Puncak Ngusaba Kalima di Palinggih Ida Ratu Ayu Kentel Gumi Pura Ulun Danu Batur

posbali.id

BANGLI, POS BALI ONLINE – Puncak karya Ngusaba Kalima Desa Pakraman Batur (pujawali Ida Ratu Kentel Gumi) akan jatuh hari ini, Jumat (3/11/2017). Berbagai persiapan dan rentetan upacara telah dilakukan untuk menyambut upacara yang digelar tiap tahun dan berkaitan dengan penangluk merana itu.

Rangkaian upacara telah dimulai sejak Rabu, (1/11) sore yang diawali dengan upacara macaru, dilanjutkan dengan upacara ngodal Ida Bhatara pada Kamis (2/11) kemarin. Puncak acara akan digelar bertepatan dengan Purnama Kalima. Selanjutnya Ida Bhatara akan nyejer selama tiga hari dan akan disineb pada Minggu, (5/11/2017).

Menurut Jro Kraman Desa Pakraman Batur, Guru Wayan Asta, Ngusaba Kalima atau pujawali Ida Ratu Kentel Gumi merupakan salah satu upacara penting yang harus digelar oleh Desa Pakraman Batur. Upacara utama ditujukan pada linggih Ida Ratu Ayu Kentel Gumi yang dipercaya sebagai manifestasi Ida Bhatari Dhanuh dalam fungsinya sebagai penetral hama tanaman. Linggih Ida Ratu Kentel Gumi sendiri terletak di sebelah timur utama mandala Pura Ulun Danu Batur berupa meru tingkat tiga.

Perayaannya Ngusaba Kalima umumnya digelar dengan kapasitas besar (Kalima Nadi) dan dengan kapasitas kecil secara bergantian tiap tahunnya. Untuk tahun ini, upacara digelar dalam kapasitas kecil dengan sarana upakara berupa bebangkit dan korban suci berupa babi.

Perbedaan Kalima Nadi dan Kalima Biasa terletak pada penggunaan sarana upacaranya, dimana jika Ngusaba Kalima Nadi menggunakan kerbau sebagai korban suci, ngadegang bagia pula kerti, dan krama desa akan membuat penjor. “Kalau Kalima biasa upacaranya lebih kecil dan masyarakat tidak perlu membuat penjor. Kebetulan saja karena Galungan, sehingga krama desa semua ngadegang penjor,” katanya.

Sementara itu, terkait dasar filosofis pelaksanaan upacara, salah satu pemangku Pura Ulun Danu Batur, Jro Mangku Budarsana mengatakan pelaksanaan Ngusaba Kalima sangat erat kaitannya dengan mitos Ida Ratu Ayu Kentel Gumi. “Konon suatu ketika Ida Putrajaya yang berstana di Gunung Agung mengunjungi adiknya, Ida Bhatari Danuh di Batur dengan bala iringan (pengikut) berupa babi. Babi-babi itu secara tidak sengaja merusak tetanduran (tanaman) Ida Bhatari Danuh. Melihat tanamannya dirusak, Ida Bhatari Danuh tidak terima dan membunuh bala iringan Ida Bhatara Gunung Agung itu,” tuturnya.

Melihat bala iringannya tewas, Ida Bhatara Putrajaya pun murka dan mengutuk bangkai-bangkai itu menjadi hama. Pasca kutukan itu, hama menyebar dan merusak tanaman dimana-mana. Bangkai-bangkai itu pun sempat dibawa ke lautan, namun dikembalikan oleh Bhatara Baruna.

Melihat Bali dirundung masalah, Ida Bhatara Pasupati yang berstana di Gunung Mahameru yang juga merupakan ayahanda kedua bhatara itu akhirnya turun tangan. Beliau mengingatkan swadharma anak-anaknya sebagai penjaga ketenteraman Pulau Bali. Bhatara Baruna juga diingatkan tentang karmanyanya sebagai penerima segala kekotoran, kemudian mensucikannya.

“Setelah mendengar wejangan tersebut, Ida Ayu Kentel Gumi akhirnya nyomya (menetralisir) hama-hama itu. Sebagai simbolis, kami pun menggelar upacara nangluk merana setiap tahunnya,” katanya.

Dijelaskan, upacara Ngusaba Kalima tersebut cukup unik sebagai jenis upacara dewa yadnya, dimana terdapat sebuah damar kelik (sejenis lampion) yang dipasang di pelataran palinggih Ida Ratu Ayu Kentel Gumi. Damar kelik biasanya identik dikenakan pada upacara pitra yadnya. Dalam upacara tersebut merupakan simbol dari penyomnya hama, sekaligus penanda bagi masyarakat untuk tetap waspada.

Secara fisik , pada bulan-bulan ini memang terjadi perubahan cuaca (pancaroba), sehingga sangat rentan dengan kesehatan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Melalui upacara tersbutlah diharapkan segala mara bahaya bisa terhindar.

“Sesuai dengan parabnya, Ida Ratu Kentel Gumi adalah tokoh yang mengentalkan bumi, sehingga sangat sakral. Beliau tidak sembarangan bisa dikodal, hanya khusus di Sasih Kalima saja. Konon pada Ekadasa Rudra beliau turut dikodal dan diiring ke Besakih, ketika itu Gunung Agung pun meletus. Dari sisi spiritual konon katanya memiliki hubungan, namun itu secara spiritual,” terangnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!