Peringatan Bulan Bahasa Bali di Bangli, Diharapkan Jadi Tonggak Baru Lahirnya Semangat Bersastra

posbali.id
Salah satu peserta lomba masatwa Bali yang digelar DPK Peradah Indonesia Bangli, PC KMHDI Bangli, dan Komunitas Bangli Sastra Komala, Sabtu (9/2).

BANGLI, posbali.id – Lomba masatua dan ngerupak mengawali peringatan Bulan Bahasa Bali yang digelar DPK Peradah Indonesia Bangli, PC KMHDI Bangli, dan Komunitas Bangli Sastra Komala. Lomba yang diikuti puluhan peserta SD dan SMP itu digelar di STKIP Suar Bangli, Bangli, Sabtu (9/2).

Ketua Panitia Peringatan Bulan Bahasa Bali, I Putu Edi Swastawan, mengatakan, lomba tersebut merupakan bentuk respon para pemuda Bangli terhadap perkembangan dan pelestarian bahasa Bali di Bangli. Pelaksanaan kegiatan itu juga dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Pemerintah Provinsi Bali yang telah mengukuhkan komitmen menjaga bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui Pergub Bali No 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

“Peringatan Bulan Bahasa Bali yang pertama ini kami nilai sebagai momentum tepat melestarikan bahasa Bali. Tetamian (bahasa Bali) puniki nenten kaicen, sakewanten sangkaning kapapetang turmaning tanggung jawab (warisan ini bukanlah sesuatu yang diberikan, tapi sebuah titipan serta tanggung jawab,” ungkap pemuda asal Dusun Langkan, Landih, Bangli ini.

Selain lomba masatua dan ngerupak, pihaknya juga menggelar lomba cipta puisi Bali Anyar yang diikuti oleh siswa SMA dan pemuda se-Kabupaten Bangli dalam rentang usia 15 s.d. 30 tahun. Puisi-puisi yang terkumpul akan dibukukan sebagai wujud nyata bangkitnya kehidupan bersastra di Bangli. “Pengumuman pemenang lomba puisi Bali Anyar akan kami umumkam saat Rembug Sastra pada Sabtu (16/2) minggu depan. Rembug itu juga kami gelar untuk mendiskusikan keberadaan sastra, Bangli, dan merdeka seratus persen. Merdeka seratus persen sendiri adalah jargon kemerdekaan pahlawan Bangli, AA Anom Mudita, pada masa revolusi fisik,” jelasnya.

Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli, I Ketut Eriadi Ariana, menambahkan, Peringatan Bulan Bahasa Bali yang digelar di Bangli merupakan upaya pihaknya mengasah dan menumbuhkan minat dan bakat pemuda di bidang bahasa, aksara, dan sastra Bali di Bangli. Ia menilai, Bangli memiliki potensi yang besar di bidang sastra. Namun, potensi itu saat ini masih terkubur lantaran kurangnya media ekspresi dan apresiasi.

“Kami bersama PC KMHDI Bangli dan Komunitas Bangli Sastra Komala yakin Bangli sangat potensial menjadi pusat sastra di Bali. Rekam jejak sejarah menegaskan kawasan Bangli, khususnya Perbukitan Kintamani (Bukit Cintamani Mal) sebagai kawasan perguruan dan spiritual sejak masa Bali Kuno. Dalam bidang keberaksaraan, Bali memiliki hutang budi pada Prasasti Sukawana A1 sebagai tonggak keberaksaraan pertama di Bali,” ucapnya.

Potensi itu sejatinya sudah mulai tampak, yang dibuktikan dengan keberhasilan sejumlah pemuda Bangli menetaskan karya sastra, baik yang dibukukan maupun dimuat di media-media massa. Bahkan, sastrawan muda Bangli, Agus Darma Putra berhasil meraih penghargaan Sastra Rancage 2018 atas karyanya “Bulan Sisi Kauh”.

Diharapkannya, ke depan potensi terpendam kesastraan itu dapat dilirik pemerintah daerah dengan mendukung pembentukan lembaga pembinaan sastra maupun even-even sastra. “Kintamani juga memiliki Balai Seni dan Budaya STA Toya Bungkah, yang didirikan sastrawan Indonesia terkemuka, Sutan Takdir Alisjahbana. Sayang, balai itu sekarang mati suri, padahal bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata yang belum tentu dimiliki kabupaten lain. Barangkali ke depan bisa dipikirkan sebuah festival sastra yang dapat digelar di Bangli,” tutupnya.

 

Antusiasme Peserta

Para siswa SD se-Kecamatan Bangli yang unjuk gigi dalam kegiatan bertema “Sastra, Bangli, lan Merdeka Seratus Persen” itu tampak antusias mengisahkan satua (cerita tradisional) Bali. Ada yang membawakan kisah “Ni Bawang teken Ni Kesuna”, ada pula yang mengisahkan “Ni Ketimun Mas”.

Di akhir penampilan, mereka pun tidak ketinggalan menyatakan pesan moral yang dapat diambil dari kisah-kisah yang diceritakan. Beberapa peserta juga tampak mendeskripsikan sejumlah kata arkais bahasa Bali, yang tak banyak lagi ditemui di kehidupan modern pada sela-sela cerita yang dibawakan.

Timpal-timpal nawang ane madan lesung ngajak lu? Lu lan lesung nika sane anggena nebuk padi, yen cara mangkine slip (teman-teman tahu yang bernama lesung dan penumbuknya? Penumbuk dan lesung itu yang digunakan menumbuk padi, slip jika dipadankan saat ini),” tutur salah seorang peserta, Rara Divya Pasek, siswi SDN 3 Bunutin.

Sementara itu, lomba ngerupak (menulis aksara Bali di atas daun lontar menggunakan pengrupak) yang diikuti sembilan orang peserta dari SMP se-Kabupaten Bangli tak kalah mengembirakan. Tulisan para peserta rata-rata sangat baik, memenuhi tata aturan menulis aksara Bali di atas daun lontar. Namun, ada sejumlah hal yang masih dijadikan catatan oleh dewan juri. Salah satunya terkait tikas (sikap) dalam menulis lontar.

Di akhir kegiatan, masing-masing dewan juri memberikan evaluasi lomba, yang selanjutnya diikuti dengan pengumuman juara. Para pemenang diharapkan dapat menjadi pemegang tongkat estafet pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali di Bangli.

Adapun pemenang lomba masatua Bali  yakni Pande Gede Dimas Widana (SDN 2 Kawan) sebagai juara I, Putu Pande Ari Padma Ulandari (SDN 1 Taman Bali) sebagai juara II, dan Sang Ayu Putu Gita Kharisma Putri (SDN 2 Taman Bali) sebagai juara III. Sedangkan, juara I lomba ngerupak diraih oleh I Kadek Adi Guna (SMPN 1 Kintamani), disusul I Kadek Hery Mudyana (SMPN 3 Bangli) sebagai juara II, dan Desak Nyoman Kurnia Cahyani (SMPN 5 Bangli) sebagai juara III. eri

 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!