Politik dan Maslow

posbali.id

Oleh Dr. Luh Kadek Budi Martini

Sering kita dengar orang bertanya seperti ini, “Orang itu kan sudah kaya, tak kekurangan apa, kok lagi mau terjun di dunia politik yang penuh dengan intrik dan bisa membuat stress karena banyak masalah. Apa sich yang dicari?”

Pertanyaan seperti itu wajar-wajar saja terlontar dari orang kebanyakan. Namun bagi mereka yang pernah mempelajari ilmu manajemen, pasti tahu jawabannya, karena ada teori hirarki kebutuhan yang dikeluarkan oleh seorang Pakar Manajemen. Abraham Maslow (1970). Teori ini memandang  seseorang akan memiliki motivasi yang berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi di mana posisinya pada saat itu.

Ada 5 tingkatan kebutuhan manusia menurut Maslow, yakni Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), Kebutuhan Rasa Aman (Safety/Security Needs), Kebutuhan Sosial (Social Needs), Kebutuhan akan Penghargaan (Esteem Needs),  dan Kebutuhan akan Aktualisasi Diri (Self-actualization Needs).

Maslow beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi. Hirarki pertama adalah kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis merupakan hirarki kebutuhan manusia yang paling dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup, seperti makan, minum, perumahan, oksigen, tidur dan sebagainya. Hirarki kedua adalah kebutuhan rasa aman. Apabila kebutuhan fisiologis relatif sudah terpuaskan, maka muncul kebutuhan yang kedua yaitu kebutuhan akan rasa aman yang meliputi keamanan dalam keseharian, keamanan dalam lingkungan kerja, perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja.

Hirarki ketiga adalah kebutuhan Sosial. Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah terpuaskan secara minimal, maka akan muncul kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dana interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan berkaitan dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi bersama dan sebagainya. Hirarki keempat adalah kebutuhan akan penghargaan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas kemampuan dan keahlian seseorang serta efektifitas kerja seseorang. Hirarki terakhir adalah kebutuhan Aktualisasi diri.

Aktualisasi diri merupakan hirarki kebutuhan dari Maslow yang paling tinggi. Aktualisasi diri berkaitan dengan proses pengembangan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki seseorang. Malahan kebutuhan akan aktualisasi diri ada kecenderungan potensinya yang meningkat karena orang mengaktualisasikan perilakunya. Seseorang yang didominasi oleh kebutuhan akan aktualisasi diri senang akan tugas-tugas yang menantang kemampuan dan keahliannya.

Teori Maslow mengasumsikan bahwa orang berkuasa memenuhi kebutuhan yang lebih pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (perwujudan diri). Kebutuhan yang lebih rendah harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan yang lebih tinggi seperti perwujudan diri mulai mengembalikan perilaku seseorang. Hal yang penting dalam pemikiran Maslow ini bahwa kebutuhan yang telah dipenuhi memberi motivasi. Jadi bila suatu kebutuhan mencapai puncaknya, kebutuhan itu akan berhenti menjadi motivasi utama dari perilaku.

Nah, jika seseorang yang dikenal sudah kaya tak kekurangan apa dari sisi materi, namun ikut lagi terjun di dunia politik yang penuh dengan intrik dan banyak masalah, maka hirarki kebutuhan aktualiasi dirilah yang ingin dipenuhi, bukan lagi kebutuhan-kebutuhan lainnya.  (Penulis adalah Dosen Fak. Ekonomi (FE) Univ. Mahasaraswati Denpasar)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!