Pemerintah Dorong Pemanfaatan Plastik Sebagai Bahan Dasar Campuran

Tangani Sampah di Laut, Perlu Kerja Sama Regional

 

Gede Adi Yuliantara

IMPLEMENTASI inovasi dengan campuran bahan dasar sampah, seperti penggunaan aspal yang bercampur plastik terus didorong oleh pemerintah pusat.

Sebab dengan memasukkan inovasi tersebut secara masif dan terstruktur, maka akan membantu penyerapan sampah plastik.

“Di Bekasi kita akan coba aspal bercampur dari sampah plastik sepanjang dua kilometer (KM). Dari kunjungan kita ke UGM juga pernah dibuat inovasi membuat batu bata tahan gempa yang dicampur plastik, ini yang coba kita jajagi. Sebab larutannya lebih tinggi, tidak berpori-pori, sehingga mantenecenya lebih mudah dan biaya produksinya lebih murah sekitar enam persen. Jika ini dilakukan sscara masif ini bisa menjadi juga,” papar Deputi Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman, Arief Havas Ugroseno, ditemui Senin (4/9) di sela-sela acara Marine Plastic Week.

Langkah tersebut, diakuinya, merupakan upaya pemerintah untuk menanggulangi permasalahan sampah plastik. Bahkan, jika dikelola dengan baik sampah plastik tersebut bisa menjadi energi tambahan (waste to energy) melalui pemilahan sampah dan pemprosesan sampah. Sampah tersebut bukan hanya sampah plastik saja, tapi juga sampah lainnya.

“Dulu waste to energy sudah pernah ada di Indonesia, tapi digugat oleh LSM. Katanya tidak bagus untuk lingkungan hidup dan mulai ditinggalkan negara maju. Tapi di Norwegia, Denmark, Finlandia dan Swedia itu dipergunakan, bahkan ada yang mengimpor sampah. Setelah itu muncul lagi pendapat yang kecenderungan itu dilakukan negara Eropa, mereka bilang orang Eropa beda dengan Asia. Tapi di Singapura itu sudah ada lima unit dan Jepang juga sudah ada,” bebernya.

Melalui Marine Plastic Week yang dilakukan, pihaknya ingin membuat suatu platform, di mana industri yang ingin membuat proyek mengenai sampah plastik laut itu bisa mempunyai koneksi dan partner di Indonesia, agar lebih memahami apa yang harus dilakukan di berbagai kawasan, termasuk di Indonesia. Kendati permasalahan pengelolaan sampah telah menjadi kewenangan pengelolaan kabupaten, namun anggarannya kadang tidak mencukupi. Sehingga, standar pengelolaan sampahnya belum memenuhi standar dunia dan selalu ada kesenjangan. Hal tersebut bisa dilihat dari koleksi sampahnya tidak bagus, sorting pemilahannya tidak bagus dan treatmennya juga tidak bagus. Sehingga, banyak sampah yang tidak bisa diolah dan bocor ke sungai maupun laut.

Hal itu menjadi masalah, karena dimakan ikan dan di beberapa kawasan menyebabkan sumbatan yang memicu banjir. “Bahkan, hal itu menjadi sampah kiriman dan membuat wisatawan komplin. Jika itu tidak tertangani maka akan membuat pengaruh kepada sektor pariwisata kita. Karena itu, nanti akan ada beberapa skup kegiatan, yaitu edukasi, saling sharing informasi mengenai kegiatan yang dilakukan. Mana yang bisa dikerjasamakan nantinya, kita juga ingin membuat pilot project di lima tempat yang masuk destinasi pariwisata lainnya,” jelasnya.

Melalui penelitian tersebut, pihaknya juga ingin mengetahui berapa jumlah sampah yang ada di laut. Dari penggunaan plastik per tahun sejumlah 4,5 juta ton, pihaknya ingin mengetahui berapa juta ton sampah plastik yang terkelola dan yang tidak terkelola, serta menjadi sampah plastik di laut. Sebab selama ini, ketika ditanya berapa jumlah sampah plastik yang ada di laut, hal itu hanya dijawab dengan perkiraan saja dan tidak ada data analisisnya.

“Karena itu, kita ingin gambaran yang clear berapa sampah ini. Kita pernah melakukan riset dengan Universitas Padjajaran, di pulau kosong di utara Banten yaitu Pulau Biawak. Dari lima botol plastik yang terdampar di Biawak, ada dua yang datang dari Asia Selatan. Itu artinya ada komponen sampah plastik yang berasal dari luar negeri,” tuturnya.

Melalui kesempatan tersebut, ia berharap apa yang dilakukan Indonesia bisa direplikasi di negara lain. Sebab jika Indonesia sukses membentuk penanganan sampah nasional, tapi sampahnya ada dari negara lain tentunya akan menjadi percuma. Untuk itulah, diperlukan kerja sama regional yang mampu menangani masalah sampah di laut secara bersama.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *