Sosialisasi apron barat bandara masih tunggu bendesa Kuta yang baru

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Belum adanya sosialisasi dari pihak Angkasa Pura I Ngurah Rai ke Desa Adat Kuta, tidak dipungkiri masih menjadi pertanyaan yang berkembang di masyarakat. Pasalnya perluasan apron sisi baray dengan metode reklamasi tersebut, belum diketahui dampaknya terhadap Kuta yang notabene destinasi pariwisata internasional. Untuk itu komponen terkait di bandara diminta untuk memperjelas rencana tersebut, seperti apa langkah sosialisasinya. Sebab diketahui proyek perluasan tersebut ditarget selesai pada akhir bulan September, terkait hajatan IMF World Bank pada bulan Oktober 2018. “Perluasan appron bandara Ngurah Rai ini tentu akan kita dukung, sebab manfaatnya kedepan sangat banyak. Selain sebagai fasilitas pendukung penyelenggaraan IMF, ini juga seiring dengan peningkatan target kunjungan wisatawan ke Bali. Namun harus jelas seperti apa kajiannya, pemaparannya dan upaya apa yang dilakukan jika terjadi dampak yang ditimbulkan. Sebagian besar masyarakat kami masih mempertanyakan hal itu, karena tidak ada sosialisasi,”terang salah seorang tokoh masyarakat Kuta, I Gusti Anom Gumanti, Senin (20/8).

 

Pihaknya kurang mengerti kenapa sosialisasi tersebut belum dilakukan pihak Angkasa Pura di Kuta, padahal proyek tersebut sudah berjalan dan telah disosialisasikan kepada warga Desa Adat Tuban dan Kelan. Sebagai masyarakat penyanding, tentu masyarakat Kuta sangat wajar mempertanyakan hal tersebut. Ia menilai harus ada penyamaan sikap kepada Desa Adat Kuta, apalagi perluasan tersebut akan berdampak langsung kepada Kuta nantinya. “Seperti apa bentuknya dan apa langkah yang dilakukan jika terjadi dampaknya, termasuk sumbangsih nanti kedepannya harus jelas. Sebab ini secara langsung dan tidak langsung akan berdampak kepada pantai Kuta dan kepada nelayan kami. Kami khawatir nelayan kami menjadi hilang mata pencahariannya, dan masa depannya kedepan seperti apa. Ini perlu jawaban dari pihak bandara, seperti apa proteksinya kedepan tentang hal itu,”paparnya.

 

Sosialisasi dan pemaparan kajian tersebut dinilai sangat mendesak untuk dilakukan, sebab hal itu menjadi pertanyaan masyarakat Kuta. Jika pihak angkasa pura ragu melakukan sosialisasi dikarena belum resminya struktur kepemimpinan bendesa yang baru. Ia menilai sosialisasi tersebut bisa dilakukan dalan kemasan lain, sebab Informasi ini sangat penting, minimal bisa membuat tenang hati masyarakat. Sebab masih ada kelian adat, kepala lingkungan dan tokoh masyarakat yang memiliki kompetensi untuk berbicara dan menyampaikan aspirasinya. “Struktur bendesa Kuta yang baru memang belum terbentuk, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk menunda-nunda sosialisasi. Sosilisasi itu bisa diwakili dari representasi kelian masing-masing banjar dan kaling, didukung tokoh masyarakat Kuta. Saya siap menghadirkan seluruh tokoh untuk hadir dalam sosialisasi ini,”desaknya.

 

Selain itu sosialisasi dinilainua juga bisa dilakukan dengan melibatkan partisipasi lurah sebagai representasi keterlibatan pemerintah daerah. Dimana lurah yang akan mengundang masyarakat untuk hadir dalam sosialisasi. Jika pohak angkasa pura yang menemui masyarakat maka masyarakat juga siap diundang ke kantor angkasa pura untuk mendapatkan sosialisasi tersebut. “Yang penting kan informasi ini lengkap diterima oleh masyarakat, jadi jangan menunda-nunda waktu. Kami tunggu waktunya sosialisasi ini kepada masyarakat kami di Kuta,”pungasnya.

 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian Humas dan Hukum PT Angkasa Pura I Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim mengaku akan berkoordinasi dengan bendesa adat Kuta yang baru. Hal tersebut agar pihaknya tidak menhalahi prosedur dan memastikan ketepatan penerimaan informasi terkait, yang mewakili 3 desa adat penyanding. Pihaknya juga mengaku siap berkomunikasi dengan lurah Kuta, dalam kesempatan pertama. “Kami sadar betul bahwa keterlibatan dan partisipasi masyarakat adat Kuta ini sangat penting dalam proses pembangunan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai. Pada prinsipnya kita berkomitmen bahwa nantinya jika terjadi akibat yang kurang bagus akibat pembangunan fasilitas Bandara, kami siap untuk bertanggungjawab sepenuhnya. Hal ini senada dengan komitmen kami didepan pemerintah, saat kami melakukan proses perizinan,”terangnya.

 

Sejauh ini progres pekerjaan pengembangan fasilitas IMF di Bandara Ngurah Rai, pertanggal 12 Agustus sampai dengan 18 Agustus 2018 masih sesuai rencana. Dimana untuk paket 1 design and build pekerjaan pematangan lahan pantai sisi barat (reklamasi) dan konstruksi apron barat pada minggu ke 23 sudah terealisasi 58,862 persen. Sedangkan paket 2 design and build pekerjaan konstruksi Apron Timur dan Pemindahan SewageTreatment Plant (STP) pada minggu ke 30 terealisasi 92,252 persen. Serta paket 3 design and build pekerjaan Gedung VVIP, Base Ops TNI dan Penggantian Line Maintenance Airlines pada Minggu ke 26 terealisasi 82,327 persen. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!