Stok 84 Jenis Obat di RSUD Buleleng Kosong

posbali.id

BULELENG, POSBALI.ID – Manajemen RSUD Buleleng kini benar-benar patut dipertanyakan. Pasalnya, persoalan demi persoalan terus mencuat di RSUD Buleleng, akibat amburadulnya sistem manajemen di RSUD Buleleng. Kini yang lebih parah, hal paling vital yakni stok obat-obatan yang tersedia di RSUD Buleleng justru kosong. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 84 jenis obat di RSUD Buleleng kosong. Dampaknya, masyarakat Buleleng yang bakal menjadi korban.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng, Gede Wiartana tidak menampik, jika 84 jenis obat kini kosong. Namun Wiartana berkilah, permasalahan kekosongan obat ini terjadi secara nasional. Artinya, tidak hanya terjadi RSUD Buleleng saja. Bukan itu saja Wiartana menyebutkan, jika obat yang kosong hanya obat yang jarang digunakan atau obat yang tidak mendasar.

“Memang 84 jenis obat kosong, tapi obat itu jarang dipergunakan. Misalnya, obat penghilang nyeri Asam Mefenamat, kami ganti dengan Natrium Diklofenak yang efeknya sama. Ini terjadi nasional kok. Solusinya, saya sudah perintahkan tim pelayanan di rumah sakit untuk membeli obat jenis lain, namun dengan efek yang sama,” kata Wiartana.

Akibat kondisi ini disebut Wiartana terjadi secara nasional, kondisi ini juga sudah dibahas ke tingkat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. “Masalahnya ada di distributor, kami yang kena getah. Pertanyaan itu seharusnya ada di pihak distributor, terus terang kami malu dengan kondisi begini, kelihatannya kami yang konyol,” kilah Wiartana.

Dijelaskan Wiartana, kekosongan obat ini sejak 2014 pasca diterapkan sistem pembelian obat melalui sitem e-katalog oleh Kemenkse RI. “Kalau memesan di e-katalog harus cepat-cepat. Siapa cepat dia dapat, kalau obatnya kosong tidak ada jaminan dari distributor,” ungkap Wiartana.

Untuk mengantisipasi kekosongan obat, kata Wiratana, pihaknya terkadang dengan terpaksa membeli obat di luar e-katalog, melalui Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Sehingga, harus ada negosiasi agar harga obat tidak jauh betbeda dengan yang diterapkan di e-katalog. “Kami sebenarnya takut ini akan menjadi temuan BPK. Kami sudah minta dari pihak distributor buat kronologi terkait kekosongan itu, agar kami bisa beli obat diluar tapi tidak dibuatkan,” dalih Wiartana.

Kondisi kekosongan obat ini kini mendapatkan sorotan dari lembaga DPRD Buleleng, melalui Ketua Komisi IV DPRD Buleleng, Wisna Wisnaya mengaku, akan segera membahas hal ini di meja dewan Buleleng. Sebab Wisnaya menilai, jika Dirut RSUD Buleleng justru mengkambinghitamkan kosongnya obat inoli dengan sisitem e-katalog. Untuk itu ia meminta, agar RSUD segera mencari solusinya, agar kekosongan obat tidak berangsur lama.

“Semestinya direktur tidak semata-mata mengkambinghitamkan e-katalog. Masak rumah sakit sebesar itu, rumah sakit dengan akreditasi paripurna tidak mampu memecahkan solusi. Apalagi obat-obatan itu menjadi tanggungan BPJS. Kalau bisa dalam sebulan ini obat-obatan itu harus sudah tersedia. Kalau tidak bisa segera kami komunikasikan, kami ajak duduk bersama, sebab ini menyangkut pelayanan publik,” tandas Wisnaya Wisna. 018

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *