Perangi Sampah Plastik di Banjar Dualang, Mahasiswa Universitas Ngurah Rai Bagikan Tas dan Sediakan Tempat Sampah

posbali.id

TABANAN, POS BALI.ID- Puluhan mahasiswa Universitas Ngurah Rai melaksanakan Kuliah Aplikasi Terpadu (KAT) di Banjar Dualang, desa Kaba -Kaba, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu (10/2/2018) pagi. Mereka dari kelompok 6 KAT Universitas Ngurah Rai yang berjumlah 30 orang.

Kegiatan KAT ini dilakukan dengan bakti sosial, yakni memungut sampah plastik di pemukiman warga Banjar Dualang yang luas mencapai 4500 m2. Para mahasiswa tersebut menggandeng Truna Banjar Dualang dalam kegiatan tersebut. Aksi pungut sampah ini dipimpin langsung oleh kepala dusun Dualang I Gusti Ngurah Ketut Santika. “Kegiatan ini dilakukan mengingat dampak sampah plastik yang sangat membahayakan bagi lingkungan,” kata Vinsensius Jala, salah satu peserta KAT Universitas Ngurah Rai tersebut.Vinsen menjelaskan, bakti sosial ini merupakan implementasi Dhrma ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Selain itu juga merupakan perwujudan dari Tri Huta Karana. “Pada dasarnya hakikat ajaran Tri Hita Karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini yang saling terkait satu sama lain, yakni hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan,” jelasnya.

Mahasiswa Fakultas Hukum ini melanjutkan, Bakti sosial pembersihan sampa plastik itu merupakan bagian dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya. “Manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Manusia dengan demikian sangat tergantung kepada lingkungannya. Oleh karena itu manusia harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya,” kata Vinsen.

“Lingkungan harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang-binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Lingkungan yang ditata dengan rapi dan bersih akan menciptakan keindahan. Keindahan lingkungan dapat menimbulkan rasa tenang dan tenteram dalam diri manusia,” lanjut dia.

Mahasiswa asal Manggarai Timur, Flores-NTT ini mengatakan, pihaknya memberikan atensi terhadap sampah plastik, karena dampaknya besar terhadap lingkungan. Vinsen pun menyebutkan sejumlah dampak sampah plastik, yakni tercemarnya tanah, air tanah, dan juga makhluk hidup bawah tanah; Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan berpotensi untuk membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah, termasuk cacing.

Dampak lainnya, PCB (polychlorinated biphenyl) yang tidak terurai walaupun sudah termakan oleh hewan dan tumbuhan akan menjadi racun berantai sesuai urutan makanannya. “Yang mana, tidak menutup kemungkinan bahwa manusia, termasuk kita sendiri, ada di dalam rantai makanan tersebut,” kata dia.

Sampah plastik juga akan mengganggu jalur terserapnya air ke dalam tanah sehingga menurunkan kesuburan tanah. “Hal ini dikarenakan plastik juga dapat menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk hidup bawah tanah yang berperan dalam proses penyuburan tanah,” jelas Vinsen.

Ia melanjutkan, sampah plastik yang susah diurai mempunyai umur panjang, dan menjadi ringan sehingga mudah untuk diterbangkan angin sehingga tidak menutup kemungkinan bisa mencemari lautan dan wilayah-wilayah lainnya secara bergantian.

Tak lainnya tambah dia, hewan-hewan dapat terjebak dalam tumpukan sampah plastik hingga bisa mati. “Hewan-hewan laut, seperti lumba-lumba, penyu, dan anjing laut menganggap sampah atau kantong plastik sebagai makanannya sehingga mereka akhirnya bisa mati hanya gara-gara memakannya dan tidak mampu mencernanya,” ujarnya.

“Ketika hewan-hewan yang menelan sampah atau kantong plastik mati, maka sampah atau kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tersebut tidak akan hancur dan tetap utuh sehingga akhirnya akan menjadi bangkai yang dapat meracuni hewan lainnya, manusia yang berada di sekitarnya, hingga mencemari lingkungan dengan baunya yang biasanya busuk dan menyengat,” tambah dia.

Pembuangan sampah plastik secara sembarangan di sungai-sungai juga akan mengakibatkan pendangkalan dan penyumbatan aliran sungai sehingga berpotensi menyebabkan banjir ketika hujan turun.

Penyumbatan saluran air akibat sampah plastik dapat menjadi tempat perkembangbiakan daur hidup nyamuk dan serangga berbahaya lainnya, seperti nyamuk BDB dan malaria, sehingga menimbulkan penyakit.

Tak hanya itu, sampah plastik yang dibakar, asapnya akan mencemari lingkungan. “Dalam asap tersebut biasanya terkandung zat dioksin yang apabila dihirup oleh manusia dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan sistem pernapasan pada manusia, kanker, pembengkakan hati, dan gangguan sistem syaraf,” jelas Vinsen.

Ia mengatakan, kualitas air di lingkungan akan semakin memburuk karena banyaknya sampah plastik yang mengandung bahan-bahan kimia. “Seperti styrene trimer, bisphenol A, dan lain sebagainya, di mana pada akhirnya akan meracuni air yang biasanya dijadikan air minum atau mandi dalam kehidupan sehari-hari,”ujarnya.

Sebagai upaya untuk menekan sampah plastik di banjar Dualang, para
mahasiswa tersebut telah membagikan tas yang terbuat dari kain kepada 122 KK warga Banjar setempat. “Dengan harapan agar masayarakat kalau ke sawah atau ke pasar bisa membawa serta tas sehingga mengurangi penggunan plastik,” katanya.

Selain itu mereka juga menyediakan 10 unit tempat sampah yang akan ditempatkan setiap gang di Banjar Dualang. “Dengan harapan agar masyarakat bisa membuang sampah pada tempatnya sehingga sampa plastik tidak berserakan,” ujarnya.

“Kami juga mendorong masyarakat untuk biasakan memungut sampah plastik,” pungkas Vinsen. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!