RSUP Sanglah Masih Andalkan Rekanan Tangani Sampah Medis

posbali.id
Petugas kebersihan membuang sampah ke tempat pembuangan sampah sementara di RSUP Sanglah

DENPASAR – Hingga saat ini, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar masih mengandalkan pihak ketiga (rekanan) untuk mengelola sampah medis. Hal ini diakibatkan karena tidak beroperasinya dua insenerator yang ada di rumah sakit tersebut.

“Kami saat ini memang memiliki dua unit mesin pengelola sampah medis (insenerator, red). Namun, keduanya tidak berfungsi. Satu unit dalam kondisi rusak, sedangkan unit lainnya tidak dapat dioperasikan karena terkendala izin lingkungan,” jelas Kepala Instalasi Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan (IKKL) RSUP Sanglah, Ni Putu Resiki, S.Kep., S.H., Jumat (19/1).

Dijelaskan, penanganan sampah medis memang butuh penanganan khusus. Meski sudah dimusnahkan dengan menggunakan mesin insenerator, limbah sisa pembakarannya harus diuji kembali di laboratorium sebelum dibuang ke tempat pumbuangan akhir.

Ia menyatakan, limbah sisa pengolahan sampah medis itu masih memiliki potensi mencemari lingkungan dan membawa dampak negatif bagi kesehatan. Sampah medis sendiri digolongkan sebagai limbah B3 (bahan beracun berbahaya) yang mengandung bahan kimia, logam berat, maupun senyawa berbahaya lainnya.

“Sampah medis yang mengandung limbah B3, misalnya jarum suntik, infus yang sudah dipakai dan terdapat darah pasien, organ-organ habis operasi (jaringan biologis), sisa-sisa obat, dan lainnya,” imbuhnya.

Akibat kondisi tersebut, pihak rumah sakit pun harus mengeluarkan anggaran yang lumayan besar untuk mengelola sampah medis. Diperlukan anggaran sebesar Rp17,5 ribu untuk mengelola satu kg sampah medis. “Dalam sebulan kami mengeluarkan biaya sebesar Rp500 juta hingga Rp600 juta untuk pengelolaan sampah medis dan nonmedis. Setahun anggaran total untuk sampah mencapai Rp6 miliar. (Sementara) volume sampah yang dihasilkan per hari antara 800 kg sampai 1000 kg,” kata Resiki.

Terkait dengan pengolahan, sampah medis dan nonmedis sudah diolah sejak di tingkat ruangan. Sampah medis akan dibungkus dengan kresek berwarna kuning dan ditempatkan dalam tempat sampah berwarna sama. Sementara itu, sampah nonmedis seperti sisa makanan, botol bekas, dan sampah lainnya dimasukkan dalam polibag hitam yang ditempatkan pada tempat sampah berwarna hijau.

“Troli sampah berwarna hijau digunakan untuk membuang sampah ke tempat pembuangan sampah sebelum dibawa dengan truk ke TPA Suwung. Jika sampah medis nanti akan diambil menggunakan mobil boks oleh rekanan dan dibawa ke pengolahan di Mojokerto, Jawa Timur,” katanya.

Sebelumnya, terkait dengan pengelolaan sampah medis, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Drs. Gede Suarjana, M.Si membenarkan belum adanya tempat pengolahan sampah medis di Bali. Dari sekian banyak rumah sakit yang ada, hanya RSUP Sanglah dan RSUD Wangaya yang memiliki insenerator. Itupun tidak ada yang dioperasikan.

Untuk menangani masalah itu, pemerintah telah merencanakan pembangunan tempat khusus untuk mengolah sampah medis yang diwacanakan akan dibangun di Jembrana.

“Saat ini sudah diajukan. Sudah ada dua perusahaan yang siap tanamkan modal, tapi belum terealisasi karena proses perizinan lumayan lama, di tingkat kementerian,” ucap Suarjana. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!