Selang 5 hari, upaya penyelundupan dikirim lewat pos

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Petugas Bea Cukai Ngurah Rai berhasil melakukan tiga penegahan upaya penyelundupan sediaan narkotika, dengan tiga buah paket kiriman Pos pada awal bulan April 2018. Menariknya ketiga upaya penyelundupan tersebut dilakukan berselang 5 hari, dengan tujuan dan alamat pengirim berbeda-beda. Yaitu pada tanggal 2 April ke jalan Pertulaka Peguyangan Kangin (Denpasar Utara), 12 April ke jalan Raya Gilimanuk-Singaraja Desa Pejarakan (Buleleng) dan 17 April ke jalan Karang Tenget, Lingkungan Banjar Pesalakan (Badung). Pencegahan tersebut merupakan hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Anjing Pelacak Narkotika Bea Cukai dan hasil pencitraan X-Ray di Kantor Pos Denpasar. Namun sayangnya dalam paket tersebut, tidaklah disertai dengan nama pengirimnya. “Paket tersebut dikirim via Pos dengan alamat pengiriman berbeda-beda. Nama dan asal pengirim tersebut tidak disertakan pada ketiga paket. Namun dari hasil pengembangan, petugas mengamankan satu penerima yang dijadikan tersangka atas dugaan upaya penyelundupan barang terlarang. Hingga saat ini petugas kami belum dapat mengetahui keberadaan dua penerima lainnya,”terang Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Ngurah Rai Himawan Indarjono, didampingi Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil Bea Cukai Bali, NTB dan NTT, Husni Syaiful, Rabu (18/4).

 

Dipaparkannya untuk pencegahan pertama pada tanggal 2 April, dilakukan sekitar pukul 09.30 wita. Barang kiriman pos tersebut bernomor RG969080776BE, yang ditujukan kepada AMS. Dari hasil penyelidikan petugas, paket tersebut diketahui berasal dari Belgia. Awalnya tim anjing pelacak mencurigai adanya barang mencurigakan dalam isi paket tersebut, sehingga petugas melakukan pemeriksaan X-Ray dan fisik lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan, terungkap bahwa paket tersebut berisikan 1 (satu) buah kemasan berwarna silver, yanng berisi padatan kristal berwarna cokelat dengan berat 107,21 gram brutto. Setelah dilakukan pengujian di laboratorium Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe B Surabaya, hasilnya menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan Narkotika jenis Pentylone dan 4-Choloromethcathinone. Nilai edar barang terlarang tersebut berjumlah USD 1.929,78 atau setara dengan Rp 26.569.211. “Saat ini barang bukti dan pengembangan kasus terhadap barang kiriman AMS kita serahterimakan ke Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali. AMS sendiri masih terus kita selidiki keberadaanya,”sebutnya sembari menyatakan AMS diduga melanggar Pasal 54 ayat 4 UU Nomor 17 Tahun 2006, tentang Perubahan atas UU No 10 Tahun 1995, tentang Kepabeanan jo Pasal 113 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2009, tentang Narkotika karena diduga melakukan upaya penyelundupan sediaan Narkotika.

 

Sedangkan pencegahan kedua pada 7 April, dilakukan sekitar pukul 09.30 wita. Namun, barang kiriman pos tersebut tidak disertai nomor kiriman pos dan nama pengirimnya. Hal tersebut berhasil diungkap setelah adanya kecurigaan dari Tim Anjing Pelacak Narkotika, terhadap paket yang ditujukan untuk penerima berinisial J. Setelah petugas melakukan pemeriksaan X-Ray dan fisik lebih lanjut, diketemukan adanya sebuah plastik klip bening berisi bubuk berwarna putih dengan berat 1,04 gram brutto. Plastik klip tersebut dimasukkan ke dalam 2 buah kemasan plastik berwarna hitam. Selain itu ditemukan pula sebuah kemasan plastik klip berwarna hitam, yang berisi bubuk berwarna putih dengan berat 4,71 gram brutto. Dimana narang tersebut dimasukkan ke dalam kemasan plastik berwarna hitam. “Setelah pengujian narcotest, hasil menunjukkan bahwa bubuk putih tersebut adalah Narkotika jenis Kokain.”ujarnya.

 

Pelakua penerima barang sendiri diketahui berinisial J, namun yang bersangkutan belum diketahui keberadaanya hingga saat ini. Pelaku diduga melanggar Pasal 102 huruf e UU Nomor 17 Tahun 2006, tentang Perubahan atas UU No 10 Tahun 1995, tentang Kepabeanan jo Pasal 113 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2009, tentang Narkotika. Hal tersebut karena pelaku diduga melakukan upaya penyelundupan sediaan Narkotika. “Nilai edar barang terlarang tersebut berjumlah Rp 14.375.000. Saat ini, barang bukti dan pengembangan kasus terhadap barang kiriman J diserahterimakan ke BNNP Bali,”bebernya.

 

Sementara untuk pencegahan ketiga pada tanggal 12 April, terjadi sekitar pukul 09:30 wita. Barang tersebut dikirim dengan pos bernomor RT387203002HK, ditujukan untuk berinisial IGRA. Hal tersebut diketahui dari kecurigaan petugas, yang dilanjutkan pemeriksaan Anjing Pelacak Narkotika dan pemeriksaan X-ray. Hasilnya dari pemeriksaan fisik, petugas menemukan 1 buah plastik klip bening berisi bubuk berwarna putih, dengan berat 457 gram brutto. Bubuk putih yang ditemukan dalam paket tersebut diuji laboratorium di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe B Surabaya yang hasilnya menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan FUB-AMB/ AMB FUBINACA. “Dari pengembangan yang dilakukan, paket kiriman tersebut berisikan sediaan Narkotika jenis FUB-AMB/ AMB FUBINACA. Petugas mengamankan penerima paket berinisial IGRA yang beralamat di jalan Karang Tenget,  Lingkungan Banjar Pesalakan, Badung. Petugas Bea Cukai Ngurah Rai bersama petugas Kepolisian Daerah Bali menangkap yang bersangkutan saat mengambil paketnya di Kantor Pos Denpasar. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari IGRA, diketahui barang tersebut dipesan untuk membuat tembakau Gorilla.”jelasnya.

 

IGRA sendiri merupakan seorang WNI dan berjenis kelamin laki-laki. Yang bersangkutan diduga telah melanggar Pasal 53 ayat 4 UU No 17 Tahun 2006, tentang Perubahan atas UU No 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan jo Pasal 113 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Hal tersebut karena ia diduga melakukan upaya penyelundupan sediaan Narkotika. Nilai edar barang terlarang tersebut berjumlah USD 9094,3 atau Rp 125.155.757. Saat ini yang bersangkutan dan barang bukti diserahterimakan ke POLDA Bali.

 

Ketiga penerima barang kiriman pos berisikan sediaan Narkotika yang ditegah oleh Bea Cukai Ngurah Rai tersebut dapat dituntut pidana mati, pidana, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 tahun dengan pidana denda paling banyak Rp 10.000.000.000. Ditambah sepertiga, karena diduga melakukan upaya penyelundupan barang terlarang. Hal tersebut menambah daftar panjang penegahan terhadap barang kiriman pos yang dilakukan Bea Cukai Ngurah Rai terhadap upaya penyelundupan Narkotika. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!