Penyebab Suhu Udara Terasa “Gerah”

posbali.id

Ditulis Oleh : Hilma Nurul Fauzia Rahman

Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar

 

Belakangan ini banyak masyarakat yang merasakan suhu udara yang terasa semakin panas dan sinar matahari yang terasa semakin terik akhir-akhir ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat, apa sebenarnya penyebab kondisi “gerah” saat ini dan apakah kondisi seperti ini termasuk kondisi normal atau tidak. Mari kita bahas penyebab-penyebab suhu udara terasa “gerah” di lingkungan kita saat ini.

 

Fenomena cuaca yang terasa panas dan terik merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi. Mungkin masyarakat sudah tidak asing lagi dengan istilah fenomena Equinox. Seperti kita ketahui, Equinox merupakan salah satu fenomena astronomi dimana matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September. Pada bulan April ini, pergerakan semu matahari sedang perlahan bergeser dari equator menuju ke wilayah Belahan Bumi bagian Utara. Wilayah Indonesia yang berada pada garis khatulistiwa atau garis equator pun akan merasakan pemanasan matahari yang cukup optimal dan penguapan yang cukup tinggi. Keberadaan fenomena tersebut tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis. Hasil pengukuran suhu udara maksimum di empat titik stasiun pengamatan BMKG di wilayah Bali menunjukkan bahwa suhu udara maksimum selama awal bulan April 2018 di wilayah Bali berkisar antara 31 – 350 C dengan kelembaban udara minimum berkisar antara 53 – 70 %, dimana suhu udara tertinggi dan kelembaban udara terendah tercatat di wilayah Denpasar. Hal ini adalah hal yang normal karena mengingat Denpasar adalah daerah perkotaan yang padat akan pemukiman penduduk dengan segala  macam aktivitas manusia.

 

Fenomena equinox juga merupakan fenomena alam yang menandakan bahwa wilayah Indonesia, termasuk wilayah Bali akan memasuki musim peralihan atau musim pancaroba, baik itu musim peralihan dari musim hujan ke kemarau maupun musim kemarau ke musim hujan. Suhu udara yang terasa panas dan terik merupakan hal yang normal dan biasa terjadi pada saat musim transisi. Pada saat memasuki musim transisi akan terjadi pula perubahan pola arah angin. Berdasarkan pantauan pola pergerakan arah angin, Pada bulan April ini arah angin sudah mulai bergerak dari arah Timuran. Arah angin timuran merupakan arah angin yang berasal dari daratan Australia bersifat tandus, kering dan panas, sehingga angin timuran memiliki karakteritik menmbawa massa udara yang sifatnya kering. Aliran massa udara yang kering bergerak dari Australia menuju wilayah Indonesia bagian Selatan dibarengi oleh kelembaban udara yang rendah dan radiasi matahari yang optimal, maka akan membuat suhu udara terasa sangat panas dan terik.

 

Berdasarkan pantauan citra satelit cuaca, terlihat bahwa awan-awan yang tumbuh di wilayah Bali pada siang hari lebih sedikit dibandingkan saat malam hari. Kondisi perawanan terlihat lebih banyak pada malam hari. Sedikitnya pertumbuhan awan pada siang hari mengakibatkan radiasi matahari langsung menyinari permukaan bumi tanpa ada yang menghalangi sehingga udara terasa panas dan terik. Pada saat siang hari matahari melepaskan radiasi berupa energi dalam bentuk gelombang pendek. Radiasi yang diterima oleh bumi ada yang diserap oleh bumi, namun ada pula yang dilepaskan kembali ke atmosfer. Pelepasan radiasi oleh bumi melalui energi gelombang panjang terjadi pada saat malam hari. Kondisi perawanan yang banyak pada malam hari menyebabkan radiasi yang seharusnya dilepaskan ke atmosfer, akhirnya kembali dipantulkan lagi ke bumi karena tertahan oleh awan-awan tersebut. Hal tersebut juga menyebabkan suhu udara terasa “gerah” pada malam hari. Selain itu, kondisi suhu permukaan laut di sekitar Perairan Bali saat ini dalam kondisi yang hangat yaitu berkisar antara 29 -310 C. Angin yang bertiup cukup kencang dari laut ke darat menyebabkan suhu panas yang terjadi di laut juga terbawa oleh angin sampai ke daratan, sehingga daratan pun menjadi panas dan lembab.

 

Fenomena suhu udara yang terasa panas dan terik merupakan hal yang normal terjadi pada saat musim peralihan. Selain suhu udara yang terasa lebih “gerah”, hal-hal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat pada saat musim peralihan yaitu potensi bencana yang kemungkinan dapat terjadi pada saat musim peralihan. Potensi bencana tersebut antara lain hujan lebat yang disertai angin kencang berdurasi singkat, puting beliung dan kilat/petir. Antisipasi untuk menyambut musim kemarau juga perlu dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah setempat, seperti melihat kondisi keberadaan sumber air dan mulai menyediakan penampungan air untuk mengatasi terjadinya kekeringan.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *