Salam Spiritual Pastika

posbali.id

MENJELANG peringatan ke-71, Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2016, ada salam dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika. “Selamat malam, sudah bersyukurkah Krama Bali hari ini?” Pastika pada intinya mengajak krama Bali agar bersyukur, memuja Tuhan tidak hanya di tempat ibadah tapi di tiap kesempatan bahkan di setiap hembusan nafas. Pastika berpesan agar kita tidak lupa diri pada saat senang. Ia mengajak krama Bali untuk selalu bersyukur dalam setiap kesempatan.

Salam Mangku Patika tersebut boleh disebut salam spiritual. Oleh karena disampaikan menjelang 17 Agustus, maka salam tersebut juga boleh dikatakan waktunya sangat tepat. Lebih-lebih, peringatan HUT ke-71 Kemerdekaan RI ini bertepatan dengan bulan purnama. Umat Hindu sangat menyucikan hari ini dan melakukan upacara keagamaan. Selain berdoa, umat Hindu juga mengucapkan syukur, karena sampai hari ini, diberi kehidupan, mungkin juga kebahagiaan. Atau apapun yang kita alami hari ini, kita mesti syukuri. Baik dalam keadaan duka lebih-lebih suka, ucapan syukur ditinjau dari tuntunan spiritual adalah wajib.

Tentang memuja Tuhan. Secara garis besar ada empat motif mengapa umat memuja Tuhan yang dalam kitab suci disebut Catur Vidha Bhajante. Pertama disebut Artha yakni seseorang memuja Tuhan saat menderita sakit saja. Kedua, Artha Arthi yakni adalah pemuja Tuhan saat ingin mendapatkan rezeki. Ketiga, Jijnyasuh adalah pemuja Tuhan saat menginginkan suatu kedudukan dalam kehidupan duniawi. Keempat, Jnyanin adalah jenis pemuja Tuhan dengan ikhlas untuk mendapatkan kehidupan yang bijaksana.

Keempat pemuja Tuhan tersebut dinilai baik. Namun dari sisi spiritual, motif terakhir dipandang memiliki nilai tertinggi. Sehubungan dengan peringatan kemerdekaan ini, ada baiknya kita merenungi kehidupan di dunia ini. Dalam kehidupan ini, ada dua kecenderungan manusia yakni Dewi Sampad yaitu kecenderungan kedewataan dan Asuri Sampad yaitu kecenderungan keraksasaan. Dewi Sampad adalah manusia yang perilakunya dipengaruhi oleh sifat-sifat Dewata. Sedangkan Asuri Sampad adalah tipologi manusia yang perilakunya dipengaruhi oleh kecenderungan sifat-sifat keraksasaan. Kedua jenis manusia inilah yang menghuni bumi dan juga sebagai penganut suatu agama.

Dua kecenderungan itulah yang rupanya menimbulkan adanya kejahatan dan kebaikan, ada penjajah dan ada yang dijajah. Ada teroris dan ada yang diteror. Kedua sifat ini sering pula disebut rwabhineda. Tapi bagaimanapun keadaan kita, pesan Mangku Pastika tentu sangat patut direnungkan. Kita harus selalu bersyukur pada saat kapanpun. Sebab, musibah pun sering menjadi berkah. (*) 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!