Sampah kiriman makin menjadi-jadi, pihak proyek diminta memasang jaring penanggul sampah

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Harapan Nelayan Wanasari Tuban, terkait dengan pemasangan jaring penanggul sampah di hilir muara Tukad Mati, hingga kini belum juga terealisasi. Hal tersebut kembali membuat perairan Teluk Benoa titik Tuban kembali mendapatkan sampah kiriman dari sungai. Alhasil nelayan Wanasari yang menggalakkan konsep konservasi mangrove dibuat ‘geleng-geleng kepala’ atas kondisi tersebut. “Sampah ini masuk dari Tukad Mati dan membuat menyebar ke mangrove. Jika ini tidak diatensi akan semakin sulit membersihkannya dan akan merusak mmangrove kita harap pihak proyek bisa ikut mengatensi ini, sebab disanakan (muara Tukad Mati) sedang penataan,”ujar Sekretaris kelompok nelayan Wanasari Tuban, Agus Diana, Senin (26/11).

 

Pihaknya berharap pihak proyek ikut mengatensi permasalahan tersebut, sebab normalisasi itu juga mengangkat sampah yang membuat sampah hanyut ke hilir. Apalagi jelang musim penghujan seperti saat ini, tentunya itu akan membawa sampah kiriman dari hulu yang lebih banyak lagi. Apalagi sekelas Tukad Mati yang memang sungai besar yang merupakan sungai tirisan. Paling tidak pihak proyek bisa haru memasang jaring sampah, sehingga sampah tersebut ada titik kumpulnya dan memudahkan untuk pengangkutan. “Sampah ini banyak yang los pada saat di dorong hujan menuju ke teluk, itu karena tidak ada jaring sebagai filternya. Kondisi ini tentu merusak mangrove, dan membuat sampah semakin susah diangangkat,”jelasnya.

 

Pihaknya mengaku sudah menyampaikan harapan pemasangan jaring penanggul sampah tersebut kepada pimpinan proyek, sekitar 2 bulan lalu. Saat itu yang bersangkutan mengaku akan mengatensi dan mengakomodir hal itu, namun buktinya sampai saat ini hal itu tidak ada. Hal tersebut dinilainya sangat penting dilakukan sebagai langkah antisipasi sampah tersebut bermuara ke laut. Jika itu dibiarkan, sama saja pihak proyek tidak perduli dengan kondisi sampah yang bisa menepi ke lautan. “Paling tidak itu diperlukan jaring sampah sementara, sebelum nantinya dipermanenkan. Apalagi disana ada alat berat yang bisa dipergunakan mengevakuasi sampah nnatinya. Ini bisa disinergikan dengan DLHK dalam pengangkutan sampahnya, sebagai upaya mengurangi sampah yang mengalir ke laut,”harapnya.

 

Sementara ketua kelompok nelayan Prapat Agung Mangening Patasari, Nyoman Sukra tidak memungkiri bahwa selama seminggu ini sampah yang mengalir dari hulu jumlahnya cukup banyak. Sampah tersebut berupa bambu, batang kayu, stereo foam, batang pisang dan plastik yang mendominasi. Pihaknya memperkirakan, jika itu diangkut bisa mencapai 50 truk sampah. Pihaknya sudah berupaya mengangkut sampah tersebut, namun kewalahan. Adapun sampah yang bisa diangkut sebanyak 3 truk sampah, itu ada yang sudah dibuang ke TPA dan ada yang dimanfaatkan. “Untuk sampah berupa bambu dan kayu, selama seminggu ini kita berhasil mengangkut sekitar 2 truk. Kita kumpulkan itu sebagai tiang penanaman bibit mangrove. Untuk batang kayu yang  besar itu berukuran 2-3 meter yang tidak bisa kami angkut,”terang Sukra.

 

Karena saking banyaknya sampah yang mengambang, pria yang akrab disapa Mangku Dolphin ini mengaku terpaksa melepas sampah itu ke hilir. Hal tersebut untuk memperlancar aliran air, demi mencegah potensi terjadinya banjir. Untuk mencegah banyaknya sampah mengalir ke muara, ia berharap trash track yang ada di Seminyak agar difungsikan dengan koordinasi. “Kalau bisa ketika track sampah yang ada di Seminyak itu buka, itu dikoordinasikan ke kami di hilir. Sehingga kami di hilir bisa mempersiapkan diri. Selama ini kita kewalahan jika track di buka, bahkan ini sempat membuat peralatan proyek dan perahu nelayan hampir hanyut,”paparnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!