“Tengahing Dalu”, Prosesi Tengah Malam di Pura Ulun Danu Batur

posbali.id
Prosesi upacara Tengahing Dalu di Palinggih Ida Sesuhunan Sakti Maduwe Gama, Pura Ulun Danu Batur, Sabtu (31/3) hingga Minggu (1/4)

BANGLI, POSBALI.ID – Banyak keunikan dari rangkaian upacara Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli. Salah satunya adalah prosesi upacara Tengahing Dalu yang digelar pada tengah malam puncak upacara Ngusaba Kadasa, Sabtu (31/3/18).

Sebagaimana namanya, prosesi Tengahing Dalu (tengah malam) digelar pada tengah malam (sekitar pukul 00.00 Wita), usai bakti kehadapan Ida Bhatara-bhatari Turun Kabeh. Upacara Tengahing Dalu ditujukan kehadapan Ida Ratu Sesuhunan Sakti Maduwe Gama yang berstana di meru tingkat 9, yang terletak di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur.

Pantauan POS BALI, prosesi upacara di-puput oleh pemangku, lengkap diiringi tarian sakral meliputi baris jojoran, baris gede, baris bajra, baris perisi, baris dadap, dan rejang. Tarian tampak semarak diiringi gong gede duwe Pura Ulun Danu Batur. Prosesi berakhir sekitar pukul 02.00 Wita dini hari (Minggu, 1/4/18), dilanjutkan dengan persembahyangan ke Pura Kodo Gunalali.

Jero Gede Batur Kawanan (Alitan) kepada POS BALI, mengatakan Ida Ratu Sesuhunan Sakti Madeuwe Gama merupakan manifestasi Tuhan yang berkuasa atas agama. Kekuasaannya terhadap agama itulah yang menjadi alasan piodalan dilakukan tepat pada tengah malam.

“Sebab malam itu adalah keheningan, ketika malam kesabaran kita akan tercapai, sebab Tuhan berwujud keamanan, keheningan, kedamaian. Beliau (agama; pengetahuan) itu sangat pingit, sehingga tidak sebarang waktu bisa dibicaran, tidak di sebarang tempat, harus dibicarakan di waktu dan tempat yang bersih, aman, dan mendukung,” katanya.

Ketika malam, keheningan, kesunyian, dan kesucian dinilai bisa diolah lebih maksimal, sehingga pemahaman dan pembicaraan agama (dan ilmu pengetahuan) dapat lebih mendalam.  Keberadaan Tuhan yang maha halus hanya dapat diketahui dari permenungan mendalam ke dalam diri selayaknya malam yang tenang dari hiruk pikuk aktivitas manusia.

“Yang aman, yang sunyi, harum, sejuk itulah sifat-sifat kedewaan. Dewa sangat sen

ang pada kesejukan perdamaian, kesunyian, keamanan. (Sementara) kalau kala sebenarnya sulit diwujudkan, kala itu bentuk kemarahan, kebencian, emosi, dendam, memfitnah, itulah sifatnya. Makanannya juga yang panas, arak, tuak, berem,” tambahnya.

Sementara itu, terkait dengan keberadaan palinggih berupa meru yang diposisikan di madya mandala (jaba tengah) juga terkait catatan dalam Raja Purana Pura Ulun Danu Batur. Jro Gede Batur Kawanan mengatakan, keberadaan palinggih Ida Ratu Sesuhunan Sakti Maduwe Gama sebagai penguasa agama tidak terlepas dari fungsi agama termasuk ilmu pengetahuan itu sendiri yang fleksibel diterapkan secara sekala dan niskala.

Posisi palinggih yang terletak di Jaba Tengah tersurat dalam Raja Purana. “Jaba Tengah itu dalam peranannya menguasai agama, jadi ke niskala boleh ke sekala boleh. Ke luan (hulu) berkaitan dengan pengetahuan niskala, kepada Tuhan,  (sedangkan) ke jaba terkait agama atau ilmu pengetahuan sekala, pengetahuan kepada masyarakat. Bisa dalam bentuk dharma wacana, dan lain sebagainya. Itulah fungsi beliau,” jelas Jero Gede Batur Kawanan. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *