Pilgub Bali Tarung Segitiga, Peluang Menang Sama

DENPASAR, POS BALI- Pengamat politik dari LSM Bali Sruti Dr. Luh Riniti Rahayu menilai, dinamika yang terjadi dalam Koalisi Rakyat Bali (KRB) selama ini, lumrah terjadi. Sejak dibentuk pada 9 November lalu, partai politik yang bergabung dalam koalisi gemuk itu hingga saat belum juga satu suara dalam memutuskan pasangan calon gubernur (Cagub) dan wakil gubernur (Wagub) Bali. Kekuatan KRB terbelah dalam memutuskan Cagub yang diusung. Dua nama dijagokan KRB sebagai Cagub, yakni I Ketut Sudikerta dan Ida Bagus Rai Dharmawijaya. “Dinamika KRB merupakan proses tarik ulur politik yang lumrah terjadi,” kata Riniti di Denpasar, Jumat (24/11).

Sikap Sudikerta dan Rai Mantra yang sama-sama ngotot maju sebagai Cagub, menurut Riniti, itu juga pilihan yang wajar. “Bila masing-masing bakal calon ingin jadi nomor 1 (Cagub), saya kira itu wajar-waja saja. Masing-masing bakal calon itu pasti mempertimbangkan investasi politik yang telah dilakukan masing-masing, sehingga investasi tersebut pantas untuk dicalonkan jadi nomor 1,” ujarnya.

Dosen Fisipol Universitas Ngurah Rai Denpasar ini mengatakan, menyudahi perbedaan pendapat antara bakal calon gubernur dan parpol pengusung di KRB itu tentunya memerlukan proses negosiasi dan lobi-lobi politik yang alot. “Namun kuncinya adalah jumlah kursi masing-masing parpol yang memenuhi syarat untuk mengusung pasangan calon,” kata Riniti. Menurut dia, dinamika di KRB akan segera mengerucut pada pengambilan keputusan final saat terjepit dengan deadline pendaftaran paket calon ke KPU Bali. “Akan mengerucut seiring menyempitnya waktu pendaftaran Cagub-Cawagub ke KPU Bali,” ujarnya.

Mengamati dinamika KRB belakangan kini, tampaknya sulit mengusung satu paket calon. Terbuka peluang KRB pecah kongsi, antara pengusung Sudikerta dengan pengusung Rai Mantra. Jika itu terjadi, Pilgub Bali bakal terjadi tarung segitiga. Sudikerta dan Rai Mantra bersama pasanganya adu kuat dengan paket calon yang diusung PDI-P, I Wayan Koster dan Tjokorda Oka Ardhana Sukawati alias Cok Ace.

Riniti menilai, jika Pilgub Bali menyajikan tarung segitiga, itu bagus untuk demokrasi, sebab menyediakan banyak alternatif bagi masyarakat untuk memilih pemimpinnya. “Bila nantinya dinamika KRB akhirnya pecah dan melahirkan dua calon gubernur, dan menjadi tiga calon yang akan bertarung pada Pilgub Bali, saya kira itu baik untuk demokrasi. Para pemilih lebih mempunyai alternatif-alternatif pilihan,” ujarnya.

Soal pemenang dari tarung segitiga itu, mantan anggota KPU Bali ini sulit memprediksinya. Koster, Rai Mantra dan Sudikerta, kata dia, memiliki peluang yang sama memenangkan tarung Pilgub Bali, yang akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018. “Semua punya peluang yang sama, mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Mereka mempunyai konstituen masing-masing,” pungkas Riniti***

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *