Persembahyangan Saraswati diminta berakhir jam 6 pagi

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI  – Pelaksanaan Catur Bratha Penyepian yang berbarengan dengan hari Raya Saraswati, membuat pihak desa adat Kuta memberlakukan aturan khusus menyikapi hal tersebut. Dimana sesuai dengan arahan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) propinsi Bali, pelaksanan persembahyangan hari raya Saraswati yang berbarengan dengan Nyepi berlaku beberapa pedoman. “Pelaksanaan sebahyang Saraswati berjalan seperti normalanya, tapi mengambil pelaksanaan yang sederhana,”ujar Bendesa Adat Kuta, Wayan Swarsa dihubungi Selasa (13/3).

 

Pelaksanan sederhana tersebut dimaksudkannya adalah, dalam pelaksanaan persembahyangan tersebut tanpa menggunakan bebajran (genta), tidak melibatkan masyarakat Desa tapi hanya melibatkan pemangku dan prajuru dan pengayah desa adat. Serta tidak ada gegitan dan mekidung (alunan tembang) yang diujarkan. “Ini sudah disepakati dalam paruman desa Adat Kuta, jadi diupayakan jalannya persembahyangan sudah selesai jam 5 pagi dan maksimal jam 6 pagi”tegasnya.

 

Kenapa jam 6 pagi? Pihaknya menjawab hal tersebut merupakan waktu dimulainya pelaksanaan Catur Bratha Penyepian. Dimana aturan tersebut juga diberlakukan di masing-masing parahyangan rumah tangga. Dimana persembahyangan yang hendak dilakukan di masing-masing rumah harus dilakukan sebelum jam 6 pagi, atau saat dimulainya waktu Nyepi. “Untuk disekolah tidak ada perayaan persembahyangan Saraswati, sebab saat itu kan libur. Jadi persmebahyangan itu hanya dilakukan di prahyangan masing-masing rumah tangga,”imbuhnya. GAY
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!