Rayakan HUT Demokrat, Supadma Rudana Temui Petani di Bali

DENPASAR, POS BALI- Usai dilantik sebagai anggota DPR RI menggantikan Putu Sudiartana alias Leong pada 24 Agustus lalu, anggota Fraksi Demokrat DPR RI Putu Supadma Rudana gencar menemui konstituennya di Bali.
Ia menargetkan menemui konstituen di 50 titik sampai 6 pekan ke depan.

Bahkan moment HUT ke-16 partai Demokrat yang jatuh pada 9 September, Supadma Rudana merayakannya dengan menemui konstituennya di Bali. Ia secara khusus menemui para petani.

Ditemui di Denpasar, Minggu (9/9/2017), agggota Komisi III DPR RI ini tidak ingin perayaan HUT Partai Demokrat hanya diwarnai aksi- aksi turun ke masyarakat dengan cara instan. Bagi dia, HUT Partai Demokrat dijadikan moment untuk evaluasi program partai dan totalitas kader bersama rakyat secara berkelanjutan.

Supadma Rudana mengatakan, kader Demokrat harus harus hadir di tengah rakyat yang sedang membutuhkan solusi. “Tagline Demokrat hadir memberi solusi, bantu rakyat dan kawal pemerintahan sangat tepat disampaikan Ketua Umum Demokrat Pak SBY. Ini moment tepat untuk lebih cepat berbaur dengan rakyat dan menyambung komunikasi lebih baik lagi untuk menyerap aspirasi mereka,” katanya.

Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat ini memilih turun menemui para petani di Bali karena kalangan ini yang selama ini paling nyaring keluhannya, padahal pertanian Bali masih menjadi andalan ekonomi Bali. “Di Bali untuk pekan ini saya memilih turun menemui petani. Karena suara petani begitu nyaring dan tulus, apa masalah –masalah yang terjadi dibawah terungkap semua. Dan disinilah kita hadir mencari solusi petani,” ujar Supadma Rudana.

Politisi asal Desa Peliatan Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar ini menyebutkan pertanian Bali menjadi kekuatan nusantara. Bali memiliki kawasan Subak (organisasi dan sistem pengairan) Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, yang selama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Bali, namun juga multifungsi. “Selain sebagai bentuk melestarikan adat dan budaya, pertanian Bali memberikan manfaat ekonomis bagi Bali untuk kepariwisataan. Pelestarian lingkungan dengan konsep Tri Hita Karana,” katanya.

Ketua Umum Museum Indonesia ini mengatakan, pertanian Bali dengan konsep Subak dan mendapatkan pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO (United NastionsEducation, Scientific and Culture Organization) harus terjaga dengan baik. “Karena itu sebuah pengakuan yang tiada tara harganya,” ujar alumni Wesbter University Amerika Serikat.

Supadma Rudana mengatakan saat ini ada beberapa masalah yang dihadapi petani di Bali. Mulai alih fungsi lahan pertanian di Bali akibat regulasi yang tidak berpihak kepada petani. Kemudian fasilitasi untuk para petani yang masih tidak maksimal oleh pemerintah, terutama saat penjualan hasil produk pertanian. Kemudian masalah pajak tanah yang mencekik leher. ”Ini masalah- masalah yang kami dapatkan ketika terjun di Bali,” tegasnya.

Mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi para petani tersebut, pemilik Museum Rudana Ubud Gianyar ini mengatakan sudah menyiapkan bantuan untuk petbaikan irigasi yang rusak. “Sementara regulasi masalah pajak yang tinggi tentu harus kita perjuangkan dengan menggedor pemegang kebijakan. Ini yang kita koordinasikan dengan stacholder terkait,” pungkas Supadma Rudana.

Selain menemui petani, Supadma Rudana juga hadir di arena Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Denpasar, Minggu (10/9/2017) pagi. PB3AS adalah panggung aspirasi yang disediakan Pemprov Bali bagi masyarakat umum, yang dibuka setiap hari Minggu pagi. Siapapun boleh menyampaikan aspirasi apapun. Di PB3AS, Supadma Rudana mendengarkan berbagai aspirasi warga tersebut. ***

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *