Seutas kisah pilu diri kawasan pariwisata Badung 

posbali.id
Kakak beradik, jadi ibu rumah tangga sekaligus rawat ayahnya yang terbaring tak berdaya

 

MANGUPURA, POS BALI – Ditengah keceriaan masa anak sekolah yang identik dengan masa belajar dan bermain. Namun nasib kakak beradik, yaitu I Gede Dede Pasek Sugiartha (13th) dan Ni Kadek Putri Udayani Sedayu (9 th) tidak berlaku seperti anak pada umumnya. Bagaimana tidak, kedua anak yang tinggal disebuah kost-kostan di jalan Sri Wijaya, gang Darma Kerti Legian, harus merawat ayahnya yang tidak berdaya dan hanya terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Hal tersebut dikarenakan ayahnya tersebut mengalami sakit yang tak kunjung sembuh sejak 2 tahun belakangan ini. Bahkan untuk aktifitas memasak, mereka harus bergantian melakukan rutinitas hal tersebut. Lantaran ibu mereka diketahui sedang merantau ke Papua dan telah bercerai dengan ayahnya. “Saya belajar masak dari kelas 2 SD, pertamanya coba-coba goreng telu sendiri, setelah itu baru lanjut memasak nasi dengan magickom,”ujar Dede ditemui, Kamis (21/2).

 

Aktifitas layaknya seorang ibu rumah tangga sering dilakukan dede, seperti mencuci pakaian, memasak, bersih-bersih dan berbelanja ke pasar. Bahkan tak jarang ia yang memandikan ayahnya yang terbaring tak berdaya. Selama ayahnya sakit, ia mengaku memasak dari pemberian rekan ayahnya yang menjenguk. Tak jarang teman ayahnya tersebut memberikannya uang untuk dipergunakan berbelanja sehari-hari. “Kadang masak, tapi kadang juga beli lauk nasi. Kalau pagi biasanya beli dulu ke pasar, setelah itu baru sekolah. Siangnya baru memasak nasi, kadang dengan mie, telur atau nuget. Sehari itu habis Rp 100 ribu termasuk bekal untuk sekolah,”ungkapnya.

 

Beruntungnya selama ini untuk bersekolah, ia sama sekali tidak dikenakan biaya apapun. Hanya kebutuhan sehari-hari saja yang terkadang ia beli seperlunya. Kendati ia bersekolah kelas 3 SD dan adiknya kelas 2 SD, namun umurnya kedua anak tersebut sebenarnya diatas rata-rata. Hal terstebut diketahui karena kedua anak tersebut juga lambat umur untuk masuk sekolah. Selama ini ia bersama adiknya bergantian menjaga ayahnya, tergantung aktifitas sekolah yang mereka ikuti. “Kalau sekolah sih tidak merasa terganggu, karena keadaan. Cuma khawatir saja ninggalin bapak sendiri. Dulu pernah sampai tidak sekolah, karena bapak sakit. Kasian lkalau ditinggal sendiri,”jelasnya.

 

Dedd sendiri mengaku merupakan penggemar dari Bali United, khususnya Irfan Bachdim dan Silviano Comvalius. Jarak antara rumahnya dan lapangan tri sakti, tempat pemain bali united latihan membuat pihaknya beberap kali menonton kepiawaian idolanya tersebut berlatih. Dimana ia juga memiliki cita-cita untuk menjadi pemain bola suatu saat nanti. “Kalau Putri ingin jadi dokter, supaya bisa nyebuhin bapak,”imbuh Putri.

 

Ayah Dede, yaitu I Made Artha (59). ditemui ditempat kostnya terlihat memang kurus kering tak berdaya. Jangankan berdiri, bahkan untuk duduk pun pria kelahiran 59 ini tak mampu. Ha tersebut dikarenakan ayah dengan dua orang anak ini mengidap penyakit diabetes yang dia idap sejak 2 tahun terakhir. Hal tersebut diperparah lagi dengan pembekakan hati yang membuat ia perutnya kembung saat meminum air. “Sewaktu saya dulu melakukan pemeriksaan diabetes ke dokter, katanya saya didiagnosis mengalami pembengkakan hati. Dari sana saya dirujuk untuk dirawat dan dioperasi di RS Wangaya, tapi itu sangat sulit saya penuhi karena saya tidak punya biaya. Jadi saya cuma beli obat diabetes saja,”ujarnya.

 

Dengan berlinang air mata, pria yang mengaku tidak mengetahui keluarganya ini menceritakan nasib pilunya. Dimana untuk ke kamar mandi saja ia harus ngesot dan untuk naik ke atas kasur saja ia harus mencari selah yang memakan waktu cukup lama. Ia sendiri mengaku sudah tidak mampu beraktifitas seperti biasanya sejak dua tahun terakhir, namun tetap dipaksakan karena ia ingat menanggung 2 orang anaknya yang masih kecil-kecil. “Dulu pekerjaan saya nyupir di depan ramayana, itu freelance pak. Tapi sejak setahun lebih belakangan ini saya tidak mampu berbuat banyak. Seharusnya saya yang mengurus kedua anak saya, tapi sekarang berbalik saya yang diurus oleh kedua anak saya. Untuk makan saja saya hanya mengandalkan sumbangsih dari teman saya. Kadang ada teman yang memberikan saya uang, cuma itu yang saya pakai untuk memberikan bekal ke anak saya,”paparnya.

 

Artha sendiri diketahui sudah cerai dengan istrinya sejak tahun 2012, saat itu umur anaknya yang pertama baru beranjak 11 bulan dan anak kedua beranjak 3 bulan. Dari sanalah ia terus bertekad bekerja keras demi menghidupi kedua putranya tersebut. Namun sayangnya pria yang mengaku sudah tinggal di Kuta tahun 1978 ini terpaksa menjadi pesakitan, akibat diabetes dan pembengkakan fungsi hati. Bahkan dari kecil ternyata ia juga diketahui mengalami hernia yang tidak pernah dioperasi sama sekali. “Dulu saya tinggal di Kedonganan pak, tapi setelah cerai saya pindah ke Legian. Dulu kost saya tidak disini, tapi agak diselatan. Tapi karena banjir dan kondisi saya seperti ini, akhirnya saya pindah ke tempat sekarang. Saya berterimakasih karena saya sudah diizinkan tinggal di tepat sekarang,”ucapnya.

 

Ketika disinggung apakah pemerintah sudah pernah memberikan bantuan atau perhatian kepada pihaknya. Ia terdiam tak mampu menjawab apapun, sebab ia sadar bahwa ia hanya seorang perantau yang KTPnya masih berdomisili di Br Gagah, Tegalalang-Gianyar. Pihaknya sebenarnya ingin meminta uluran perhatian Pemkab Badung, namun sayangnya KTP yang dimilikinya raib entah dibawa siapa. Hal tersebut terjadi ketika tahun 2014 ia sempat terjatuh dari pohon dan pingsan. Sementara ketika ia sadar, ternyata diketahuinya KTPnya telah raib dan tak jelas saat ini dimana keberadaanya. “Jadi dari tabun 2014 saya tidak punya KTP pan. Kalau mau diurus katanya harus ke tegalalang dulu, tapi keadaan saya tidak memungkinkan untuk itu. Tapi Kk dan Sim saya punya,”imbuhnya sembari menerangkan KTP nya terakhir dipergunakan ketika mendaftarkan sekolah anaknya di SDN 3 Legian.

 

Sementara IGN Tresna, selaku orang yang dimintai tolong untuk membelikan kursi roda, mengaku sempat terkejut melihat keadaan yang bersangkutan. Ia mengaku memang kenal yang bersangkutan karena istri dari Made Artha adalah temannya di Kedonganan. Namun setelah lama ia tidak berjumpa, tiba-tiba anak Made Artha datang ke rumahnya dengan diantar tukang parkir. “Saya kira siapa yang datang dengan meminta no hp saya. Katanya sih dia anak teman saya, setelah diceritakan baru saya ingat siapa Artha,”ujarnya.

 

Setelah ia memeberikan no hp pribadinya, beerselang sehari kemudian ia kemudian ditelepon oleh Artha yang menceritakan kondisinya. Ia kemudian dimintai tolong oleh yang bersangkutan untuk dibelikan kursi roda agar tida ngesot ke kamar mandi, dimana ia hanya mempunyai uang Rp 400 ribu itupun dari sumbangan pemberian tetangganya. “Saya kaget melihat kondisinya yang sedemikian rupa, dengan hanya didampingi 2 orang anaknya yang masih kecil. Kebetulan saya punya kenalan wisatawan dan saya sampaikan seperti itu, akhirnya tamu itu antusias untuk membantu Artha. Saat imlek kemarin itulah saya belikan kursi roda dari donasi pemberian tamu itu, sementara uangnya yang hendak dipakai untuk membeli kursi roda itu saya suruh untuk dipergunakan sehari-hari,”paparnya.
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

2 tanggapan untuk “Seutas kisah pilu diri kawasan pariwisata Badung 

  • 09/11/2018 pada 9:57 PM
    Permalink

    CHARLES SALE: FA chief executive Martin Glenn is in the unlikely position of holding the future leadership of troubled British Cycling in his hands as well as English football’s ruling body. British Cycling left at mercy of Football Association chief Martin Glenn

    Balas
  • 19/11/2018 pada 1:56 PM
    Permalink

    IAN LADYMAN AT ANFIELD: This is what Liverpool can do. This is why Jurgen Klopp was brought to Anfield, and this is why as long as the German stays there will always be hope. Liverpool 7-0 Spartak Moscow: Philippe Coutinho hat-trick leads Reds into Champions League last 16 as their ‘Fab Four’ attack crush Russians at Anfield

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!