PLTSa Sarbagita akan jadi TPA Sumber Energi Alternatif ke 4 di Indonesia

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – TPA Sarbagita Suwung akan menjadi TPA ke 4, dari 10 program di Indonesia yang sedang dikembangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Hal tersebut diakui akan segera terwujud dan membuat sampah yang beradai di TPA menjadi sumber energi alternatif. Namun dalam realisasinya, diketahui terjadi sedikit keterlambatan, dalam hal realisasinya. Hal itu diungkapkan oleh PT Indonesia Power yaitu anak perusahaan PT PLN (Persero), yang ditunjuk untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) TPA Sarbagita. “Terus terang saja kami dalam hal ini sedikit terlambat. Kami mohon maaf. Karena kami sudah menerima penugasan itu pada Triwulan IV tahun 2017,” sebut Direktur Utama PT Indonesia Power, Sripeni Inten Cahyani, Kamis (31/1) di Kuta.

 

Diakuinya realisasi PLTSa Sarbagi ditarget selesai pada tahun 2021. Di tahun 2018 hal itu sudah masuk tahap pembahasan, dengan acuan akhir berupa Perpres 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Pra Feasibility Studi (FS) terhadap proyek itu dipastikan sudah dilakukan. Dan kini, mengarah pada langkah pendetailan FS. “Waskita saat ini sedang melakukan revitalisasi landfill yang di Suwung itu. Sehingga itu akan memudahkan pemahaman mengenai lokasi dan objeknya, sehingga ini diharapkan lebih cepat. Harapannya dua tahun dari 2019. Yakni 2021 sudah bisa beroperasi,”terangnya.

 

Diakuinya, untuk merealisasikan PlTSa memang memerlukan waktu yang cukup panjang. Namun berkat dukungan dari Kemenko Maritim, Kemenko Perekonomian, Kementerian LHK, Kementerian ESDM, dan Kementerian BUMN. Hal itu berjalan lancar, dalam bentuk sinergi BUMN yang dikerjakan PLN Group dan Waskita Group. Bali dipilih setelah Surabaya, Jakarta dan Solo. “Jadi dari ESDM adalah penugasannya. Dari LHK adalah teknologi, efek samping yaitu limbahnya, dan lingkungannya. Jadi semua duduk bersama dalam rapat yang sangat intensif. Mudah-mudahan kami bisa selesaikan pembangunan ini dalam waktu dua tahun,”paparnya.

 

Adapun anggaran yang diperlukan untuk merealisasikan hal itu, ia memperkirakan itu berada pada angka USD 1200 per kW. Sehingga untuk target 10 MW, adalah sekitar USD 120 juta. Dengan total daya yang bisa dihasilkan sebesar 9-10 MW, sehingga total dana yang dibutuhkan adalah sekitar 120 juta usd untuk investasinya. Sementara, untuk tarif yang akan dijual ke PLN, sudah ditetapkan pada Perpres 35 2018 yang diperkirakan harga jualnya sekitar 1700 rupiah per KWH. Meski harga tersebut lebih besar dari harga jual PLN, sekitar 1200 rupiah per kwh. Namun hal it ditegaskannya sebagai bagian dari kontribusi yang diberikan manfaat dari pengelolaan lingkungan. Sementara untuk teknologi akan menggunakan teknologi Insinerator dan limbah yang dihasilkan supaya bisa ditreatment menjadi limbah biasa sehingga tidak perlu diangkut dan bisa dimanfaatkan untuk kompos. “Memang ini tidak mudah. Tapi incinerator ini termasuk teknologi yang sangat mudah. Karena tinggal dikompres dan dibakar. Jadi lebih mudah, karena tidak terlalu tergantung dari jenis sampahnya,” sebutnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!