Penggungsi Nunggak Biaya Berobat, RSUD Bersurat ke Gubernur Bali

posbali.id

BULELENG, POS BALI ONLINE – Selama para pengungsi memilih mengungsi di Buleleng, ditengah situasi Gunung Agung yang berstatus Awas dan kini sebagian memilih untuk balik ke kampung halamannya, ternyata masih menyisakan persoalan. Pasalnya, pengungsi yang berobat ke RSUD Buleleng selama mereka mengungsi, ternyata pelunasan biayanya belum jelas. Meski sebagian besar, dibebaskan biaya pengobatan. Tak tanggung-tanggung, tunggakan biaya itu sebesar Rp98.779.165.

Angka itu, dari total sebanyak 112 orang pengungsi yang berobat ke RSUD Buleleng, dimana 27 orang pasien menggunakan fasilitas jaminan kesehatan nasional (JKN), 16 orang pasien merupakan pasien umum yang tidak terdampak langsung dengan status Gunung Agung. 12 orang pasien ditanggung oleh Jasa Raharja. Sisanya sebanyak 61 orang, yang merupakan pasien terdampak langsung dengan status Gunung Agung.

Ternyata 61 orang pasien tersenut, yang masih belum jelas pelunasannya. Sebab, selama ini RSUD Buleleng ternyata tidak memungut biaya pengobatan sepeser pun terhadap pasien yang terdampak langsung dengan status Gunung Agung. Jikapun pembiayaan dilakukan dari APBD, itu tidak akan bisa dilakukan, karena belum berstatus tanggap darurat bencana.

Dirut RSUD Buleng, dr Gede Wiartana mengatakan, besaran Rp98.779.165 itu kini masuk piutang. Menurut dia, piutang itu muncul karena pihaknya menerima surat dari Dinas Kesehatan Pemprov Bali agar membebaskan biaya, bagi pasien warga pengungsi yang terdampak langsung dengan status Gunung Agung. Namun sampai saat ini, masih belum jelas siapa yang akan melunasi biaya itu.

“Waktu ada surat membebaskan biaya itu, memang katanya akan dibayar oleh Pemprov Bali, tapi sampai saat ini belum ada kejelasan. Kami sudah bersurat ke Gubernur Bali yang ditembuskan kepada Bupati Karangasem dan Bupati Buleleng, agar persoalan ini bisa dicarikan solusi,” kata Wiartana.

Hingga saat ini, pihak RSUD Buleleng masih tetap menunggu kepastian terkait dengan pelunasan biaya yang hampir mencapai seratus juta rupiah tersebut. Namun, jika faktanya nanti itu tetap tidak dilunasi, maka piutang tersebut akan tetap muncul sampai dengan tutup tahun 2017. “Kami harapkan, bisa ada solusi terbaik nanti. Supaya menjadi catatan juga persoalan ini,” pungkas Wiartana. 018

 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *