Tanpa Izin, Penambangan Batu Pilah Distop

Pasca Bencana Longsor di Pacung

 

BULELENG, POS BALI ONLINE – Kejadian longsor batu pilah di Banjar Dinas Alas Sari, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yang menewaskan satu orang yakni Ketut Sutarsana (50) dan satu orang luka serius Komang Kardiasa (27), membuka tabir bahwa di lokasi tersebut terdapat aktivitas penambangan batu pilah disinyalir tanpa mengantongi izin. Pasca adanya kejadian itu, kini aktivitas penambangan tersebut distop untuk sementara waktu.

Wakapolres Buleleng, Kompol. Ronny Riantoko mengatakan, unit Reskrim Polsek Tejakula masih melakukan upaya penyelidikan terkait longsornya batu pilah di Desa Pacung yang menewaskan satu orang. Bahkan untuk melengkapi proses penyelidikan ini, ia telah meminta anggota membuatkan laporan dan mendata tempat-tempat pencarian batu pilah di Desa Pacung termasuk di desa sekitarnya.

“Kami sudah minta untuk didatakan pemilik atau pengelolanya, kemudian harganya dari tingkat buruh gali sampai dengan pengepul. Dan kepada warga, kami minta agar menghentikan kegiatan penambangan batu pilah ini untuk sementara waktu, sambil menunggu pemeriksaan dari pihak kepolisian,” kata Wakapolres Ronny.

Hal senada dikatakan Kapolsek Tejakula, AKP. Wayan Sartika. Menurut Sartika, aktivitas penambangan batu pilah di Desa Pacung khususnya di lokasi kejadian tanpa dilengkapi izin. Meski begitu, ia sudah memintai keterangan beberapa saksi baik itu Bangkit yang selamat dari longsor termasuk pemilik lahan dan yang dikontrakkan.

“Masih tahap lidik, ada 4 orang saksi yang sudah kami mintai keterangan. Pekerjaan itu tanpa ada ijin. Dari hasil pemeriksaan, memang tidak ada unsur kelalaian, itu murni musibah kecelakaan kerja. Pihak keluarga korban juga sudah menerima kejadian ini sebagai musibah,” ujar Kapolsek Sartika.

Berdasarkan data yang telah dihimpun menyebutkan, titik keberadaan batu pilah paling banyak ada di sekitar wilayah Pura Ponjok Batu seperti di sekitar Desa Pacung, Desa Julah, hingga Desa Sembiran. Untuk di wilayah Desa Pacung diperkirakan ada 20 hingga 50 titik tambang batu pilah. Namun, tidak semua titik keberadaan batu pilah yang produktif. Sebab, ada beberapa titik yang tertutup lapisan batu tebal dan ada juga yang tipis.

Selama ini, sebagian besar warga di Desa Pacung berprofesi sebagai pencari batu pilah sejak bertahun-tahun lamanya untuk penghasilan sehari-hari mereka. Meski beresiko dan lokasinya jauh dari pusat desa, warga melakoni profesi ini karena tidak ada pekerjaan lain. Batu pilah ini diambil dengan melakukan penggalian dengan alat seadanya seperti linggis, palu dan alat-alat lainnya.

Dengan adanya kejadian itu membuat pemerintahan Desa Pacung, mulai mempertimbangkan opsi menertibkan tambang batu pilah di wilayah tersebut. Jikapun dilarang pemerintah daerah, pihak desa meminta harus dicarikan solusi terbaik bagi warganya yang sehari-hari bekerja sebagai penambang batu pilah.

Perbekel Desa Pacung, Made Yasa mengatakan, tidak semua lahan produktif untuk aktivitas penambangan batu pilah, ada beberapa yang tidak produktif. Biasanya warga mencari lokasi yang tertutup batu lapisan tipis, melakukan aktivitas penambangan batu pilah. “Kalau satu titik tidak berhasil, mereka pindah cari titik lain. biasanya, warga cari yang lahan tertutup batu lapisan tipis, itu bisa ratusan hektare dari barat sampai ke timur desa,” jelas Yasa.

Meski begitu Yasa juga tidak menampik, jika sebagian besar warganya itu yang melakukan aktivitas penambangan batu pilah tanpa mengantongi izin. Kata dia, selama ini warganya hanya melakukan aktifitas tambang secara tradisional. Hasilnya pun tidak pernah bermasalah.

“Dalam waktu dekat kami akan mengumpulkan para penambang untuk rapat bersama. Kedepan mungkin aktivitas penambangan di sekitar radius dang kahyangan saja. Nanti kami akan tata ini, biar samasama jalan. Karena ada lahan adat, lahan pribadi. Kalau ada masalah seperti ini, biar jelas siapa nanti yang harus tanggung jawab,” ucap Yasa.

Namun, jika nanti aktivitas warganya dilarang, ia kini meminta pemerintah memberikan solusi. Sebab, ada ratusan warga yang menggantungkan hidupnya sebagai penambang batu pilah. “Ya, kami ingin warga dapat solusi, selama ini warga kami kan hidupnya dari sini. Mudahmudahan, pemerintah mengerti,” pungkas Yasa. 018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *