Semua Agama Mengajarkan Toleransi dan Hidup Rukun

posbali.id

Dialog Keragaman NKRI, FKUB Bali – Universitas Wahid Hasyim, Semarang

 

SAAT ini isu intoleransi dan radikalisme atas nama agama marak berkembang di tengah negara melawan kejahatan terorisme. Agama seringgkali menjadi tameng aksi yang tak manusiawi tersebut.

Padahal jika dicermati kehadiran agama tak sekadar memperkuat iman dan keteguhan dalam beribadah. Tapi juga mengukuhkan persatuan, toleransi dan nilai-nilai kerukunan.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “ Merawat Kerukunan dalam Keragaman, Menghargai Keragaman dalam bingkai NKRI” yang berlangsung di Puri Den Bencingah, Jl Raya Besakih no 16 Klungkung, Minggu (7/8) malam.

Acara tersebut digelar serangkaian kunjungan Universitas Wahid Hasyim Semarang di FKUB Provinsi Bali. Para rombongan yang hadir terdiri dari mahasiswa dan dosen di lingkungan Fakultas Agama Islam kampus setempat.

Pada kesempatan tersebut Ketua FKUB Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menyambut baik rombongan yang difasilitasi  langsung oleh Taslim Syahlan, pengurus FKUB Semarang  sekaligus pengajar di Universitas Wahid Hasyim.

Pada kesempatan itu, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet yang juga Ketua Asosiasi FKUB Indonesia tersebut menjelaskan toleransi merupakan harga mati yang tak bisa diganggu gugat. Pancasila, kata dia bukan sekadar sebaga simbol toleransi tapi juga perekat dalam menyemai kerukanan di Nusantara.

Ia juga menegaskan, Bali  yang selama ini dinilai sebagai barometer toleransi di Indonesia, berkomitmen besar dalam menyikapi berbagai isu miring mengenai kebhinekaan saat ini.

Menurutnya menjaga kedamaian tak hanya dibutuhkan peran serta pemerintah atau instansi terkait tapi juga semua pihak tanpa terkecuali. Kedepan, kata dia Indonesia memiliki tantangan besar dalam menyikapi heterogenitas. Tanpa manajemen yang baik, benang kusut toleransi akan masih terjadi.

“Dalam kesempatan ini, peran mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi sebagai orangorang cendikiawan harus bisa memberikan kontribusi dalam hal toleransi,”ucapnya yang juga pengurus di MUDP Bali. Belum lama ini, kata dia beberpa agenda yang digelar di Bali terkait kerukunan kedepannya diharapkan bisa ditingkatkan sehingga nilai dan paham toleransi menyebar luas.

Kedepan, kata dia penting  dikumandangkan kebersamaan bukan perbedaan antar umat beragama. Ia mengingatkan agar dalam  menyikapi perbedaan seyogianya dilakukan dengan cara elegan. Misalnya, komunikasi sehingga mengakomodir kepentingan antar umat.

Ketua rombongan,  Dekan Fakultas  Agama Islam, Nur  cholid, M.Ag, M.Pd menjelaskan semua agama mengajarkan kebaikan sekalipun berbeda dalam keyakinan.

Pihaknya sebagai pengajar di lembaga keagamaan, menegaskan komitmen dalam mengembangkan nilai-nilai universal agama. Peran lembaga pendidikan tinggi, kata dia bukan sekadar mencetak sarjana yang banyak.

“Tapi juga mampu mentransformasikan nila-nilai  agama agar bisa hidup dalam multikultural dalam bingkai NKRI,”katanya di hadapan peserta diskusi. Di lembaga pendidikan yang ia pimpin misalnya, peran kurikukum sangat penting dalam menentukan pola pikir  dan karakter mahasiswa dalam memahami Indonesia dalam konteks nusantara.

Pada kesempatan itu diskusi berlangsung alot yang diikuti 90 peserta.  Hadir pada kesempatan tersebut pimpinan masingmasing majelis keunatan di Bali. Seperti PHDI, MUDP Bali, MUI, dan lainnya. 008

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!