Permintaan Sarana Upacara Kuningan Stabil

posbali.id

DENPASAR, POS BALI – Memasuki H-3 perayaan Kuningan, Rabu (8/11), sejumlah pedagang sarana upacara terpantau semakin penuh menjajakan berbagai sarana khas Kuningan seperti tamiang, endongan, ter, dan tumpeng kuning. Namun, meski sarana-sarana upacara itu kian menjamur, permintaan terhadapnya barang-barang tersebut stabil.

Jero Ratna, seorang pedagang sarana upacara di bilangan Jalan Gunung Kawi Denpasar mengatakan kondisi ini diakibatkan karena kebanyakan masyarakat telah membeli sarana kelengkapan Kuningan bersamaan dengan membeli sarana perlengkapan Galungan. “Kebanyakan dari konsumen membeli tamiang saat Panyajaan dan Penampahan Galungan. Beberapa juga ada yang membeli pasca perayaan Galungan,” katanya

Ia mengatakan belakangan beberapa tahun terakhir, sarana-sarana Kuningan yang bisa bertahan lebih lama cenderung dibeli lebih awal oleh konsumen. Menjelang Kuningan mereka hanya tinggal membeli bahan-bahan segar seperti bunga, buah, dan perlengkapan lain yang tidak bisa bertahan lama.

Meski tidak mengalami kenaikan permintaan signifikan, Jero Ratna mengaku terus membuat sarana-sarana tersebut. “Setiap hari pasti ada yang mencari, meskipun tidak begitu banyak, sehingga saya harus siap sedia dengan sarana-sarana itu. Jika tersisa, sarana-sarana ini bisa distok hingga enam bulan ke depan. Sarana-sarana umum bisa juga dijual sehari-hari,” terangnya.

Di lapak miliknya, ia menjual sejumlah sarana khas Kuningan, seperti tamiang, endongan, ter, sulanggi, dan tumpeng kuning. Sarana-sarana itu dijual dengan harga bervariasi. Ada yang dijual per biji dan dijual per paket. Dari sarana-sarana itu, tumpeng kuning dinyatakan paling dicari sejak sehari sebelumnya.

Satu bungkus tumpeng kuning berisi sepuluh buah dijual seharga Rp5 ribu. Tumpeng itu dibuat dengan beras yang telah dilumuri pewarna makanan dan diberikan kanji sebagai perekat dan pengawet. Metode pembuatan tumpeng ini telah mengalami modernisasi dan komersialisasi.

Pernyataan senada juga dinyatakan Agung Mirah. Wanita yang telah lebih dari 10 tahun berdagang sarana upacara itu mengaku pasca Galungan tidak ada kenaikan permintaan maupun harga dari sarana-sarana upacara khas Kuningan. Kebanyakan konsumen telah membeli sarana-sarana itu bersamaan dengan membeli sampian penjor.

Selama Galungan ini, ia mengaku telah menghabiskan lebih dari 15 kodi tamiang dan sekitar 14 kodi endongan dan ter. Agung menjual tamiang seharga Rp2,5 ribu per buah, endongan Rp1,5 ribu per buah, ter Rp2 ribu per buah. Eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!