Sidak Penduduk Musiman di Tuban

Ratusan Duktang Belum Urus Administrasi dan Belasan Sajam Disita

 

SIDAK penduduk non permanen juga digencarkan oleh Desa adat Tuban, pasca kasus perampasan dan penganiayaan terhadap salah seorang anggota Brimob Polda Bali di area parkir Hotel Ayana Jimbaran.

Jumat (11/8) ratusan U.01208171415 penduduk non permanen yang tidak mengurus administrasi, belasan senjata tajam (sajam) berhasil diamankan oleh pengamanan terpadu Tuban, yang beranggotakan Linmas Kelurahan Tuban, Patroli Keamanan Desa (PKD) Tuban, Pam Swakarsa Tuban, Pecalang, Satgas keamanan desa adat bersama dengan pihak Babinsa dan Babinkamtibmas.

“Ada 134 orang Duktang yang tak melaporkan diri ke Desa Adat Tuban, 130 orang di antaranya dilengkapi dengan KTP dan empat orang tak memiliki KTP dengan alasan hilang. Selain itu, kami juga temukan senjata tajam (sajam) yang jumlahnya 18 unit, dan itu diakui untuk dijual oleh si pemilik,”terang Bendahara Pecalang Desa adat Tuban, I Ketut Sudiarta.

Dijelaskannya, tujuan pelaksanaan Sidak sebenarnya bukan hanya untuk mendata penduduk, yang belum taat melaporkan diri dan belum memenuhi kewajiban administrasinya. Hal tersebut juga sekaligus untuk meminimalisir potensi kejahatan yang bisa saja muncul di Tuban, serta untuk membantu pihak Kepolisian mencari pelaku perampasan dan penganiayaan yang dilakukan kepada salah seorang anggota Brimob Polda Bali. “Yang kami sasar ada tiga objek, yaitu penduduk non permanen yang tak melengkapi adminatrasi, senjata tajam (Sajam) dan senjata api (Senpi). Tapi di lapangan kita juga temukan WNA yang tinggal di permukiman penduduk,”ujarnya.

Terkait 18 sajam yang ditemukan tersebut, ternyata belum memiliki izin penjualan dari yang berwajib, karena itulah senjata tersebut disita dan diserahkan kepada pihak kepolisian. Tujuannya adalah agar pemilik bisa diberikan pembinaan dan melengkapi izin penjualan barangnya.

Sementara untuk penduduk non permanen yang tak memiliki KTP karena mengaku hilang, mereka diarahkan kepada kepolisian untuk segera membuat surat kehilangan dan diberikan sanksi sosial, dengan membersihkan ruangan kantor desa.

Untuk temuan WNA, pihaknya mengaju belum menemukan adanya pelanggaran, semuanya memiliki Kitas. Kendati demikian hal tersebut, menurutnya, perlu terus dipantau, sebab diketahuinya WNA yang menyewa kontrakan marak terjadi.

Sementara Kapolsek Kuta, Kompol Wayan Sumara menerangkan pihaknya masih mendalami dan mendata terkait temuan sajam di rumah warga. Baik itu terkait perizinan maupun di mana memesan, dari perusahaan mana dan di mana saja wilayah jualnya. Hal tersebut sangat perlu dipastikan untuk memperjelas jaringannya siapa, apakah tidak ada sangkut paut dengan tindak kriminal.

“Kalau ada izinnya tentu tidak ada masalah, jadi masyarakat boleh membeli di sana. Tapi harus jelas peruntukannya untuk apa, jangan sampai disalahgunakan. Di pasar juga banyak yang menjual sajam, tapi jenisnya apa dan peruntukannya untuk apa harus jelas,”paparnya.

Terkait temuan enam WNA yang menginap di rumah penduduk, ia menyerahkan kewenangan tersebut sepenuhnya kepada pihak terkait, yaitu Imigrasi untuk menanganinya. Namun ditekankannya agar setiap warga yang menerima warga asing harus memberitahukan kepada kepolisian, bahkan Kalingpun harus pro aktif mendata di lapangan dan melaporkannya. Sebab jika ada apa-apa di bidang keamanan, hal tersebut menjadi tanggung jawab pihaknya di kepolisian.

Lurah Tuban, Ketut Murdika tidak memungkiri temuan senjata tersebut. Yang bersangkutan mengaku berdagang online untuk berjualan sajam. Pihaknya tidak menyalahkan adanya sistem penjualan tersebut, sebab saat ini zaman sudah modern dan IT berkembang pesat. Sedikit saja peluang yang bisa menghasilkan uang tentu akan dilirik masyarakat. Namun penjualan sajam dengan cara online tentunya harus mendapatkan izin penjualan secara resmi. Sebab usaha tersebut sangat riskan disalahgunakan, jangan sampai hal itu merugikan dan menambah potensi kriminal. gay

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *