Stigma Negatif pada Investror

posbali.id

I Ketut Wiana

 

NIHAN kramanyan pinetelu, ikang sabhaga sadhana rikasidaning dharma, ikang ping rwaning bhaga saadhanarikasidaning kaama ika, tiga saadha ning artha ika, wrddhyakene muwah. (Sarasamuscaya 262).

Artinya: Demikianlah hendaknya dibagi tiga Arjana atau penghasilan itu: sebagai sarana mensukseskan tujuan Dharma, sebagaian untuk mengendalikan keingingan atau Kaama dan sebagian untuk sarana mengembangkan Artha.

Di media kita sering ada pernyataan berbagai pihak yang nyeleneh memberikan stigma negatif pada investor. Padahal, investor itu sama juga dengan yang lainya seperti tokoh-tokoh  LSM, pejabat pemerintahan, politisi, militer, ilmuwan, pemimpin agama, adat, dll. Ada yang benar, baik dan berbuat tepat sesuai dengan swadharma-nya masing-masing. Tetapi masing-masing mereka itu ada juga yang tidak benar, tidak baik bahkan sampai melanggar hukum.

Menjadi investor itu sangat dianjurkan oleh ajaran agama Hindu. Kalau ada orang yang bisa hidup hemat, cermat, tepat dan tetap bermartabat sampai bisa memiliki dana, wawasan serta keahlian di bidang ekonomi tentunya sangat tepat menjadi investor. Karena, investasi itu diarahkan pada sektor-sektor ekonomi potensial  menuju kegiatan ekonomi real yang tentunya secara nyata dapat meningkatkan produktivitas barang dan jasa yang dibutuhkan rakyat. Juga dapat menyerap tenaga kerja, pajak untuk negara.

Inilah sesungguhnya salah satu bentuk pengamalan hidup beragama sebagai yadnya nyata pada rakyat yang dapat digolongkan Manusa Yadnya. Dalam Lontar Agastia Parwa dinyatakan: “Manusa Yadnya ngarania maweh  apangan ring kraman. Artinya: Manusa Yadnya namanya memberikan makanan pada masyarakat.

Ini artinya, investor yang mampu mengupayakan menyiapkan lapangan kerja pada masyarakat agar masyarakat punya penghasilan menunjang hidup, itu juga yadnya utama. Maka, sangat tidak tepatlah memberikan stigma negatif itu kepada investor secara gebiah uyah. Mengapa dalam tulisan ini kami ketengahkan stigma negatif itu pada investor, karena ada beberapa oknum yang bicara sembarangan memberi stigma negatif dan latah tanpa data.

Di Bali ada kata-kata bijak atau Subha Sita yang menyatakan“Jele melah wenang sambat”. Artinya, baik buruk wajib dinyatakan. Kalau memang ada investor yang punya data buruk misalnya melanggar hukum dalam memproses investasinya,  hal itu harus secara jelas dengan fakta yang valid dan bertanggung jawab dinyatakan. Selanjutnya harus ada keberanian memproses melalui prosedur hukum yang berlaku.

Sebaliknya, kalau ada investor yang melakukan investasi yang benar mengikuti prosedur hukum dan tata pemerintahan yang berlaku dalam melakukan investasi, wajib didukung dangan kritis, cerdas dan bijak. Misalnya investasi yang dilakukan tidak boleh melanggar HAM, hukum, lingkungan dan ciri khas budaya, seperti ditetapkan oleh UNDP badan pembangunan dunia di bawah PBB.

Pada kutipan Sarasamuscaya di awal tulisan ini, memang sangat dianjurkan umat untuk menjadi investor dengan menyatakan:  saadhaning artha ika, wrddhya kene muwah. Artinya, penghasilan itu agar sebagian disisihkan untuk pengembangan Artha. Apalagi dalam Canakya Nitisastra I.9 dinyatakan, salah satu unsur yang seyogianya ada di setiap pemukiman adalah Dhanada, artinya para investor.

Investor yang benar, baik dan wajar hendaknya bersinergi dengan Pandita, Raaja, Waidya (ahli kesehatan) untuk mengolah Nadi atau air sumber alam yang dapat dikembangkan membangun lingkungan alam yang merupakan kebutuhan hidup yang paling strategis. Investor harus mampu menumbuhkan nilai-nilai mental spiritual dan fisik material secara seimbang, terpadu dan berkelanjutan. Hal itu harus berkelanjutan membangun manusia seutuhnya dan seluruhnya. Keterpaduan itu akan menjadi amat berguna untuk memajukan pembangunan yang kreatif, inovatif, positif dan produktif yang membawa bangsa menjadi bangsa yang aman, damai dan sejahtera.

Di daerah di manapun investor itu berinvestasi, wajib menyiapkan konsep yang mampu membuat investor internasional dan nasional berkolaborsi secara terpadu saling menguntungkan dengan inverstor daerah. Semua investor itu jangan saling berhadapan secara dikotomis bersaing saling menjatuhkan. Tidak ada kemajuan tanpa persaingan.Tetapi persaingan yang membawa kemajuan adalah persaingan yang sportif jujur berlomba saling meningkatkan mutu produk.

Untuk membangun iklim persaingan ideal seperti itu, semua pihak terutama pejabat yang duduk di lembaga pemerintah dan para ilmuwan yang membidanginya mendapat peluang dan berperan maksimal sebagaimana mestinya untuk mengemukan kesahihan ilmu dan pengalamannya. Mari lanjutkan tema Kerajaan Majapahit: Metreka Satata – artinya: mari bangun persahabatan dalam segala bidang kehidupan. Tunjukkan bahwa ciri manusia adalah hidup secara harmonis dengan manusia lainya.

Homo homini sosius, kata Bung Karno.Yang utama sekali bagi Bali adanya konsep yang benar-benar cerdas, ilmiah, bijak, berbudaya dan memiliki dasar hukum dan kelembagaan yang kuat menyangkut investasi di Bali. Bergagai pihak paham dengan benar apa itu investor.  Jangan main  hujat dengan ngawur anti-investor tanpa ada dasar yang valid tentang investor tersebut. Buat para investor berkolaborasi gotong-royong membangun Bali yang Bali sebagai bagian dari negara Nusantara ini.

Andaikata pembinaan kehidupan beragama dapat membuat manusia tidak hidup hedonis mengumbar nafsu. Kalau banyak orang bisa hidup hemat, cermat dan bermartabat terus saling bekerjasama, saya yakin akan muncul investor-invertor besar atau kecil yang siap saling bekerja  sama dengan semua pihak atas landasan norma agama, susila, kesopanan dan norma hukum. ***

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *