Peran Umat Kristiani Dalam Sejarah

posbali.id

Cornelius E.S.

“Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja (Negara/ pemerintah) sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi” (1 Petrus 2:13).

 

SEJARAH adalah tapak-tapak peradaban manusia beserta lingkungan terkaitnya, tapak-tapak itu sambung – menyambung menghubungkan peradaban ke peradaban, menghantarkan manusia memasuki kehidupan beradab, untuk menciptakan kualitas kehidupan yang lebih beradab sebagai perwujudan rasa hormat dan terimakasih kepada sang pendahulu terlebih rasa syukur kepada Sang Maha Beradab, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sejarah Indonesia adalah karya kreasi kepemimpinan seluruh rakyat Indonesia, bukan jasa dan upeti dari siapapun. Sosok kebangsaan yang kemudian terkristal dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke juga merupakan akumulasi kesadaran politik kebersamaan kebangsaan Indonesia, bukan hadiah atau kebesaran hati dari golongan manapun. Sejarah menyaksikan kehadiran umat Kristen sejak tahun 645 Masehi di Pancur Barus Tapanuli sebagaimana dicatat dalam buku kuno tulisan Shayk Abu Salih Al-Armini yang perkembangannya sampai abad 17 di berbagai tempat seperti di Padang, Semarang, Surabaya, Sulawesi Utara, Pantai Barat Sulawesi, Maluku, NTT, dan Irian Jaya bersaksi tentang kehadiran dan partisipasi serta kepemimpinan Kristen di bumi Nusantara.

Sejarah juga membuktikan bahwa agama Kristen bukanlah agama kolonial (penjajah).  Para pejuang kemerdekaan yang beragama Kristen di masa kerajaan Nusantara dan di masa kebangkitan nasionalisme Indonesia modern mencapai Proklamasi kemerdekaan, justru menunjukkan ketulusan hati dan peran strategisnya yang didasari dan dimotivasi oleh iman Kristianinya untuk melawan penjajah. Hal serupa juga terus berlanjut dalam era “Nation and Caracter Building” dan era Pembangunan nasional bahkan catatan emas pada saat-saat monumental seperti Penetapan UUD 1945, Pemantapan Angkatan Perang/ Bersenjata, Perengkuhan Irian Jaya, dst.

Epos perjuangan dramatis pemuda asal Menado yang gugur di Ujung Pandang, Wolter Robert Monginsidi (1925 – 1949) yang mengakhiri hidupnya di depan regu tembak Belanda dengan tangan kiri memegang Injil, dengan mata terbuka dan tangan kanan mengepal sembari meneriakan seruan “merdeka!” Hikmat agamis yang dicontohkan oleh Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) yang sebelum tertangkap Belanda, menyempatkan diri menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan berdoa dan membaca serta meninggalkan Alkitab terbuka Mazmur 17 di Gereja Saparua – Tiouw Maluku.

Pahlawan kusuma bangsa itu adalah sosok kepemimpinan manusia unggul yang kental kadar keimanannya dan kental kadar kebangsaannya. Ketaatannya kepada agama tidak serta merta menjadikannya kerdil, primitif dan sektarian, melainkan menempatkan esensi ajaran agama sebagai sumber motivasi untuk didharmabaktikan kepada substansi yang lebih universal dan luhur, yakni kebangsaan Indonesia. Kita tidak akan berhenti mensyukuri dan kagum serta konsisten terhadap keputusan politik yang sangat sangat monumental, yakni tatkala para intelegensia/cedikiawan pemimpin bangsa pada tanggal 18 Agustus 1945, yang meskipun kesemuanya memiliki kadar keagamaan dan keimanan yang sangat kuat, tetapi pendiri Republik Indonesia yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, Prof. DR. Mr. Raden Supomo, Mr. Johannes Latuharhary, DR. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Haji Teuku Muhammad Hassan, Mr. Raden Kasman Singodimedjo, Mr. I Gusti Ketut Pudja, Drs. Yap Tjwan Bing, Haji Wachid Abdul Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dan kawankawan tidak memilih sosok Negara keagamaan, tetapi secara bulat mereka memilih Negara kebangsaan sekaligus menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Hal serupa juga ditunjukkan oleh kekuatan Iman Panglima Besar ABRI Jenderal Sudirman yang Islam Kejawen dapat bekerja sama dengan kuatnya iman Panglima Angkatan Perang RI pertama Mayor Jenderal Tahi Bonar Simatupang yang Kristen Tapanuli.

Demikian pun konfi gurasi politik kebangsaan Indonesia mencatat peran historis Dr. Johanes Leimena sebagai WAPERDAM I, memimpin Rapat Kabinet di Istana Negara pada saat krisis peristiwa 30 September 1965, Ir Soekarno diungsikan ke Istana Bogor. Peran historis juga dianugerahkan Allah kepada Mayjend D.I. Panjaitan, Mayjend Sugiyono, Kapten Piere Tendean dan Komisaris Polisi Sasuit Tubun, yang menjadi tumbal pada peristiwa “Gerakan 30 S PKI” 1965, iman anak-anak Tuhan ini bahkan menyelamatkan nyawa Jenderal Muslim. Jelas, catatan sejarah membuktikan bahwa umat Kristiani mempunyai ‘saham’ demi eksis dan keberlangsungan bangsa ini. Peran serta umat Kristiani dalam perjuangan merupakan anugerah historis dari Allah bagi bangsa Indonesia yang seharusnya dilestarikan dan dijunjung tinggi, bukan justru hendak ditiadakan, apalagi mau diredefi nsi simpul-simpul pentingnya oleh sejumlah ‘cendekiawan dari kelompok tertentu’, termasuk konon Pancasila. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

14 tanggapan untuk “Peran Umat Kristiani Dalam Sejarah

  • 19/11/2017 pada 10:34 PM
    Permalink

    When I initially commеnted I clicked the “Notify me when new comments are added” checkƄoҳ and now each time a comment is adⅾed I ցet four e-mails
    with the same ϲomment. Is there any way you can remove me from that service?

    Cheers!

    Balas
  • 14/04/2018 pada 12:18 PM
    Permalink

    Throughout Major League Baseball, April 15 is Jackie Robinson Day.
    I’d love to say I knew what the Toronto Raptors were going to do with the 27th pick, but I’d be kidding myself.
    Though he fouled a couple of pitches off, Judge looked bad in that AB.

    A Look to the SummerPerhaps the Rangers can borrow a trick from the NY Yankees and their Aroldis Chapman move.
    However, he did play for the Rochester Americans from 2011 and 2013.

    Balas
  • 25/06/2018 pada 4:17 PM
    Permalink

    “2 millones), Salamanca, un 39,6 por ciento (70,2 millones), Ávila, con un 17,4 (11,1 millones), Segovia, un 14,1 por ciento (30,6 millones), Soria, un 12,3 por ciento (17,1 millones), Valladolid, un 11,8 (150,4 millones) y León, un 10 por ciento (66,6 millones).”

    Balas
  • 01/09/2018 pada 3:42 PM
    Permalink

    I am гeally thankfuⅼ to the owner of this web
    page wһo һas shared this wonderful article at at this time.

    Balas
  • 09/09/2018 pada 6:20 AM
    Permalink

    Gгeate post. Keep ᴡriting such kind of information on your blog.
    Im really impressed by it.
    Hello there, You have done а fantastic job. I will certainly digg it and personally suggest
    to my friends. I’m confident they’ll be benefited frоm this website.

    Balas
  • 13/09/2018 pada 2:05 AM
    Permalink

    Infоrmative article, totally what І wanted tо find.

    Balas
  • 13/09/2018 pada 3:36 AM
    Permalink

    whⲟah this blog is fantaѕtic i like studying yߋur articles.
    Keep up the great work! You know, lots of persons are searcһing round
    for this information, you can aiԀ thеm ɡreatly.

    Balas
  • 18/09/2018 pada 8:39 AM
    Permalink

    Αhaa, its fastidious dialogue concerning
    this paragraph at this plɑce at this webpage, I have read all that, so now me also
    сommenting here.

    Balas
  • 20/09/2018 pada 5:55 AM
    Permalink

    Pretty nice post. I just stumbled ᥙpon үour blog and wanted to say that I’ve truly enjoyed brоwsing your blog
    poѕts. In any case I will be subscribing to youг feeⅾ and I hⲟpe you write again very
    soon!

    Balas
  • 21/09/2018 pada 12:01 AM
    Permalink

    I bloɡ often and I really thank you for your content. This artіcle has really peaked my interest.
    I am gоing to bookmark your blog and keep checкіng for new information about once per
    week. I subscribed to youг Feed as well.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!