Penerapan GFW dinilai perlu diimbangi upaya pengurangan sampah plastik

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Upaya pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang memerangi ilegal fishing. Dinilai perlu didukung oleh peran serta masyarakat dan industri, salah satunya melalui perang melawan sampah plastik dan mengawasi pencemaran lingkungan. Pasalnya sebagai negara terbesar ketiga penghasil ikan diseluruh dunia, peran serta semua pihak untuk senantiasa menjaga laut dan biota yang ada didalamnya sangat penting adanya. “Negara kita adalah salah satu penghasil ikan terbesar di dunia, tapi sayangnya kita masih kurang memperhatikan itu. Banyak ikan terkena racun, ilegal fishing. Sebagai negara kepulauan yang sangat luas, kita harus bekerjasama dengan baik, baik itu dari pemerintah, masyarakat dan pengusahanya. Kita harus bersama-sama memperhatikan kondisi laut kita,”terang Nadine Chandrawinata Pemerhati Lingkungan Hidup dan aktifis laut usai menjadi salah satu narasumber Oceana Minggu (28/10).

 

Untuk itu ia mengajak masyarakat dan pihak usaha, untuk mendukung usaha pemerintah dalam menjaga sektor laut. Dimana kegiatan aktifitas yang ramah lingkungan perlu digalakkan, sehingga menjadi kebiasaan yang positif. Hal itu bisa dilakukan dengan langsung mempraktekkan, misalnya menjadi traveller peduli lingkungan. Serta mengajak perusahan untuk mengubah produk plastiknya, sehingga bisa mengurangi penggunaan plastik di masyarakat. “Ini merupakan peran penting bagi kita untuk membantu menemukan solusi dari krisis plastik. Kita dapat memulai dengan menolak menggunakan botol plastik, sedotan, dan tas sekali pakai (single-use), tetapi itu bukan hanya tugas kita. Kita harus menuntut perusahaan berhenti memproduksi lebih banyak plastik di negara dan laut kita,”pungkasnya.

 

Sementara Andrew Sharpless selaku Chief Excecutive Officer Oceana mengaku mengapresiasi pemerintah Indonesia, yang menjadi pelopor penerapan aplikasi Global Fishing Watch (GFW). Melalui aplikasi gratis yang dibuat oleh Oceana bekerjasama dengan google dan SkyTruth, Indonesia menjadi negara pertama yang merilis data pelacakan Vessel Monitoring System (VMS) kapalnya melalui data Automatic Identification System (AIS) GFW pada tahun 2017. Hal tersebut diakuinya juga seiring dengan komitmen dari Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti yang berperang melawan ilegal fishing. “Dengan GFW maka 10 tahun lagi tidak akan ada negara yang mancing diam-diam, karena sudah ditrack aplikasi ini. GFW menggunakan data AIS yang dipancarkan secara umum, untuk melacak pergerakan kapal penangkap ikan. Peta GFW akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penangkapan ikan di dunia,”jelas Andrew.

 

Dipaparkannya, jika semua negara berhasil menyelamatkan kondisi lautan, maka kita akan banyak menyelamatkan ikan dan menghasilkan ikan yang banyak. Jadi cara menangkap ikan ini dikelola dan menghentikan kebiasaan yang merusak laut. Indonesia yang sudah mulai memimpin dengan penerapan GFW dinilainya perlu lebih menggalakkannya, dengan gerakan berantas sampah plastik dan melaporkan temuan pencemaran lingkungan.

 

Chief Policy Ofificer Oceana, Jacqueline Savitz menambahkan, selain Ilegal fishing juga banyak merugikan negara-negara. Masih adanya perusahaan yang memakai bahan dasar plastik dinilai ikut andil dalam merusak ekosistem laut. Dimana sampah plastik itu bermuara ke laut, akibat masih adanya kebiasaan masyarakat membuang sampah ke lingkungan. Karena itulah belakangan ini mulai ditemukan sampah plastik yang ada di dalam tubuh penyu dan paus. Untuk itu, jika ingin laut menjadi ingin sehat dan bersih, maka mengurangi produksi plastik dinilainya adalah salah satu upaya menjaga ekosistem laut. “Ini harus distop, termasuk pencemaran juga harus dilaporkan. Melalui aplikasi GFW setiap negara dan perusahaan bisa mengetahui dan mengecek berapa banyak dapat ikan, dengan berat berapa dan dimana dapat ikan. Itu juga bisa dilihat publik secara langsung,”terang Jacqueline.

 

Untuk diketahui, Oceana adalah organisasi advokasi internasional yang berdedikasi sepenuhnya untuk konservasi laut. Oceana tengah berupaya untuk mengembalikan kelimpahan dan keanekaragaman lautan melalui penerapan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan di negara-negara yang menguasai sepertiga tangkapan ikan liar di dunia. Oceana telah berhasil memperjuangkan lebih dari 200 kebijakan yang bertujuan untuk menghentikan penangkapan ikan secara berlebihan, perusakan habitat, polusi dan pembunuhan spesies yang terancam punah seperti kura-kura dan hiu. Dengan memulihkan lautan maka satu miliar orang di dunia dapat menikmati makanan laut yang sehat setiap harinya, untuk selamanya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!