Tari Gandrung Sambut “Gubernur Koster”

posbali.id

TARIAN Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Kesenian ini masih satu genre dengan semisal Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang atau sejumlah wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).

Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian ini dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari Gandrung) dan laki-laki (Pemaju) yang dikenal dengan Paju.

Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan Gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari Gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Tarian itulah yang menyambut rombongan “Gubernur Bali 2018 Wayan Koster” ketika melakukan upacara mejaya-jaya di Pura Tirta Wening Banyuwangi, Selasa (16/8) lalu di bawah hujan gerimis. Koster tidak main-main mempersiapkan diri sebagai calon gubernur (cagub) Bali, dengan mempersiapkan diri secara sekala dan niskala.

Malah, Koster sudah disambut bak Gubernur beneran di Banyuwangi saat itu oleh masyarakat dan tokoh-tokoh Hindu di Banyuwangi. Ia disertai 150 relawan Koster Bali Satu (KBS), 81 pemangku dan dua pendeta Hindu.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuhbelasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya.

Kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabatnya hutan Tirtagondo (Tirta Arum) untuk membangun ibu kota Blambangan pengganti Pangpang (Ulupangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada 2 Februari 1774 di Ulupangpang.  Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu. 021/dtk

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!