Tanggapi Pembangunan Bali dengan Akal Sehat

I Ketut Wiana

PEMBANGUNAN apapun yang dilakukan manusia di dunia ini tidak ada yang mutlak baik atau mutlak buruk. Demikian juga di Bali setiap upaya pembangunan pasti ada aspek negatifnya dan sisi positifnya. Karena itu jangan menanggapi pembangunan itu dengan cara-cara emosional dengan garakan “suryak siu”.

Sebelumnya wajib dikaji secara ekademis dengan mengedepankan kecerdasan ditopang oleh ilmu sesuai bidangnya masing-masing. Seperti zaman Orde Baru dahulu ada masalah pembangunan di Tanah Lot, Tabanan, yang terkenal dengan BNR. Saat itu pemerintah berani tegas memutuskan mengambil jalan tengah, akhirnya pembangunan jalan. Sekarang 18 pura di sekitarnya terpelihara dengan baik, Pantai Tanah Lot semakin indah, 80 persen karyawannya dari penduduk setempat.

Selain itu, Pemda Tabanan juga mendapat sumber income (pemasukan) miliaran rupiah. Seni budaya di sekitarnya pun menjadi semakin maju. Tetapi, kalau dicari kekurangan dan kelemahannya tentu ada. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Yang sempurna itu hanyalah Tuhan.

Sekarang ada rencana proyek kabel listrik Jawa-Bali akan dibentang tinggi melebihi seratus meter. Ada lembaga pemerintah dan PHDI juga menolak karena dianggap menodai kesucian Bali. Tentunya penolakan itu sah-sah saja. Penolakan itu tentunya harus dijelaskan secara konsepsional dari sudut pandangan Hindu dan budaya Bali. Disamping itu, saya yakin ada jalan lain agar kebutuhan listrik Bali terpenuhi.

Untuk mencari jalan lain itulah mari ke depankan kajian akademis yang cerdas dan bijak agar di satu sisi kesucian Bali terjaga, namun kebutuhan listrik Bali dapat terpenuhi. Kalau mau semua pihak tidak cepat-cepat emosi senanatiasa mengedepankan akal sehat dan kajian ilmu pengetahuan, saya yakin pasti ada jalan keluarnya.

Mencemari kesucian Bali harus mampu dijelaskan berdasarkan konsep sastra Hindu dengan jelas. Kalau itu sudah ada memang harus kita tegakkan demi menjaga nilai-nilai Hindu yang sudah membudaya di Bali. Tetapi saya tetap yakin ada alternatif lain dan itu menjadi domain para ilmuwan.

Sutet listrik Jawa-Bali kalau didiskusikan dengan baik-baik tanpa emosional pasti ada alternatif lain kalau memang yang direncanakan saat ini dianggap mengganggu kesucian Bali. Tapi mari tunjukkan buktinya berdasarkan sastra Hindu. Tapi cobalah carilah alternatif lain yang tidak dapat dipandang mengotori Bali. Karena kegunaan listrik juga untuk kepentingan menunjang kegiatan suci baik di pura atau saat ada kegiatan upacara agama dan yang sejenis itu. Demikian juga proyek Geotermal Bedugul dari studi para ahli sangat layak, tetapi juga kena “suryak siu”. Sampai sekarang proyek itu tidak jelas kelanjutannya.

Di zaman reformasi pemerintah sepertinya masih takut pada suara “suryak siu”. Seperti masyalah reklamasi Teluk Benoa, yang menurut dokumen tertulis justru Teluk Benoa itu akan diperbaiki agar kembali menjadi alam yang alami dikembalikan menjadi teluk yang lebih baik, baik menyangkut alam dan budayanya. Itu direncanakan oleh 10 profesor, 6 doktor, 4 magister dari berbagai bidang ilmu termasuk dari Bali yang dikoordinatori oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan KementErian Perikanan dan Kelautan.

Dari kajian, AMDAL-nya sudah sangat memadai, baik mengeksistensikan segi positif dan mengatasi segi-segi negatifnya. Laut Teluk Benoa itu dalam program reklamasi akan digali sedalam menjadi 8-10 meter dan dibuat beberapa pulau dan dibangun taman internasional. Pulau Pudut yang 8 hektaran kini masih satu hektar akan dikembalikan dan di sana akan dibangun pura, museum, gedung pameran kesenian, dan ada gedung teater untuk pentas kesenian daerah, nasional, dan internasional.

Ada beberapa campuan akan dibersihkan dari berbagai kotoran limbah agar kembali menjadi kawasan suci. Hutan bakaunya akan ditata dan diperluas, karena itu kawasan suci dan air yang masuk ke hutan bakau itu agar seimbang antara air laut dan air tawar, sehingga, bisa menghidupi hutan bakau. Tidak seperti sekarang ada beberapa bagian hutan bakau tidak bisa tumbuh karena antara air tawar dan air laut tidak bercampur seimbang masuk wilayah hutan bakau itu.

Tanpa reklamasi kehancuran Teluk Benoa akan berlanjut. Saat air surut 85 persen lautnya jadi daratan. Campuan-nya semakin kotor dengan berbagai limbah. Tanah penduduk yang ada di tepi Teluk Benoa sudah digenangi lumpur kotor dan tak dapat difungsikan. Pesisirnya tak bisa lagi untuk cari kepiting, dll. karena sudah dihuni biawak dan ular. Kalau hujan pasti banjir di sekitar Teluk Benoa. Sudah terbukti banjir bahkan pernah merambah beberapa areal bandara.

Menurut sumber tertulis yang resmi di Pemerintah tidak ada program reklamasi Teluk Benoa menimbun laut menjadi daratan. Itu tak pernah saya baca dalam konsep AMDAL-nya. Karena “suryak siu” itu Pemerintah sampai saat ini membiarkan izin AMDAL itu ngambang. Kalau memang aspek yang dianggap negatif dibahas secara akademis dengan pikiran tenang, berbagai hal yang dianggap bermasalah pasti bisa diatasi dengan baik. Kalau ngototngototan dengan emosi meledak-ledak pasti kehancuran Teluk Benoa berlanjut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *