Pruduk Berkualitas, Pemkab Badung Tak Beri Bantuan

posbali.id
POS BALI/NAS
Pabrik Sampah TPST II Petang telah menghasilkan pupuk organik yang berkualitas. Terlihat sejumlah pekerja tengah memasukan hasil produksi ke dalam kemasan.

 

PETANG, POS BALI – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) II Petang, di Kecamatan Petang Badung telah menghasilkan pupuk organik berkualitas. Pemasaran hasil produksi dari usaha dikenal dengan TPST Tanda Sari ini masih terkedala infrastruktur karena dilakukan secara mandiri, tanpa campur tangan pemerintah.

Ketua TPST, Ketut Sukarta mengakui hal itu. Kata dia, terkait kualitas, pupuk yang dihasilkan dipabrik sampah yang berlokasi di banjar Angantiga, Petang itu tidak perlu diragukan lagi, lantaran telah diuji laboratorium. Uji lab juga dilakukan secara mandiri dengan bantuan pihak swasta. “Pupuk yang dihasilkan betul-betul memenuhi persyaratan kandungan pupuk organik, karena sudah dilakukan uji lab,” katanya belum lama ini.

Saat ini, pihaknya masih terkendala biaya produksi dan pemasaran atas produk yang hasilkan,. Namun demikian, kondisi itu tak lastas mebuat hasil kerjanya menjadi tenggelam. Terbukti kata dia, manfaat produknya tidak hanya di kabupaten Badung, melainkan beberapa kabupaten di Bali, seperti Karangasem dan Tabanan.

Sejauh ini, pupuk yang dihasilkan masih diberi lebel oleh perusahaan yang memesan, sementara pihaknya hanya sebagai pemasok. “Jadi sesuai permintaan. Misalnya kami disuruh menyiapkan sekian ton, langsung kami siapkan,” akunya.

Keuntungkan atas pengelolaan sampah itu tak banyak dari hasilpenjualan, karena biaya produksi juga tinggi ditambah biaya sewa alat transportasi untuk pengiriman.  “Kotornya, kami menjual dengan harga Rp800 per kilonya. Itu belum nantinya dipotong pembelian karung, transportasi, dan lain-lain. Jadi keuntungan per kilonya di bawah Rp100,” terangnya yang biasa mengepak dengan berat 40 kg per karungnya.

Yang terpenting bagi Sukarta adalah, dapat mengurangi sampah da bermanfaat bgia masyarakat di Petang dan sekitarnya. Selain telah disediakan alam berupa lidi pohon aren atau limbah dari prukduksi rumahan, bahan yang butuhkan juga diperoleh dari peternak sapi dengan membeli kotaran sapi ternak warga. lidi tersebut kemudian dibakar sehingga menjadi arang, sebagai salah satu bahan baku. “Kadang kami beli atau kalau ada yang membuangnya, kami persilakan di TPST ini,” sebutnya dimana ide itu muncul sejak tahun 2010 silam yang saat ini  mempekerjakan 10 orang tenaga dari masyarakat setempat.

Sukarta pun mengaku masih berjuang keras untuk menyosialisasikan penggunaan pupuk organik. Di samping pemerintah yang menurutnya masih ewuh pakewuh konsentrasi ke penggunaan pupuk organik, juga sebagian besar masyarakat masih bergantung pada pupuk anorganik. Selain penggunaan lebih sedikit yang juga menekan pengeluaran, hasilnya lebih cepat.

Namun demikian, dalam jangka panjang penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan tanah. “Kalau pakai pupuk organik, biayanya memang lebih besar dan hasilnya lebih lama. Tapi jika sudah digunakan secara kontinyu, kesuburan tanah akan kembali stabil. Selain itu hasil pertanian lebih sehat untuk konsumsi,” tegasnya. nas

 

 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *