Pihak imigrasi diminta perketat pengawasan wna yang melakukan fotografi, hotel sering dijadikan markas

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Pengawasan wisatawan asing yang berkegiatan di Bali, khususnya wisatawan Cina dinilai perlu diperketat. Pasalnya selain kejahatan cyber, penyimpangan izin visa wisatawan dinilai kerap kali masih terjadi. Seperti contoh kasus guide asing dan fotografer Cina yang datang seolah layaknya wisatawan yang kerap kali ditemukan di wilayah Kutsel. Itupun terpergok saat mereka bwraktifitas yang menganggu kenyamanan dan ketertiban wilayah. “Kita harap pihak imigrasi lebih ketat melakukan pengawasan di lapangan, khususnya terkait aktifitas WNA ini. Memang saat ini adalah era MEA (masyarakat ekonomi asean), tapi kita harap ini tidak menimbulkan kesan seolah kebablasan,”terang kepala lingkungan Peminge Made Rigih, Selasa (15/5).

 

Kenapa pihaknya mengungkapkan hal tersebut, sebab dari sidak yang dilakukan pihaknya dari keluhan warga belum lama ini. Terungkap bahwa fotografer cina ini sering menjadikan hotel sebagai kantor mereka, hal itu keluar dari pengakuan yang bersangkutan sendiri saat dikonfirmasi. Modusnya yaitu dengan manfaatkan orang lokal sebagai direkturnya (penangungjawab) mereka, sedangkan wna itu selaku tenaga kerjanya. “Hal itu kami ketahui bermula dari laporan warga kami yang mengaku risih dengan aktifitas WNA tersebut yang menganggu kenyamanan wilayah. Baik dengan berfoto di fasilitas umum dan fasos, didepan usaha, di area pura geger, dan sebagainya. Dari sanalah kita tindaklanjuti bersama Camat dan Pol PP, dan terungkap ia berkantor di salah satu hotel di Nusa Dua,”jelasnya.

 

Menariknya dari penanggungjawab tersebut, diungkapkan bahwa kegiatan serupa juga terjadi di salah satu hotel lainnya di kawasan Nusa Dua. Dimana mereka menyewa tempat di salah satu hotel untuk dijadikan kantor. Menariknya dari informasi si penanggungjawab, diketahui izin usaha terkait ternyata berada di kawasan Sanur. Namun ia seolah membuka cabang di hotel tersebut tanpa bisa menunjukan izin operasional ditempat tersebut. “Izinnya kita ketahui memang lengkap, tapi itu tertera izinnya di Sanur, bukan di badung. Ia mengaku hotel itu dijadikan  outlet, tapi ia beroperasi di luar hotel. Ini kan aneh? Apalagi ini usaha besar dan penanaman modal asing, seharusnya ia membuat izin juga donk di Badung,”bebernya.

 

Saat pihaknya menanyakan apakah WNA itu datang berstatus sebagai wisatawan atau pekerja, penanggungjawab tersebut malah tidak bisa menjawab. Padahal diketahuinya jumlah WNA tersebut mencpai puluhan orang, dimana yang melakukan kegiatan fotografer saja diakuinya mencampai 40 orang, itu hanya di 1 tempat saja. “Apakah izin tinggalnya itu sebagai pekerja atau wisatawan itu belu kami ketahui. Tentu ini harus diperjelas karena berpengaruh terhadap visa yang dikantongi, jika tidak sesuai kan penyimpangan namya,”tegasnya.

 

Pihaknya mengaku tidak berani asal tuduh yang bersangkutan, sebab dokumen wna tersebut tidak diketahuinya. Namun ia menduga mereka sudah jelas menyalahi aturan UU yang berlaku, sebab diketahuinya seorang WNA bisa bekerja di Indonesia hanya terbatas pada jabatan tertentu. Seperti GM, eksekutif cheff, director dan sejenis, sementara fotografer menurutnya adalah pekerjaan menengah kebawah dan SDM lokal Bali pun banyak yang mahir fotografi. Sayangnya saat itu pihaknya mengaku hanya memberikan sebatas peringatan semata. Namun pasca kejadian tersebut, sampai sejauh ini belum ada temuan kejadian serupa. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!