Perguruan Tinggi di Bali Terlindung dari Ancaman Radikalisme

posbali.id
Sarasehan Pertahanan di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Jumat (19/10).

DENPASAR, posbali.id – Kepala Perwakilan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Provinsi Bali Kolonel Inf. Ketut Budi Astawa S. Sos M.Si menegaskan seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta yang tersebar di Bali masih terlindung dari ancaman radikalisme. Meski demikian, gejala radikalisme disinyalir selalu ada dan berupaya masuk kampus.

“Semua kampus yang ada (di Bali) saat ini masih aman dari bahaya radikalisme, walaupun gejala dan upaya (radikalisme) selalu berusaha masuk ke kampus, (kampus) belum terpengaruh,” katanya di sela-sela Sarasehan Pemberdayaan Pertahanan di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Jumat (19/10).

Gejala-gejala itu, katanya, dapat diamati dari tiga fenomena. Pertama, biasanya kelompok-kelompok tertentu mulai memicu perpecahan dengn mengedepankan perbedaan pandangannya terhadap norma-norma yang telah ada di masyarakat. Kedua, perbedaan itu mulai direalisasikan dalam bentuk menyampaikan demonstrasi-demontrasi yang intinya melawan kebijakan kampus maupun kebijakan pemerintah.

“Ketiga mulai membenturkan agamanya dengan kepercayaan orang lain, menganggap agamanya lebih baik dari agama orang lain. Nah, di Bali kita harapkan tidak ada yang seperti ini,” ucapnya.

Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah melalui Polda Bali, Kodam IX Udayana, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Bali, dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali sudah memonitor indikasi-indikasi itu. Upaya preventif juga digencarkan untuk mencegah virus radikal menyebar di kalangan masyarakat, khususnya lingkungan kampus.

Kolonel Inf. Ketut Budi Astawa S. Sos M.Si

“Secara preventif Kemenhan selalu bersinergi dengan Pangdam (IX Udayana), Kapolda (Bali), dan pemerintah provinsi, kabupaten/kota. Kita lakukan pembinaaan melalui ibadah bersama, simakrama, ngopi bareng, hingga pentas seni budaya sebagai upaya pencegahan,” jelasnya.

Jika misalnya ditemukan indikasi perkembangan radikalisme, aparat ditegaskan tak akan memberikan toleransi. Upaya represif akan diambil memberangus radikalisme hingga ke akar-akarnya.

“Kami adakan sarasehan ini pun adalah bentuk tindakan preventif, sebab Menwa (Resimen Mahasiswa, red) adalah potensi yang akan berperan dalam menjaga ketertiban kampus. Sehingga harus dibina agar tidak jadi boomerang,” tandasnya.

Pandangan senada dinyatakan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unhi Denpasar, Dr. Wayan Muka, ST, MT. Ke depan, pihaknya berkomitmen akan menguatkan pemahaman bela negara dan wawasan kebangsaan di kalangan kampus, membentengi mahasiswa dari pengaruh-pengaruh radikal maupun berita bohong (hoaks).

“Pendidikan bela negara itu sangat penting dihadirkan di kalangan mahasiswa. Di negara kita yang luas ini, peran mahasiswa sangatlah besar. Generasi milenial adalah emas dan tunas bangsa, sehingga perlu kita pelihara. Jangan sampai disusupi hal negatif seperti berita bohong dan juga yang paling krusial, radikalisme. Kalau ada kita berangus,” tegasnya.

Pada kegiatan perdana ini, lanjutnya, sarasehan bela negara memang masih ditujukan untuk kalangan Menwa. Ke depan akan diagendakan menyasar kalangan mahasiswa secara umum. “Sarasehan ini dilatarbelakangi karena kita ingin melakukam pembinaan kepada Menwa Unhi, tapi kemudian disarankan mengundang seluruh komandan Menwa di Bali. Nanti kita akan tindaklanjuti agar bisa diproyeksikan menyasar semua kalangan kampus,” pungkasnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!