Perluasan bandara Ngurah Rai jangan abaikan dampak sosial dan sosialisasi kepada masyarakat

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Perluasan sisi barat bandara Ngurah Rai dengan cara mereklamasi, diakui memang akan sangat berdampak secara ekonomis dan pariwisata bagi Bali kedepannya, seriring dengan meningkatkan target jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. Namun disisi lain pelebaran dengan cara mereklamasi tersebut dirasa akan menimbulkan dampak buruk dari kajian aspek sosial dan lingkungan. Utamanya bagi masyarakat yang beraktifitas di pantai. “Pembangunan bandara Ngurah Rai dulu itu kan juga disertai dengan reklamasi, sehingga itu berdampak pada perumahan warga Jerman yang kemudian lenyap terkikis abrasi,”ujar Ketua Asosiasi Transportasi Online Bali, Wayan Suata, Rabu (4/4).

 

Pihaknya juga mengaku heran dengan sikap masyarakat sekitar yang seolah tidak bereaksi atas hal tersebut. Padahal proyek tersebut belum pernah tersosialisasikan kepada masyarakat, pihaknya justru balik mempertanyakan apakah tokoh dan masyarakat sudah tau dampak dan sejauh mana proyek tersebut apa berpura-pura tidak tahu. “Kuta,Legian, Seminyak ini tentu juga akan kena terkena dampaknya labat laun, seperti kejadian di pantai Jerman. Saat itu saya masih SMP, sehingga saya rasa dari kajian manapun proyek itu pasti akan mengakibatkan pantai terkikis ke arah utaranya proyek,”bebernya.

 

Sosialisasi proyek tersebut diakuinya wajib harus dilakukan, sebab siapa yang berani menjamin jika proyek tersebut akan tidak berdampak kepada desa penyangga bandara. Jika nantinya dampak proyek tersebut menimbulkan kerusakan, pihaknya mempertanyakan siapa yang lantas akan bertanggungjawab nantinya. “Jadi jangan melihat hanya dari segi bisnis dan ekonominya serta dari keuntungan PAP I. Memang pengembangan itu kebutuhan pariwisata, tapi jangan mengabaikan dampak sosialnya. Dampaknya ini tentu tidak serta neeta sekarang ditimbulka, tapi itu kedepan akan terkikis sedikit-demi sedikit,”terangnya.

 

Pihaknya mendorong agar desa penyangga tersebut, membuat semacam surat perjanjian. Dimana didalamnya berisi bahwa pihak proyek siap bertanggungjawab akan dampak yang ditimbulkan proyek tersebut. Sehingga nantinya jelas kontribusi dan upaya apa yang akan diberikan bandara jika itu berdampak kepada lingkungan desa sekitar. “Upaya mitigasi, pencegahan dampak itu harus jelas seperti apa. Ini harus dipikirkan. Jika itu beresiko bagi sosial dan lingkungan maka lebih baik dibatalkan saja. Toh di Bali utara kan akan dikembangkan airport baru,”tegasnya.

Pihaknya me menilai alasan pengembangan bandara Ngurah Rai dengan mereklamasi itu, dilakukan karena atas dasar kebutuhan IMF World Bank 2018, adalah suatu hal yang mengada-ada. Sebab bagaimana mungkin proyek tersebut bisa selesai pada bulan Oktober dengan metode reklamasi. Hal itu seolah tidak mungkin adanya dan terkesan membodohi masyarakat. “Jika untuk parkir pesawat delegasi IMF saya rasa pesawatnya isa dialihkan ke bandara lainnya, toh masih ada bandara yang masih memungkinkan kan. Setelah rombongan mendarat fi Bali, maka pesawat dialihkan ke bandara lain yang terdekat. Nanti kalau ingin berangkay maka di jemput lagi ke Bali, toh jaraknya dekat. Jangan seolah dipaksakan, sebab dampaknya ini akan sangat luar biasa nantinya,”pungkasnya. GAY
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!