Pentingnya Menjaga Tumbuh-tumbuhan

posbali.id

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

DAPATKAH kita membayangkan bagaimana bumi ini jika tidak ada tumbuhtumbuhan? Planet Mars dan Planet Bulan yang kita ketahui dari penelitian para ahli, ternyata tidak ada tumbuh-tumbuhan yang hidup di sana. Itu sebabnya planet itu panas sehingga tidak ada makhluk hidup yang tinggal di sana. Entah di planet lainnya.

Bersyukurlah kita, planet bumi tempat kita hidup ini penuh dengan tumbuhtumbuhan, dari berbagai jenis pohon, besar mau pun kecil. Dari yang berbuah sampai yang berumbi, dari yang bisa dimakan dan menjadi kebutuhan hidup sehari-hari sampai yang mengandung racun. Bumi ini diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaannya.

Kitab Bhagawad Gita Bab III sloka 14 menyebutkan: Annaad bhavanti bhuutaani, prajnyaad anna sambhavad, yadnad bhavati parjanyo, yadnah karma samudbhavad. “Semua makhluk hidup dilahirkan dari makanan. Makanan dilahirkan dari hujan. Dan hujan turun karena pelaksanaan persembahyangan-persembahyangan suci. Selanjutnya persembahyangan suci yadnya terlahir dari perbuatan.” Terjemahan ini dikutip dari BG: Nyanyian Tuhan oleh Darmayasa. Terjemahan lainnya langsung merujuk tumbuh-tumbuhan seperti: “Makhluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu adalah karma.”

Meski ada sedikit perbedaan dalam penerjemahan Bhagawad Gita, semuanya itu hal yang biasa. Intinya adalah kehidupan ada karena makanan. Mustahil ada makhluk hidup, apa pun jenis makhluk itu apakah manusia, hewan, atau ikan semuanya butuh makanan. Dari mana makanan itu? Ya, dari tumbuh-tumbuhan. Dari mana tumbuhtumbuhan hidup? Dari adanya hujan. Dan hujan itu ada, demikian kata kitab suci, karena ada persembahyangan, ada yadnya. Jadi ibarat lingkaran, Tuhan menciptakan bumi, tumbuh-tumbuhan dan makhluk, kemudian makhluk yang bernama manusia melakukan yadnya sebagai rasa syukurnya dan hewan pun ada yang dijadikan “korban suci” untuk kelangsungan yadnya ini.

Tradisi memuliakan tumbuh-tumbuhan dan hewan sudah berakar jauh sebelum tahun Masehi di lembah Sungai Sindhu, India, di mana agama Hindu berawal. Tradisi ini sejatinya adalah yadnya untuk memuja Tuhan karena telah memberikan sarana untuk berlangsungnya kehidupan. Berabad-abad kemudian tradisi ini lalu “dipatenkan” di Nusantara, khususnya sampai kini, dijaga sebagai warisan ritual agama. Jadilah hari memuja Tuhan atas tersedianya tumbuhtumbuhan itu sebagai Tumpek Wariga dan hari memuja Tuhan atas adanya hewan yang bisa mendukung kehidupan itu sendiri sebagai Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Dan hari ini, Sabtu Kliwon adalah Tumpek Wariga. Juga disebut Tumpek Bubuh lantaran ciri khas sejajen yang dihaturkan ada berupa bubuh (bubur), yakni disebut bubuh gendar. Ada pula yang menyebut Tumpek Pengatag, simbul menyongsong hari raya Galungan.

Para Resi menyebutkan, tatkala Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan maka Beliau menjalankan fungsi sebagai Dewa Sangkara. Karena itu pada Tumpek Wariga ini umat Hindu memuja Dewa Sangkara sebagai manifestasi Tuhan untuk memohon berkah dan kekuatan dalam menjaga tumbuh suburnya berbagai pepohonan, khususnya yang buahnya bisa dipakai yadnya. Di India sendiri ada hari yang disebut Sangkara Puja, hampir mirip karena dalam pemujaan ini berbagai buah dihidangkan sebagai persembahan. Tentu “kemasan luar” dari ritual itu berbeda tetapi “kemasan dalam” sama, yakni memohon tuntunan Tuhan dalam mengembangkan dan melindungi tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan makhluk hidup yang paling utama.

Tentu saja, dalam hal perlindungan ini, kita tak bisa menyerahkan begitu saja kepada Tuhan. Tak bisa kita hanya mengucapkan doa dan mantram maka otomatis tumbuh-tumbuhan yang berbuah dilindungi oleh Tuhan. Kita sendiri wajib melindunginya. Karena itu para leluhur kita di Bali menyusun aturan bagaimana melindungi tumbuh-tumbuhan, terutama pohon yang berbuah dan besar. Aturan itu misalnya ada di dalam Lontar Manawa Swarga. Dalam lontar ini disebutkan siapa menebang pohon tanpa izin raja, maka akan dihukum dengan denda lima ribu kepeng. Bahkan di dalam kerajaan ada jabatan yang bernama Menteri Juru Kayu, tugasnya seperti Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup saat ini, menjaga hutan.

Sampai sekarang di beberapa desa adat ada larangan menebang pohon tanpa izin bendesa adat. Planet bumi ini akan gersang jika tidak kita jaga tumbuh-tumbuhan dan marilah Tumpek Wariga kita jadikan cara menjaga itu. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *