PPDM Kemenristekdikti-Unmas dukung Penyusunan Grand Desain Pengembangan kawasan Gunung Payung Cultural Park 

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Focus Grup Discussion (FGD) tahap kedua, terkait penyusunan Grand Desain Pengembangan kawasan Gunung Payung Cultural Park telah dilaksanakan, Selasa (11/9). Dimana FGD yang membahas pengembangan kawasan wisata luar Pura Dhang kahyangan Gunung payung tersebut, merupakan bentuk implementasi dari Program Hibah Pengabdian Masyarakat Pengembangan Desa Mitra yang terlaksana atas kerjasama Kementrian Ristekdikti, Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, dan Desa Adat Kutuh. FGD tersebut merupakan FGD ke-2 yang dialaksanakan, setelah FGD pertama sebelumnya dilaksanakan pada bulan Juli lalu.

 

Dalam FGD yang menghadirkan beberapa narasumber dari Pasca sarjana Unmas Denpasar, Konsultan dari Pemda Badung, Pelaku wisata Desa Adat Kutuh, dan Pengempon Pura Dhang kahyangan Gunung Payung. Bendesa Adat Kutuh, Made Wena selaku moderator pada awal acara kembali  mengingatkan beberapa kesimpulan dari FGD tahap I yang telah dilaksanakan bulan juli lalu. Dimana pada intinya pengembangan Kawasan Wisata Gunung Payung Cultural Park yang tema besarnya mengambil cerita keberadaan perjalanan suci Ida Dhanghyang Nirarta di Desa Adat Kutuh pada khususnya, dan perjalanan beliau di bali pada umumnya. Dimana konsep tersebut tentunua harus menonjolkan daya tarik utama berupa cultural Bali, yang secara eksplisit dituangkan dalam kawasan khusus Miniatur Bali. “Intinya kita ingin desain tata ruang gunung payung ini sebagai suatu kawasan spiritual, tetapi juga didesain kawasan luarnya sebagai daya tarik wisata. Yang paling kita harapkan dari FGD ini adalah adanya desain tata ruang yang bisa bermanfaat bagi kita semua. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga keselamatan semua, peruntukannya agar memberikan kesejahteraan dan tidak semata-mata melihat kontekstual,”terang Wena.

 

Dalam pemaparan oleh konsultan pemda Badung, pihak konsultan menyampaikan beberapa kendala dalam pengembangan kawasan gunung payung cultural park, utamanya dalam pemanfaatan kawasan sempadan tebing untuk dibangun berbagai fasilitas penunjang dalam bentuk bangunan permanen. Dimana pihak konsultan Pemda Badung lebih menekankan pada norma hukum positif yang kemudian diluruskan oleh  Dr. Drs. A.A. Ketut Sudiana, M.Si dari
Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pengelolaan Lingkungan (P2WL) Pascasarjana Universitas Mahasaraswati Denpasar. “Intinya agar penyusunan masterplan tidak semata memperhatikan norma secara tekstual, namun juga wajib memperhatikan kearifan lokal, dan asas kemanfaatannya bagi desa adat kutuh sebagai pengempon pura dhang kahyangan gunung payung. Misalkan, kalau secara normatif tidak boleh dibangun bangunan tinggal seperti hotel, bagaimana kalau para umat sedarma ingin melaksanakan kegiatan darma tula dan mekemit, apa tidak boleh dibangun pesraman, karena pesraman adalah juga kebutuhan vital,”imbau Sudiana.

 

Sedangkan Direktur Pasca Sarjana Unmas Denpasar, Dr. Ir. I Ketut Sumantra, M.P juga mengusulkan agar dalam pengembangan kawasan nantinya juga dilengkapi tempat pengolahan sampah terpadu. Hal itu untuk mengatasi permasalahan sampah kawasan, yang mungkin akan muncul bila kawasan ini telah banyak dikunjungi wisatawan. Namun pada intinya penatakelolaan dari kawasan desa Kutuh ini yang ingin dibuat masterplan, dalam menunjang desa wisata Kutuh harus ada singkronisasi dari rencana detail penataan ruang dari Pemkab Badung dengam desa Kutuh. Sebab rencana penataan ruang desa Kutuh memiliki perbedaan, dimana Pemkab memiliki kajian dari biofisik dan dan lingkungan dalam pemataan ruang masterplan, sementara desa Kutuh berbasis pada kearifan lokalnya, yaitu Tri Hita Karana. “Ini perlu disingkronisasi, sehingga bisa sama-sama diterima dan bisa berjalan. Tentu ini harus dicarikan titik temunya, sehingga nuansa desa kutuh dengan kearifan lokal dengan pemkab badung yang berdasarkan biofisik dan lingkungan ini bisa singkron,”saran Sumantra.

 

Selain masukan tersebut masyarakat juga mengusulkan agar nantinya dalam pengembangan kawawan Gunung dibangun patung spektakuler yang menggambarkan Ida Dhanghyang dan juga ada museum Dhanghyang Nirarta, hutan kera, dan kawasan hutan upakara. Untuk diketahu, selain mendorong pengembangan desain tata ruang kawasan gunung payung cultural park, program PPDM Kemenristekdikti-unmas di desa adat kutuh juga mendorong penyusunan standar operasional prosedur pengelolaan atraksi wisata timbis paragliding dan promosi kawasan wisata Pandawa dan Gunung payung Cultural Park. Dalam kesimpulan akhirnya, ketua tim pelaksana kegiatan PPDM Kemenristekdikti Unmas Denpasar, Dr. Drs. I Made Wena, M.Si. mengusulkan agar dilaksanakan pertemuan khusus antara pihak Konsultan, Desa Adat, dan Pemerintah Daerah kabupaten Badung sehingga dapat mengatasi beberapa permasalahan normatif yang menjadi kendala pihak konsultan dalam menyusun desain tata ruang. Setelah itu wajib dilanjutkan untuk dilaksanakan FGD tahap III sebagai media untuk memfinalisasi draf tata ruang untuk selanjutnya disampaikan kepada para pengambil kebijakan, baik di tingkat desa adat kutuh maupun di pemerintah daerah kabupaten Badung. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!