berpantang untuk melakukan aktifitas tertentu. Yang pertama adalah berpantang menginap (berada lebih dari 24 jam di luar desa). Begitupun bagi masyarakat desa yang merantau ke luar desa, mereka dipantang untuk menginap di desa selama prosesi negtegang. Kemudian kedua masyarakat berpantang berdarah-darah, dalam artian masyarakat dilarang membunuh hewan, membawa daging mentah yang memicu munculnya darah. Ketiga berpantang memberikan sesuatu kepada seseorang yang berada di luar desa (kondangan). Keempat tidak boleh menghaturkan sarana yang berbahan dasar ron atau busung (janur), terkecuali pada saat upacara ‘Masasegeh’ di Pura Puseh dan ‘Majajagra’ di Pura Sang Sege. “Memang ada beberapa pantangan yang ada bagi masyarakat desa dan itu diyakini adalah hal yang tidak boleh dilanggar. Pantangan inilah yang menuntut kita selalu mulat sarira, sehingga tercapai kesempurnaan dalam pelaksanaan ngusaba nantinya,”tegasnya.

 

Masyarakat desa adat Saren meyakini bahwa, jika ada yang melanggar pantangan tersebut maka ia akan terkena musibah. Hal tersebut secara tak sengaja seolah terbuktikan, melalui musibah yang dialami oleh yang melanggar pantangan tersebut.  Upacara Masegeh sendiri dilaksanakan 3 kali selam negtegang, dengan selang waktu 5 hari sekali, yaitu tanggal 31 Maret, 5 April dan 10 April di Purq Puseh. Dimana masyarakat akan diberikan ‘sesageh’, untuk menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatif yang bisa menganggu, sekaligus sebagai lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan). Setelah itu pada tanggal 12 April dilaksanakan ‘Majejagra’ dengan melakukan persembahyangan di Pura Sang Sege. Mejejagra sendiri berasal dari kata jagra, yang artinya sayaga (kesiapan atau kesanggupan) untuk melaksanakan ngusaba dengan runtutannya. “Saat negtegang, itu diyakini bahwa  ida bhatara di desa adat saren sedang melaksanakan yoga, untuk memberikan kesejahteraan bagi umatnya. Karena itulah masyarakat diminta untuk ikut melaksanakan hal tersebut, dengan melaksanakan yadnya baktinya melalui memusatkan pikiran, menjaga perkataan dan prilakunya,”jelasnya.

 

Kemudian pada tanggal 15 April dilanjutkan ‘Ngiasin’ (menghias) di Pura Sang Sega, sore harinya kemudian dilanjutkan upacara ‘Memuwu-muwu’. Dimana upacara tersebut mengandung makna menghaturan caru panegtegan yang menetralisir pengaruh sifat-sifat negatif. Hal itu ditandai dengan sanggah caru panegtegan diambil dari pura puseh sebanyak 3 buah danmasing-masing sebuah sanggah di Pura Sang Sega. Kemudian semuanya itu disatukan di jaba Pura Sang Sega dengan bertumpang-tumpang, dihaturkan caru dan nasi wong-wongan.

 

Kemudian masih pada hari yang sama juga dilaksanakan ‘Pangulem’ dan sore menjelang malam (sandikala) akan dilaksanakan terteran pertama. Terteran sendiri dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 15, 16 dan 17 April. Lanjut pada tanggal 18 April dilaksanakan upacara Ngusaba Dalem, yang dimulai dari ngias di pura Dalem dan Rajapati dan dilanjutkan sore harinya Nuwur Ngiring Bhatari Ageng-Sinuhun menuju ke Pura Dalem. Malam harinya setelah upacara usai, ida bhatara diiring kembali ke Pura Penyimpenan. Menariknya sebelum dilaksanakan mebat di pura Dalem, masyarakat belum diperbolehkan untuk menyembelih ayam sebagai sarana upacara. “Sebagai pengembak, nanti masyarakat akan dipukulkan suara kentongan. Itu adalah simbolis bahwa masyarakat sudah bisa melakukan penyembelihan ayam, sebagai sarana upakara nantinya,”sebutnya.

 

Dalam letak susunan jejeran banten di Pura Dalem disesuaikan dengan komposisi masyarakat di Saren. Dimana warga yang pertamakali menjadi penduduk saren, maka ialah yang berhak letaknya di hulu. Sementara warga yang terakhir datang ke Saren akan mendapatkan letak paling belakang. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Satu tanggapan untuk “Terteran, ritual Ngusaba dalem Desa Adat Saren yang diawali Negtegang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *