Polres Lobar Antisipasi Penyebaran Malaria di Pengungsian

posbali.id

LOBAR, POSBALI.ID – Menyebarnya penyakit malaria di beberapa titik pengungsian gempa bumi di wilayah Lobar mendapat perhatian serius dari Polres Lobar. Sabtu (10/9) lalu, jajaran Polres Lobar melakukan pengasapan atau fogging dibeberapa titik pengungsian di wilayah Kecamatan Batu Layar.

Dipimpin langsung Kapolres Lobar, AKBP Heri Wahyudi, jajaran Polri itu menyisir setiap sudut pengungsian yang ada di Desa Lembah Sari Kecamatan Batu Layar. Berbekal mesin fogging, pasukan berseragam coklat itu melakukan pengasapan sebagai salah satu upaya antisipasi persebaran penyakit malaria dan demam berdarah.

Kapolres Lobar AKBP Heri Wahyudi yang dikonfirmasi menyatakan bahwa kegiatan
Fogging yang dilakukan sekaligus merespon adanya pemberitaan terkait penyakit malaria dan demam berdarah di sejumlah titik pengungsian. “Ini langkah antisipasi penyebaran penyakit malaria dan DBD,” ujarnya.

Kegiatan fogging itu sendiri lanjutnya, merupakan kerjasama dengan BidDokes Polda NTB dan Polsek Senggigi. “Pada tempat tempat pengungsian, semuanya kita upayakan untuk defogging. Namun tentunya disesuaikan dengan kemampuan kita. Ini langkah antisipasi, agar tidak menyebar,” singkatnya.

Sementara itu, salah seorang pengungsi atas nama Rukyah mengakui bahwa anaknya sudah beberapa hari ini mengalami panas dan muntah-muntah. Pada awalnya, anaknya dikira menderita sakit typus, namun ternyata terkena malaria, “Kami tidak tahu kalau dia terkena malaria. Kata orang typus, tapi nyatanya dia muntah muntah dan badannya panas,” singkatnya.

Seperti diketahui, wabah malaria yang melanda para pengungsi di Kabupaten Lobar semakin meluas. Sejak ditemukannya 4 kasus di Desa Bukit Tinggi Kecamatan Gunung Sari, saat Presiden RI Joko Widodo hadir di tengah pengungsi, jumlah korban sudah meluas ke desa lain yaitu Desa Mekar Sari di Kecamatan yang sama. Sedikitnya ada 32 korban terdeteksi mengidap malaria hanya dalam satu wilayah kerja Puskesmas Penimbung.

Saat ini, wabah tersebut sudah semakin meluas. Dari catatan Dinas Kesehatan Lobar, sudah ada 103 orang positif kena malaria dengan penyebaran mencapai 28 Dusun, 10 Desa, dan 4 wilayah kerja Puskesmas. Dari jumlah tersebut, 5 orang terpaksa dirawat inap karena sudah parah. “Dengan melihat jumlah warga yang mengidap malaria, bahkan sudah mengenai ibu hamil dan bayi, kondisi ini sudah out break (Kejadian Luar Biasa),” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Lobar, H. Rahman Sahnan Putra.

Pihaknya pun tengah membahas hal itu bersama Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid. Kalau pun harus dinaikkan statusnya menjadi KLB, Rahman tidak mempersoalkannya. “Kalau dinaikkan statusnya menjadi KLB, tidak masalah. Secara pribadi saya tidak menganggap persoalan citra daerah tidak lebih besar dari upaya penyelamatan para pengungsi. Ini soal nyawa manusia,” sambungnya tegas.

Bupati Lobar H. Fauzan Khalid pun nampak sependapat, dia menganggap bahwa penetapan KLB untuk kasus malaria itu tidak akan berdampak besar selama asas kemanfaatan bagi para pengungsi lebih besar. “Kalau dengan KLB kita bisa lebih melayani warga, kenapa tidak? Itu kenapa kita selalu nuntut dibantu Hunian Sementara. APBD kita sudah tidak bisa untuk itu,” pungkasnya kemudian. 033

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!