Ritual sakral pengerat persaudaraan, junjung tinggi nilai sportifitas

posbali.id
AMLAPURA, POS BALI – Terteran adalah suatu ritual di desa adat Saren yang ada sejak puluhan tahun lamanya. Hal tersebut diyakini adalah semacam sesembahan yang dihaturkan kepada ida sesuhunan, sebab tanpa tradisi tersebut maka upacara belum dikatakan lengkap. Dimana tardisi tersebut layaknya perang kaum lelaki dengan jarak dekat, melalui sarana serabut kelapa yang dibakar. Sebelum dimulai terteran, masyarakat desa adat Saren keseluruhan melaksanakan persembahyangan di Pura Sang Sege. Dimana serabut kelapa yang ditumpuk menyerupai benteng tersebut juga diperciki tirta suci dan dihaturkan canang. Hal tersebut guna menetralisir sarana tersebut dari unsur leteh (kotor), sekaligus memberikan makna pemberkatan dari Ida Sanghyang Widhi Wasa. “Tradisi ini adalah tradisi suci, mengajarkan nilai kesantunan, sportifitas, persaudaraan dan keikhlasan. Karena itu setiap peserta wajib hukumnya menjaga tradisi ini bisa berjalan dengan sakral dan hikmad,”jelas salah seorang pemangku di Desa Adat Saren, Mangku Susena.

 

https://www.posbali.id/terteran-ritual-ngusaba-dalem-desa-adat-saren-yang-diawali-negtegang/

Tradisi terteran diakuinya adalah tradisi turun-temurun, yang memiliki  makna pangleburan hawa atau sifat negatif dengan media berupa api. Dimana makna tersebut sifatnya berupa penafsiran, sebab leluhur pendahulu di desa adat Saren tidak ada yang menceritakan pasti, tentang makna rangkaian materteran. “Ada juga yang mengartikan meter-teran itu berasal dari kata teer yang artinya memperlihatkan. Dalam artian, inilah saatnya bagi kaum laki-laki di desa adat Saren untuk memperlihatkan kemampuan, ketangguhannya. Dalam menghadapi segala tantangan kehidupan,”jelasnya.

 

Dalam pelaksanaan terteran, kaum lelaki dibagi menjadi dua kutub yang berseberangan, yaitu kutub utara dan selatan. Dimana Kutub selatan berada di depan Pura Sang Sege, sementara Kutub utara berada di depan Pura Jati dengan pembagian peserta yang seimbang. Dalam melaksanakan ritual ini masyarakat diwajibkan memakai kamben dan mengikuti aturan yang bedlaku. Mereka tidak diperbolehkan berkata jorok dan kasar, tidak memakai boyongan (serabut basah) yang bisa mengakibatkan memar, tidak mengayunkan serabut api dari bawah bawah ke atas, tidak membawa unsur dengki atau permusuhan. “Terteran ini dilaksanakan tiga kali dan tiga hari sebelum ngusaba. Meter-teran memiliki makna mepageh-pagehan. Terteran ini menggunakan sarana sambuk yang dibakar, api itu melambangkan semangat yang harus dikobarkan di masing-masing masyarakat dalam melaksanakan yadnya,”ujarnya.

 

Terteran sendiri dipimpin oleh anggota pecalang yang bertugas selaku pengenengah. Dalam pelaksanaan tersebut kelompok masyarakat dibagi menjadi 2, yaitu terteran dengan peserta anak-anak pada saat menjelang sore hari dan kemudian dilanjutkan terteran dengan peserta remaja dan dewasa. Pelaksanaan terteran sendiri dilakukan dengan pemadaman lampu penerangan jalan dan cahaya lainnya. Hal tersebut agar antara peserta satu sama lainnya tidak saling ketahui, untuk mengantisipasi agar bibit permusuhan tidak muncul usai terteran. Namun lampu hanya bisa dinyalakan ketika terjadi insiden, atau peserta dan wasit mengambil tindakan sesuatu untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan. “Melalui moment inilah masyarakat desa adat saren, yang terbagi menjadi 4 tempek. Yaitu Saren Kauh, Saren Anyar, Saren Kangin, Dukuh-Pesawan, berbaur ngayah. Ini sekaligus sebagai sarana perekat silaturahmi, sehingga pada akhir terteran yang kita harapkan adalah saling pekedek pekenyung, paras paros sarpanaya dan segilik seguluk selunglung sabayantaka,”tandasnya.

 

Selain itu dalam pelaksanannya, peserta diminta mengindahkan kata ‘batur’ dan ‘liss’. Dimana kedua kata tersebut adalah aba-aba pemandu tradisi, liss artinya serang dan batur artinya berhenti sejenak. Dalam pelaksanaannya, tidak pernah ada korban luka dalam terteran. Terkecuali jika yang bersangkutan ‘kesisipan’, karena mengucapkan sesuatu yang tidak diperkenankan dan melaksanakan hal yang dilarang. Seandainya ada luka bakar ringan yang ditimbulkan, hal itu bisa diobati dengan bunga pucuk bang yang ada di pura Dalem. “Selama pelaksanaan 3 hari terteran,  hal tersebut melambangkan pangelebaran saat bhatari durga kasomya menjadi dewati,”imbuhnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

6 tanggapan untuk “Ritual sakral pengerat persaudaraan, junjung tinggi nilai sportifitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!